Mohon tunggu...
Silvester Detianus Gea
Silvester Detianus Gea Mohon Tunggu... "Menulis untuk mengingat, merawat, dan mengabadikan." [Silvester D. Gea]
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (YAKOMINDO, 2017), Menulis buku berjudul "Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias" (YAKOMINDO, 2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Maraknya Pengaburan Sejarah

10 Juni 2019   20:53 Diperbarui: 10 Juni 2019   20:59 936 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Maraknya Pengaburan Sejarah
Thomas Matulessy (Julukan: Kapitan Pattimura)


Thomas Matulessy (Julukan: Kapitan Pattimura)

Thomas Matulessy atau dikenal dengan nama Kapitan Pattimura lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783. Ia seorang penganut agama Kristen Protestan. 

Menurut Ahli waris pemegang surat pengangkatannya sebagai pahlawan nasional, Thomas Matulessy tidak menikah sehingga yang melanjutkan keturunan abangnya, Johannis Matulessy. Hingga kini keluarga ahli waris adalah penganut Kristen Protestan.

Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara mengatakan bahwa nama asli Pattimura adalah Ahmad Lussy (Mat Lussy). Menurutnya, Pattimura beragama Islam.

Namun (anak buyut Thomas Matulessy), Marcellina Matulessy dan Albert Matulessy, yang berkarir sebagai seorang polisi pernah membantah klaim Ahmad Mansyur Suryanegara. Marcellina Matulessy dan Albert Matulessy menunjukkan dokumen-dokumen dan silsilah keluarga Thomas Matulessy yang menganut agama Kristen Protestan.

Namun Ahmad Mansyur Suryanegara tidak memberi tanggapan atas data yang diberikan oleh anak buyut Thomas Matulessy, sehingga beberapa kalangan menilai Ahmad Mansyur Suryanegara tidak memiliki sikap seorang ilmuan sejati.

Tidak dapat dipungkiri bahwa belakangan ini banyak orang yang berupaya mengaburkan sejarah, sehingga umat dari agama tertentu terkesan tidak memiliki andil dalam memerdekakan bangsa Indonesia.

Selain Pattimura yang diklaim sebagai seorang islam, beredar pula klaim bahwa Wage Rudolf Supratman yang diklaim beragama Islam (aliran Ahmadiyah). Padahal Wage Rudolf Supratman (WR Soepratman) adalah seorang penganut agama Katolik yang taat.

Selain itu, KH. Fahmi Basya juga mengklaim bahwa Candi Borobudur adalah milik umat Islam karena merupakan peninggalan nabi Sulaiman. KH. Fahmi Basya yang berprofesi sebagai dosen Matematika UIN Syarif Hidayattullah Jakarta menerima kritikan dari berbagai pihak karena klaimnya dinilai ahistori.

Referensi

-M. Sapija, Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia (1960), hlm. iii, 35.
-J.B. Soedarmanta, Jejak-jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2007), hlm. 199.
-Arya Ajisaka, Mengenal Pahlawan Indonesia, (Jakarta: Kawan Pustaka, 2008), hlm. 9.
-David Matulessy, Pattimura-Pattimura Muda Bangkit Memenuhi Tuntutan Sejarah (1979), hlm. 70
-Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah Volume I (2009) hlm. 200.
-Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional, Volume 1-2, 1983:53.

VIDEO PILIHAN