Mohon tunggu...
Simon Sutono
Simon Sutono Mohon Tunggu... Impian bekaskan jejak untuk sua Sang Pemberi Asa

Nada impian Rajut kata bermakna Mengasah rasa

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

(1) Menghitung Rahmat: Selamat Jiwa karena Beasiswa

27 Februari 2021   23:33 Diperbarui: 22 Maret 2021   00:14 129 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
(1) Menghitung Rahmat: Selamat Jiwa karena Beasiswa
Sumber gambar: halifaxpubliclibraries.ca/

Kalaupun dicari siapakah orang yang beruntung di dunia ini. Saya bisa mengklaim sebagai salah satu diantaranya. Keberuntungan saya tidak terlepas dari kesempatan melanjutkan pendidikan sampai jenjang yang tidak saya sangka bisa saya ikuti yang karena satu hal ini: beasiswa.

Dibesarkan sebagai anak terkecil dari lima anak, satu hal yang tidak bisa dihindarkan adalah mendapatkan limpahan barang-barang layak pakai yang sebelumnya digunakan oleh kakak saya termasuk untuk urusan persekolahan seperti seragam dan buku-buku.

Tentu saya tidak bisa menolak. Untuk mendapatkan yang baru hampir mustahil karena semua dalam masa sekolah di tengah penghasilan orang tua yang tidak menentu.

Dalam kondisi seperti ini, menjelang lulus sekolah menengah pertama kegamangan terjadi karena tidak jelas akan meneruskan ke sekolah lanjutan atas yang mana.

Alhasil sekalipun dengan prestasi akademik yang cukup baik, tidak lantas saya bisa melenggang dan memilih sekolah. Orang tua pun seolah-olah menganggap raihan saya yang selalu tertengger di peringkat satu kelas dan lulusan terbaik sebagai hal biasa.

Hal yang tidak biasa tiba ketika utusan biarawati katolik yang tinggal di susteran sekitar gereja datang dan meminta saya menemuinya. Pertemuan inilah yang menjadi titik awal fase hidup saya.

Saat saya datang beliau sedang menyetrika pakaian dan mengajak ngobrol tentang kelanjutan studi saya. Mengetahui bahwa saya berprestasi maka meluncurlah perkataan ini dari mulut beliau, "Sayang sekali dengan prestasimu, ya. Prestasi seperti itulah yang dibutuhkan untuk calon-calon pastor." Ungkapan itu pulalah yang mengawali jalan kehidupan saya selanjutnya menapaki pendidikan seminari menengah dan membuka jalan mengunjungi Bandung untuk pertama kalinya.

Dari kaki gunung Ciremai saya tengah malam naik 4848, satu-satunya travel saat itu, pergi menuju kota Bandung. Berbaju batik terbaik, memakai celana panjang putih dan sepatu pantopel lancip model Aladin milik ayah, saya menikmati lampu jalanan dan kelap-kelip lampu di kejauhan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Mengingat pengalaman, bibir ini menyunggingkan senyum membayangkan tanggapan orang melihat tampilan saya.

Memang begitulah, itu pertama kali saya bepergian ke kota besar. Jangankan ke Bandung, bepergian ke kota Kuningan saja bagi kami, warga desa, pasti menyempatkan berganti pakaian dengan baju terbaik. "Rek ka kota... mau ke kota," jawab kami dengan nada penuh kebanggaan ketika ada yang bertanya.

Di pagi yang sejuk kendaraan travel tiba di salah satu biara. Setelah menikmati sarapan yang disediakan, saya dipesankan becak sementara biarawati yang mengantar naik sepeda menuju ke salah satu sekolah katolik di Bandung tempat para seminaris berbaur dengan siswa lainya mengikuti kegiatan persekolahan. Tujuannya untuk membeli formulir pendaftaran. Ketika urusan sudah selesai, saya tidak tegas menjawab ketika ditanya perihal kepulangan saya ke Kuningan.

Memang begitu adanya. Saya tidak paham ketika ditanya terminal dan bus kota. Maka biarawati yang mengantar saya meminta bantuan salah satu siswa yang belakangan saya ketahui sebagai pengurus OSIS untuk mengantar saya ke terminal Cicaheum dengan motornya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x