Sigit Budi
Sigit Budi wiraswasta

blogger @ sigitbud.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Pemilih Muda adalah Kunci Sukses Pemilu 2019, Mengapa?

3 April 2018   19:48 Diperbarui: 4 April 2018   08:28 7879 4 1
Pemilih Muda adalah Kunci Sukses Pemilu 2019, Mengapa?
Calon Pemilih Muda (sumber : kompas,com)

Meski Pemilu telah terselenggara ke sekian kali sejak pertama kali tahun 1955, tak dipungkiri tiap Pemilu selalu tuduhan ke penyelenggaran event ini selalu sama, yakni "tidak adil dan jujur". 

Sumber persoalan Pemilu bermula dari penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT), masa kampanye, "D Day" pemungutan suara, penghitungan suara dan saat pengumuman hasil. Tidak mudah bagi penyelenggara memuaskan semua pihak, baik peserta pemilu (partai politik), pemilih dan stakeholder lainnya. 

Pada sisi lain, kita tak bisa berdiam diri terhadap indikasi praktik-praktik kecurangan pemilu terjadi pada setiap tahap penyelenggaraan.

Untuk mewujudkan  Pemilu berkualitas, KPU, Bawaslu, Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, keterlibatan masyarakat sipil dan elemen-elemennya memberikan kontribusi besar. 

Memang tidak ada penyelenggaraan pemilu 100% tanpa kritik, tanggung jawab semua pihak untuk mewujudkan penyelenggaraan Pemilu yang lebih baik. Salah satu cara meningkatkan kualitas Pemilu melalui  transparansi proses penyelenggaraan yang saat ini sudah dilakukan. Perjalanan proses kontestasi politik ini bisa dipantau semua pihak lewat jaringan teknologi informasi setiap saat dan di manapun juga.

Pekerjaan besar dari penyelenggara Pemilu adalah menggalang kepedulian dan keterlibatan emosional calon pemilih terhadap proses ini secara nyata. Mengapa hal ini menjadi penting? 

Partisipasi calon pemilih dan kualitas proses Pemilu adalah indikator utama sebuah kegiatan Pemilu dikatakan sukses, dan memenuhi syarat "Jujur dan Adil". Sedang hasil dari proses tersebut adalah dampak dari proses transparan yang dipantau intensif  oleh segenap pihak termasuk calon pemilih.

Pada kontestasi politik 2019 ada perubahan signifikan persentase calon pemilih, di mana jumlah calon pemilih muda cukup besar dibandingkan pemilu sebelumnya. Sebenarnya tidak mengherankan, menurut proyeksi demografi nasional dari Badan Pusat Statistik, Indonesia sedang menuju kondisi bonus demografi  di mana persentase jumlah usia produktif akan mencapai sekitar 60 persen dari total populasi pada tahun 2035. 

Berdasarkan laporan Kompas.com (15/12/2017), Kemendagri mencatat ada 7 juta tambahan pemilih pemula yang pada bulan April 2019 berusia 17 tahun. Bukan angka sedikit, jumlah tersebut menyamai suara salah satu partai saat ini, mereka inilah calon-calon pemilik masa depan bangsa ini. Dalam tulisan ini mengangkat peran pemilih pemula dan pemilih muda dalam mensukseskan Pemilu "Juru dan Adil".

Pernyataan Pemilh Muda (sumber: Kompas.com)
Pernyataan Pemilh Muda (sumber: Kompas.com)
Pendekatan ke Pemilih Muda

Direktur Program Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Sirajudin Abbas dalam sebuah diskusi berjudul Menakar Cawapres 2019" di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Kamis (9/11/2017) pernah mengingatkan pentingnya peran dan potensi pemilih muda. Menurut Abbas, jumlah pemilih muda dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencapai besaran 55 % dari jumlah calon pemilih. 

Tak bisa dipungkiri, suara kaum muda akan mempengaruhi partai politik mana pun tanpa terkecuali. Dari deretan partai peserta Pemilu 2019 ada satu partai yang mendeklarasikan sebagai partai "millenial", namun sejauh ini masih perlu pembuktian apakah partai tersebut akan menjadi saluran mayoritas pemilih muda.

Sudah saatnya stakeholder Pemilu memaksimalkan calon pemilih muda pada Pilpres 2019 untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dibandingkan sebelumnya. Pelibatan calon pemilih muda untuk meningkatkan mewujudkan "Pemilu Jujur dan Adil" lewat pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

  • Kuantitatif
    Pada proses ini mendorong lebih banyak calon pemilih muda berpartisipasi dalam pemungutan suara, mengingat jumlah calon pemilih muda mencapai 100 juta pemilih. Kini partai -- partai politik berupaya keras berebut simpati dan mempengaruhi preferensi politik mereka dengan berbagai cara. Tak dipungkiri, pandangan umum bahwa dunia "politik itu kotor" memengaruhi preferensi politik mereka sehingga muncul sikap apatis terhadap Pemilu.  
    Pada sisi lain, calon pemilih muda ini bisa dikategorikan massa mengambang (floating mass), di mana mereka tidak memiliki keterikatan atau berorientasi pada ideologi atau platform partai tertentu. Pemilu Jujur dan Adil akan tercederai bila jumlah "golongan putih" dari calon pemilih muda tinggi, meski hasil pemilu sah namun akan menurunkan indeks demokrasi kita. Bagaimanapun juga Pemilu Jujur dan Adil harus didukung oleh partisipasi tinggi dari calon pemilih.

  • Kualitatif
    Selain partisipasi dalam pemungutan suara, faktor lain adalah pengawasan terhadap proses pemilu itu sendiri. Meningkatnya jumlah calon pemilih muda dan pemilih pemula pada Pemilu 2019, mau tidak mau mereka harus dilibatkan dalam pengawasan Pemilu secara aktif.
    Kenapa harus aktif?  Keterlibatan kaum muda dalam proses pemilu adalah sebuah pembelajaran demokrasi, di mana kaum muda nantinya adalah calon-calon pemimpin dan pemegang tampuk kepemimpinan nasional. Mentalitas mengedepankan kejujuran dan keadilan seyogianya menjadi kredo dalam berpolitik.

Inseminasi Nilai Pemilih Pemula

Situs Berita Tirto.id menurunkan laporan menarik tentang Gen-Z di Indonesia dengan mengkaitkan masuknya teknologi internet ke Indonesia pada tahun 1994. Diasumsikan generasi lahir di awal tahun 1990 dan mengenal internet pertama kali saat menduduki bangku SD, meski saat itu pengguna internet masih terbatas di perusahaan besar, kantor pemerintahan, dan kalangan menengah atas. 

Berpijak dari sini tergambar karakter Generasi Z, orientasi, sikap dan preferensi mereka berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka terbiasa mencari informasi dari menggunakan gadgetatau smartphone, termasuk soal belanja, sikap politik pun sedikit banyak terpengaruh oleh media sosial (medsos)

Biasa manusia untuk pertama kali mengalami ketakutan atau keraguan memasuki sebuah proses apapun, tak bedanya dengan pemilih pemula. Mengikuti Pemilu pada bulan April 2019 adalah untuk pertama kali mereka mengikuti kegiatan politik nyata/riil. Hampir dapat dipastikan orientasi politik mereka masih dipengaruhi oleh media sosial atau lingkungan pertemanan dan keluarga, belum atas inisiatif sendiri.

Pada tahap ini inseminasi nilai-nilai dasar Pemilu "Jujur dan Adil" sangat tepat, pemahaman bahwa kontestasi politik ini bertujuan untuk menghasilkan pemimpin terbaik lewat proses yang baik pula. 

Menekankan proses menjadi pijakan penting untuk pemilih pemula, membentuk karakter mental dan moralitas mereka untuk menjunjung proses kontestasi politik jujur, bersih, transparan dan adil menjadi modalitas mereka nanti. Setidaknya lewat penanaman nilai-nilai, penyelenggara pemilu membentuk kader-kader agar mereka bisa menularkan di masa depan.

Penyemaian nilai-nilai juga bisa dilakukan lewat kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah selain media sosial. Biasanya anak-anak sekolah menengah atas memiliki daya kritis dan rasa ingin tahu cukup tinggi, meski banyak juga yang apatis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2