Mohon tunggu...
Sindi Fatika Sari
Sindi Fatika Sari Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku

Menulis, merupakan cara saya untuk menyampaikan apa yang tidak bisa disampaikan lewat lisan. Bagi saya, menulis menjadi sebuah cara untuk mengabadikan apa yang sudah Allah gariskan dalam kehidupan. Jika Allah mengizinkan saya untuk menjadi penulis di website kompasiana ini, in syaa Allah, saya akan fokus pada topik self-improvement dan religi.

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Healing, Malah Bikin Pening? Kenali Penyebabnya!

1 Juli 2022   13:10 Diperbarui: 1 Juli 2022   13:18 58 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Bismillaahirrahmaanirrahiim ....

Allaahummaa sholli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad ....

Self healing. Ya, dua kata yang sudah tak terdengar asing akhir-akhir ini. Dua kata yang sering dijadikan takarir dalam unggahan sosial media dengan latar belakang: gunung nan cantik, kebun teh yang menghampar indah, pantai dengan ombak yang memesona, restoran yang nampak berkelas, jalanan kota yang ramai, atau derasnya air yang mengalir di setiap celah bebatuan. Keindahan-keindahan itu, pada umumnya membuat sebagian manusia merasakan bahwa itulah cara self healing terbaik yang harus dilakukan untuk kembali menstabilkan kondisi badan.

Namun, pada beberapa kondisi, ada sebagian manusia yang malah mengeluh setelah mereka melakukan self healing yang katanya menyenangkan itu. Seperti kepala pusing, nominal dalam rekening yang berkurang drastis atau bahkan hingga ludes, anggota badan terjerat pegal-linu karena saking exited-nya, atau hal lainnya. Lantas, apa saja faktor yang menyebabkan self healing berakhir pening?

Bismillaah, kita bahas bersama, yuk!

Pertama, terlalu mengikuti tren. Tunggu, bukan untuk melarang, ya ... kita boleh, kok, mengikuti perkembangan zaman. Namun, jangan terlalu berlebihan, ya. Misalnya, ada sebuah tempat yang sedang booming diperbincangkan di dunia maya ataupun dunia nyata. Semua kalangan hampir ke sana untuk melepas lelah dan mencari ketenangan. Sekarang, kita posisikan diri kita sebagai orang yang jauh dari tempat itu. Nah, jangan karena ingin mengikuti tren, kita rela melakukan perjalanan jauh, yang mana, karena itu kita bukannya mendapat raga yang bugar, malah semakin lelah. Jadi, jika mau mengikuti tren, ada baiknya, kita lihat situasi dan kondisi kita masing-masing.

Kedua, terlalu lama menikmati. Menikmati desir angin di pantai memang begitu menenangkan. Menikmati kudapan sedap yang disuguhkan di sebuah restoran memang mampu membuat perut kenyang. Menikmati embus angin di perjalanan memang mampu menyegarkan anggota badan. Menikmati masa yang lengang memang dibutuhkan oleh setiap orang. Akan tetapi, tidak baik jika terlalu lama menikmatinya. Dikhawatirkan, hal itu bisa membuat kita terlena akan kenikmatannya. Pada akhirnya, kita akan semakin berat untuk beranjak dari apa yang sudah kita lakukan. Kita semakin berat untuk bergegas kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Atau, dikarenakan hal yang menyenangkan itu sudah membuat kita candu, kita rela menyisihkan nominal rupiah yang banyak untuk melakukannya lagi di lain hari.

Ketiga, melupakan hal yang sederhana. Sebentar, adakah secangkir kopi di hadapanmu? Adakah suara gemericik air yang mengalir dari pipa rumahmu? Adakah kau rasakan embus angin di bawah rimbunnya pepohonan di samping rumahmu? Masihkah kau mencium bunga harum yang tumbuh di jalanan? Masihkah kau membuat masakan yang membuat keluargamu bersemangat melakukan aktivitas? Masihkah kau hidupkan harimu dengan apa yang kau sukai?

Jika kau masih melakukan itu; jika kau masih merasakan itu, maka bersyukurlah ... itu bisa menjadi cara sederhana yang dampaknya luar biasa untuk ragamu. Bukankah hal yang membuat hati riang, tak melulu tentang nominal rupiah yang besar atau bahkan dalam satuan dolar? Bukankah kesederhanaan itu juga mampu membuatmu menikmati hari-harimu? Harusnya kita bersyukur jika masih bisa 'melakukan dan merasakan' itu semua. Sebab, kita tak perlu bersusah payah mencari kebahagiaan di luar yang kita belum tahu apa yang akan kita rasakan selepas melakukannya.

Bukan, kok! Bukan sebuah larangan untuk bepergian ke luar. Hanya saja, jika kita sudah mampu merasakan bahagia di sekitar kita, mengapa kita menyia-nyiakannya? Bukankah itu akan membuat isi dompet aman, isi rekening aman, raga tak keletihan dan in syaa Allah, tak akan banyak menyita waktu kita.

Keempat, tidak mendapat rida orang tua. Loh, ini bukan mau menikah, kok, harus pakai rida orang tua? Kok, ribet amat! Orang mau senang-senang, kok! Hei, iya memang kita ingin bersenang-senang ... tetapi, jangan pernah lupakan hal penting yang satu ini. Kita sudah paham, 'kan, jika rida Allah itu ada pada rida orang tua? Maka, sebelum kita melakukan healing, pastikan sudah mendapat izin dari mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan