Mohon tunggu...
Estri shinta
Estri shinta Mohon Tunggu... Akuntan - Penulis kambuhan, mari berbagi kata dan sapa

Salam hangat, sahabat Kompasiana! Selamat datang di beranda saya. Jangan ragu untuk berbagi komentar, kritik, ataupun saran. Harap maklum jika isinya campur-campur, persis pemiliknya yang random, 😍. Salam kenaaal, πŸ™πŸ™

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Esensi Waktu: Demi Masa

23 September 2023   20:23 Diperbarui: 23 September 2023   20:25 85
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tak terasa, waktu terus berjalan tanpa henti. Hari berganti hari, dan tanpa saya sadari tahun berganti dengan cepatnya. Anak yang dulunya saya timang-timang, nyaman dibuaian pun telah tumbuh menjadi dewasa. Sekejap saya bertanya, mengikuti dunia yang terus berputar ini, apakah saya telah mengoptimalkan waktu yang saya miliki dengan baik? Padahal sadar betul saya, bahwa waktu yang saya punya pun tak banyak, semua manusia pasti ada limit kredit nyawanya bukan? Dan hal itu akan habis bila masanya telah tiba. Β 

Dan sayapun mulai merenungkan tentang waktu. Saya temukan bahwa definisi waktu menurut pemahaman saya bukanlah sekadar jam, menit, atau detik. Sejatinya yang dimaksud dengan waktu adalah manfaat apa yang bisa kita berdayakan di dalamnya, apa yang bisa kita upayakan sehingga kesempatan hidup yang diberikan kepada kita akan bermakna. Inilah esensi waktu yang mulai saya pahami.

Mari kita bercermin dari sosok besar di sekeliling kita. Karena saya muslim, tentu saja yang menjadi panutan dan tauladan saya adalah nabi Muhammad SAW. Atau sosok dalam skala nasional misalnya, sosok inspiratif seperti Wali Songo, Gus Dur atau manusia pilihan lainnya. Mari kita renungkan bersama. Secara fisik beliau-beliau itu sudah tiada, sudah meninggal. Tubuh mereka sudah menyatu dengan tanah.

Bahkan nabi Muhammad SAW yang telah berpulang sejak 12 Rabi'ul Awal tahun 11 Hijriah (atau jika dihitung dengan kalender Masehi meninggal tanggal 8 Juni 632 Masehi), jika dhitung sampai dengan hari ini berarti sudah 1.391 tahun yang lalu. Seribu tiga ratus sembilan puluh satu tahun yang lalu, bayangkan! Ribuan tahun lalu, loh! Namun, namanya masih diagung-agungkan oleh milyaran manusia sampai saat ini. Jejak kehidupannya masih ditauladani turun temurun sampai sekarang. Dengan demikian, bisa saya katakan bahwa 'waktu' nabi Muhammad masih ada sampai detik ini, tidak pernah habis. Beliau masih terus eksis meskipun beliau sudah meninggal ribuan tahun yang lalu!

Atau jangan nabi deh, khawatir ketinggian ,

Yang skala nasional saja, sosok inspiratif Wali Songo dan Gus Dur misalnya. Meski jantung mereka telah berhenti berdetak, warisan kebaikan dan manfaat yang mereka berikan masih terus membawa keberkahan bagi masyarakat di sekitarnya. Coba kita lihat, makam mereka terus dikunjungi oleh peziarah sepanjang tahun, dan hal ini memiliki dampak yang signifikan bagi penghidupan UMKM di sekitarnya. Jutaan orang terbantu dan roda ekonomi setempat terus berputar berkat kunjungan para peziarah. Ada banyak penghidupan yang tertolong di sekitarnya. Benar, beliau-beliaunya sudah meninggal. Akan tetapi waktu yang beliau punya masih terus berjalan sampai detik ini. Keberadaannya masih bisa kita rasakan.

Seperti itulah esensi waktu yang saya pahami.

Kita tak perlu sebesar Wali Songo ataupun Gus Dur, apalagi nabi Muhammad SAW, waah.. ketinggian. Tetapi minimal jadilah bermanfaat untuk diri sendiri dan keluarga, lebih besar lagi untuk negara dan agamamu. Kita masih memiliki detak jantung, sehat, masih diberikan kesempatan hidup, seharusnya menjadi modal sumber daya yang sangat berharga. Ini menjadi kredit point yang diberikan Allah SWT dan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.

Banyak loh, saya lihat belakangan ini. Manusia masih bernapas tapi waktunya sudah tidak ada alias mati. Orangnya sih masih ada, masih hidup, masih bisa mondar-mandir, bisa rebahan atau scroll Tik-Tok, tapi hidupnya tak bermakna, tanpa progress, tanpa perbaikan, hari-harinya terlewat tanpa manfaat, dan dia fine-fine saja dengan pola hidup seperti itu. Miris!

Supaya waktu tak terbuang percuma, berikut saya rangkum beberapa tips untuk memanfaatkan waktu dengan bijaksana :

Β 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun