Mohon tunggu...
Sihar Emry
Sihar Emry Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasianer

Alumnus Program Wajib Belajar 9 Tahun

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Biografi Lelaki

4 November 2021   16:15 Diperbarui: 4 November 2021   16:43 109 6 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
(ilustrasi | dokpri)

jalasveva. perempuan anggun yang mewujud dari aroma pala di selatan banda. musim membawanya ke halaman enam puluh lima buku biografi seorang lelaki bermata cokelat teduh

jalasveva dan lelaki bertemu di satu sore pada halte di tengah kepungan gerimis yang turun tipis-tipis. masing-masing hening dalam riak-riak isi kepala menunggu datang bus transkota berwarna jingga

selang beberapa kejap gerimis usai berganti dingin. malam pelan-pelan merekah tapi bus tak jua tiba. keduanya saling tatap tanpa sengaja. bertukar senyum diikuti sapa. perbincangan ringan pun terbentang diselingi gurau dan tawa-tawa renyah

di halaman enam puluh sembilan bab tiga jalasveva dan lelaki menjadi kekasih

hari-hari ditumbuhi bunga warna-warni. lelap malam berhias mimpi-mimpi indah. kaki-kaki keduanya menjelajahi negeri merayakan bahagia sepasang pencinta

menjejak di pantai-pantai berpasir putih

menyerap damai irama ombak dan angin


telusuri kampung-kampung di balik gunung

menyecap rupa-rupa atraksi tradisi


kunjungi pulau-pulau di tengah samudera

menyemai energi dari suara satwa


singgahi huma, kebun, ladang, dan sawah

bertukar cerita dengan tanaman dan buah

dalam penjelajahan bertahun mereka juga kumpulkan keping-keping yang berserakan sepanjang jalan

jerit bocah-bocah tertindas kerusuhan

air mata jelata yang kehilangan rumah

gelisah muda-mudi arungi zaman

pada alinea pertama bab empat di halaman seratus tiga jalasveva dan lelaki membentuk kepingan-kepingan itu menjadi sebuah rumah sederhana di tepi sungai jernih pada sebuah lembah

di sana mereka tinggal. meniti waktu. menganyam asa hidup abadi. asa yang tak mewujud. kandas. di satu pagi jalasveva melesat meninggalkan lelaki. diisap pohon pala asalnya yang tumbang ditebas surat izin usaha pariwisata

nestapa merasuki sumsum lelaki. dia melemah kehilangan daya. lembah menaruh simpati. lalu bernyanyi. mengantar lelaki kembali ke dalam kepak sayap merpati yang melahirkannya

lembah sunyi. waktu terhenti

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan