Mohon tunggu...
Sihar Emry
Sihar Emry Mohon Tunggu... Wiraswasta

dari 0 menuju 0

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lelaki dan Perempuan di Meja Perjamuan

29 April 2021   12:48 Diperbarui: 6 Mei 2021   01:21 108 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lelaki dan Perempuan di Meja Perjamuan
lelaki dan perempuan di meja perjamuan

Lelaki. Melangkah gegas meninggalkan meja kerja, menuruni tangga, dan menerobos hujan. Dia tak mau menahan diri di lobi kantor menunggu hujan reda. Bukan menghindar terjebak dalam pembicaraan dengan rekan kerja yang membahas hal-hal itu-itu saja, tapi mengejar jadwal konser band idola asal Surabaya.

Seminggu sudah tiket seharga lima puluh ribu rupiah di tangan, seminggu pula dia menunggu penuh gairah. Gairah yang melecut kaki untuk segera tiba di rumah. Mengganti pakaian kerja dengan kaos hitam bergambar logo band idola lalu meluncur ke stadion lokasi pertunjukan.

Lima musisi pujaan menyinggahi kotanya beberapa bulan setelah menetaskan Lain Dunia1). Album yang hadir dengan musik dan lirik peneguh hati dan pembakar semangat kala cinta membentur tembok tebal pun saat menghadapi tikaman-tikaman teman dan rekan kerja di punggung. Album yang dia putar tiap pagi dan malam.

Kaki-kakinya semakin cepat melangkah. Tak dia pedulikan dingin yang melekatkan kemeja di dada, perut, dan punggung. Pun debu-debu basah menempel di sepatu dan celana. Di kepalanya hanya ada panggung megah dan dirinya di antara kerumunan manusia yang bernyanyi bersama dan berjingkrak lepas.

Halte tinggal sepelemparan batu. Langkahnya melambat. Trotoar yang digenangi air setinggi betis membuat beban berat di kaki. Sekejap akan tiba, tapi langkah terhenti. Langit mengirimkan kilat mengecup tubuhnya. Tubuhnya meleleh serupa tumpahan cat. Menggenang bersama air.

Dia pasrah. Hanyut mengikut arus. Berputar-putar di pusaran air, terhempas ke tembok, terserempet roda, terjebak tumpukan sampah, tersiram kencing. Dalam kuasa cuaca sayup-sayup terdengar Sudahlah. Mengiringinya terserap tanah. Beri Aku Arti menyusul mengiringinya menelusuri jalur-jalur air. Lagu-lagu lain ganti terdengar, lagu-lagu berputar ulang. Mengiringinya menyusuri waktu-waktu bumi.

Sehari, seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun. Dia diantar pada sumber mata air yang disemaki akar-akar pohonan di hutan pegunungan. Pipa mesin penampungan air mineral menyedotnya. Dia dikemas dalam galon. Diletakkan di sebuah ruang di lantai 33 gedung perkantoran pusat kota.

* * *

Perempuan. Puaskan dahaga dengan secangkir Lelaki. Lelaki menyelinap ke ruang paling rahasia di hati Perempuan. Di sana Lelaki bernyanyi parau sebab memang suaranya tak indah karena tembakau. Lagu-lagu Padi dia nyanyikan sebebas-bebasnya mengikuti gaya kalem sang vokalis.

Perempuan gelisah. Perasaannya kosong. Bayangan sang kekasih hadir memekarkan kerinduan teramat sangat. Sang kekasih yang hilang tertelan ombak saat berselancar di pantai sebuah pulau seberang barat Sumatera. Sang kekasih yang mengidolakan band pemilik lagu-lagu yang memenuhi kepalanya.

"Aku ingin mencintaimu dengan apa adanya karena aku tak ada apanya," Lelaki kumandangkan puisi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN