Mohon tunggu...
sintamilia rachmawati
sintamilia rachmawati Mohon Tunggu...

Books Lover. Social-Media Addict. Writer. Person Behind The Scene. Self-Development Enthusiast. Businesswoman Wanna-Be. http://duniasinta.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Kerlip Cahaya (Bagian 4)

21 Juli 2011   15:53 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:29 0 0 0 Mohon Tunggu...
Kerlip Cahaya (Bagian 4)
13112707571405765370

KARENA HATI ITU ADA

Adhel menemani sahabatnya, Chyntia, berbelanja di sebuah butik. Chyntia sibuk memilih-milih baju sementara Adhella duduk bersandar di sofa tak jauh dari situ. Pandangan mata Adhel tertuju pada sudut butik, dimana ia dan Tama pernah memilih-milih baju bersama. Bayangan itu begitu nyata. Adhel bisa melihat dirinya dan Tama di sana.

“Bagus ga, Dhel?” tanya Chynthia membuyarkan lamunan Adhel. Adhel menoleh ke arah baju yang ditunjukkan Chynthia.

“Bagus..” jawabnya singkat, lalu mengarahkan pandangannya lagi ke sudut. Membayangkan betapa bahagianya dulu ia bersama Tama. Ia merindukan masa-masa itu.

“Kalau yang ini?” tanya Chyntia lagi. Adhel menoleh lagi.

“Bagus..” jawab Adhel tanpa semangat. Chynthia mulai agak kesal.

“Kalau yang ini gimana?”

“Dua-duanya bagus, kok..” jawab Adhel tak peduli.

“Ckck. Salah nih gue ngajak lo ke sini. Semuanya dibilang bagus,” Chintya menggerutu. Adhel yang sudah agak kesal karena Chynthia mengganggu lamunannya, kini kesal sungguhan.

“Ini butik, Chynthia. Gak logis kalau lo masih nyari-nyari mana yang bagus. All of these clothes here are well-made!”

Mendengar intonasi Adhel yang mulai naik, Chyntia berhenti memilih baju lalu duduk di sebelah Adhel. Ia berkata dengan suara pelan penuh kesabaran,

“Adhella sayang, di dunia ini tuh ga semua hal bisa pake pertimbangan akal sama logika. Karena itu ada ada sense, feeling, hati..” ucap Chyntia sambil menyentuh hati Adhel.

Adhel terdiam.

Wahai hati, bantulah aku mengambil keputusan. Sampai kapan engkau akan terus bimbang?Apakah yang harus aku lakukan pada Tama?

“Dhel?” sahut Chyntia bingung melihat mata Adhel yang tiba-tiba berkaca-kaca. Adhel tidak sanggup menjawab. Ia mulai terisak. Chyntia segera menarik tangan Adhel menuju mobil. Tidak mungkin kan ia membiarkan Adhel menangis menjadi tontonan pengunjung butik?

“Adhel kamu kenapa?” tanya Chyntia begitu mereka berdua ada di mobil. Ia mengambilkan tissue dan memberikannya pada Adhel. Adhel tertunduk, berusaha menguasai diri agar bisa menjawab.

“Tama, Chyn..” Adhel terisak lagi.

“Tama kenapa?”

“Tama sakit...” jawab Adhel pedih. Suaranya nyaris tak terdengar.

“Sakit apa?” Chyntia semakin bingung. Terakhir kali ia melihat Tama kemarin masih sehat-sehat saja.

Hemofilia,” jawab Adhel setelah susah payah menenangkan diri. Ia menatap Chyntia. “Ada kelainan genetik dalam darahnya yang membuat darahnya sulit berhenti kalau dia terluka,”

Chyntia shock.

“Dia ga boleh beraktifitas berlebihan, karena bisa-bisa dia pendarahan internal... Dia harus transfusi dua minggu sekali... Kalau dia terluka atau kecelakaan, harus di treatment khusus.. Kalau enggak, dia bisa cacat seumur hidup, atau yang lebih parah...” Adhel tidak sanggup meneruskan. Chyntia memeluknya erat, tak tahu harus bicara apa. Adhel kembali menangis. “Gue ga mau kehilangan Tama, Chyn... Gue ga bisa...” tangis Adhel. Chyntia ikut menangis bersamanya.

***

Bersambung...

(Catatan: Cerpen ini diadaptasi dari skenario dan film Flickering Light oleh Bicky Perdana Putra. Flickering Light yang diproduksi oleh 89 Project dapat diunduh di sini)