Mohon tunggu...
Sindy RizkyPrisila
Sindy RizkyPrisila Mohon Tunggu... Mahasiswa - Psychology enthusiast

Sindy adalah mahasiswi Universitas Negeri Jakarta yang suka melakukan kegiatan volunteering dalam bidang psikologi dan literasi.

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Paradigma dan Disgrafia: Anak dengan Cara yang Berbeda dalam Proses Menulisnya

5 Juli 2021   23:20 Diperbarui: 5 Juli 2021   23:53 103 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Disgrafia sebagai salah satu kesulitan belajar (learning difficulties) yang bisa terjadi kepada siapa saja mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang. Tidak menutup kemungkinan di luar sana masih ada orang yang tidak tahu jika disgrafia masuk ke dalam salah satu kesulitan belajar bersama disleksia dan diskalkulia dalam DSM-5 perihal kriteria diagnostik gangguan belajar spesifik.

Menurut Santrock dalam Sa'adati dan Imadatus (2015), definisi disgrafia ialah kesulitan belajar yang ditandai dengan adanya kesulitan dalam mengungkapkan pemikiran dalam komposisi tulisan. Secara umum disgrafia digunakan untuk penyebutan anak-anak dengan tulisan tangan yang sangat buruk. Kemungkinan yang terjadi kepada anak dengan disgrafia yakni banyaknya kesalaha ejaan dalam tulisan, tulisan sangat tidak terbaca ataupun menulis dengan sangat pelan namun dengan hasil yang kurang jelas bentuknya.

Kemudian, menurut Santrock, (2004) dalam Rahmawati dan Alvina, (2019) disgrafia ditandai dengan ketidakmampuan dalam belajar yang mempengaruhi kemampuan menulis yang diperlihatkan anak-anak dalam mengeja, miskin kosakata, kesulitan menuangkan pikiran untuk dituliskan di atas kertas.

Sementara itu terdapat sebuah pendapat menarik dari seorang guru pembimbing khusus sekaligus terapis bernama Pak A yang menjadi guru di berbagai sekolahan tempatnya bekerja. Ia berpendapat bahwa anak dengan disgrafia bukannya terhambat dalam proses membacanya melainkan anak disgrafia memiliki "cara yang berbeda dalam proses menulisnya." Apa yang dimaksud dengan pendapat Pak A ialah banyak paradigma mengenai anak dengan disgrafia yang mengartikan bahwasannya mereka mengalami kesulitan dalam membaca. Tentu saja paradigma ini diupayakan untuk diluruskan oleh Pak A agar orang-orang tidak salah kaprah.

Pembahasan ini berkaitan dengan seorang siswa SD kelas 2 berinisial A yang bersekolah di salah satu tempat Pak A bekerja. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak A, pada mulanya siswa A mendapatkan diagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan disleksia dari salah satu ahli di rumah sakit daerah Jakarta. Hingga akhirnya penyerta kesulitan belajar disgrafia teridentifikasi melalui tes pendamping IQ oleh para pedagog sekolahan (dimana seharusnya ditindaklanjuti oleh ahli seperti psikolog/psikiater).

 

"A juga mengalami kesulitan dalam proses menulis gitu. Meskipun tidak semua anak disleksia itu mengalami hambatan disgrafia atau diskalkulia gitu. Nah kebetulan A mengalami kedua itu, ada disleksia, ada disgrafia juga," Pak A menjelaskan dalam wawancara secara daring.

Kemudian apa penyebab munculnya kesulitan belajar disgrafia? Menurut Fadhil, (2010) dalam Rahmawati dan Alvina, (2019) Munculnya disgrafia umumnya disebabkan oleh faktor neurologis yaitu kelainan yang menghambat kemampuan menulis baik secara fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan benar ataupun tulisan tangannya buruk (Fadhli, 2010).

Selain itu, menurut Lerner, (2000) dalam  Rahmawati dan Alvina, (2019) terdapat tujuh faktor penyebab disgrafia, yakni; 1) gangguan motorik anak, 2) gangguan perilaku yang dialami anak, 3) gangguan persepsi pada anak, 4) gangguan memori, 5) gangguan tangan pada anak, 6) gangguan anak pada saat memahami instruksi, 7) gangguan kemampuan melaksanakan cross modal 

Kemudian apa yang ditemukan di lapangan mengenai disgrafia yang dialami siswa A sendiri ialah sebuah dugaan sementara. Yakni karena siswa A lahir secara prematur. Karena menurut Pak A sendiri masih banyak penyebab lainnya terutama dalam proses prenatal, natal dan postnatal yang juga harus dikaji secara mendalam.

Apa yang harus dilakukan ketika seorang anak terdiagnosis disgrafia? Terdapat 15 jenis kegiatan yang dapat dilakukan untuk melatih anak dengan disgrafia, yaitu aktivitas menggunakan papan tulis, bahan lain untuk melatih gerakan menulis, berlatih cara memegang pensil, posisi menulis, kertas, metode menjiplak, menggambar di antara dua garis, kertas stensil atau karbon, titik-titik, menjiplak dengan semakin dikurangi, buku bergaris tiga, kertas dengan garis pembatas, memperhatikan tingkat kesulitan penulisan huruf, bantuan verbal, serta kata dan kalimat (Adurrahman, 1998 dalam Suhartono, 2016).

Disamping itu Pak A sendiri melakukan upaya untuk melakukan konseling terhadap orangtua siswa untuk tidak gusar dan tetap fokus dalam mendukung tumbuh kembang siswa A baik secara psikologis maupun fisik. Pak A dalam proses belajar siswa A mengupayakan keterlibatan orangtua secara langsung namun tidak juga terus memberikan perlakuan khusus yang berlebihan. Pak A yakin sekali bahwa perlakuan khusus akan membentuk perilaku khusus terhadap anak yang belum tentu dampaknya baik. Sehingga anak diupayakan untuk bisa belajar secara mandiri untuk kemudian dievaluasi setiap  perkembangan belajarnya.

Pada akhirnya kesulitan belajar bukanlah jalan buntu bagi seorang anak yang mendapatkan diagnosis ahli. Anak dengan kesulitan belajar oleh karenanya dianggap memiliki cara yang berbeda dalam proses menulisnya dan bisa terus membaik seiring dengan bimbingan orang terdekat dan ahli di bidangnya. Sangat penting sekali untuk mengenal disgrafia sebagai sebuah kesulitan belajar guna menghindari diagnosis salah tanpa memperhatikan kriteria yang muncul di permukaan terlebih dahulu. Pada hakikatnya, setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak tidak peduli anak itu memiliki kesulitan belajar ataupun tidak.

 

Sumber:

 

A. Rahmawati, R. Alvina. 2019. Penerapan Metode Guide Writing Untuk Meningkatkan   Kemampuan Menulis Pola Dasar Pada Anak Disgrafia. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. Kediri.

Suhartono. 2016. Pembelajaran Menulis Untuk Anak Disgrafia di Sekolah Dasar. UPBJJ-UT Semarang. Semarang.

T. Imadatus. 2015. Intervensi Psikologis Pada Siswa Dengan Kesulitan Belajar (Disleksia, Disgrafia Dan Diskalkulia). Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri. Kediri.

Wijaya. E. (2020). Identifikasi dan Intervensi Gangguan Belajar Spesifik Pada Anak. Jakarta. Damianus: Journal of Medicine. Vol. 19 No. 1. Hal. 70-79

Mohon tunggu...

Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan