Mohon tunggu...
Siman
Siman Mohon Tunggu... Guru - Tidak Ada Kata Terlambat untuk Belajar, Setiap Langkah adalah Ibadah

Guru

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Menjaga Ikhlas dengan 5 H

14 April 2022   23:03 Diperbarui: 15 April 2022   05:16 952
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar fimela.com

Pernahkah bapak/Ibu melakukan aktivitas secara totalitas untuk memberikan yang terbaik kepada orang lain, tetapi tidak mendapat apresiasi? Bahkan malah sebaliknya mendapat ejekan atau cemoohan. Seperti peribahasa " Air susu dibalas air tuba," sebuah kebaikan dibalas dengan keburukan.

Namun tahukah? hal itu merupakan ujian keikhlasan. Ikhlas adalah kunci keberhasilan sebuah amal. Menurut Imam al-Ghazali, "Semua manusia akan rugi, kecuali orang-orang yang berilmu. Orang berilmupun akan rugi, kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Dan orang beramalpun akan rugi kecuali yang ilkhlas dalam beramal,"

Ya, "ikhlas" satu kata yang mudah diucapkan tetapi perlu perjuangan. Singkat kata,  ikhlas itu dipuji tidak tinggi hati dimaki tidak sakit hati. 

Menurut Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ikhlas berarti bersih hati, tulus hati. Sedangkan Hamka  memaknai ikhlas itu bersih dan tidak ada campuran. Ibarat emas, ikhlas adalah emas yang tulen, tidak ada campuran perak sedikit pun. Pekerjaan yang bersih pada sesuatu itu berarti ikhlas.

Salah satu hikmah bulan ramadhan adalah mendidik kita untuk ikhlas. Sudah banyak pembahasan  masalah amalan yang baik untuk dilakukan pada bulan ramadhan, tetapi amalan itu agar bernilai ibadah maka harus dilakukan dengan ikhlas.

Selanjutnya, mari kita mencoba memahami makna ikhlas.

Untuk memaknai ikhlas ada orang yang membuat analogi ikhlas dengan gula dan akar.

Apa komentar seseorang yang memesan secangkir kopi yang ditambahkan gula? Biasanya orang itu akan berkomentar, "kopi ini mantap, manis...," tetapi sadarkah yang menyebabkan kopi mantap dan manis itu tidak lain karena telah ditambahkan gula.

Ketika sesorang memesan secangkir teh yang ditambahkan gula, ia akan berkomentar  "sungguh manisnya teh ini...," dan tidak ada yang mengatakan, "sungguh manisnya gula ini...," bukan gula yang dipuji. 

Intinya bukan gula yang dipuji, padahal gulalah yang telah menyebabkan kopi dan teh menjadi manis.betapa mulianya gula. Ia tidak sakit hati walaupun tidak pernah dipuji dan disanjung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun