Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... #Jadikan pekerjaan itu seni dan hobi#Email: vicksigit@gmail.com#ASN yang dulu sempat membidangi Humas dan Media#Sekarang Membidangi Seni dan Hiburan#

#Menulis sesuai suara hati,kadang sangat kritis,tapi humanis,berdasar fakta dan realita#Kebebasan berpendapat dijamin Konstitusi#Jangan pernah membungkam#

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Bukan Hanya PHK, Menerima Karyawan di Tengah Pandemi Juga Sulit

12 Juli 2020   20:40 Diperbarui: 12 Juli 2020   20:30 1807 70 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bukan Hanya PHK, Menerima Karyawan di Tengah Pandemi Juga Sulit
Ilustrasi gambar via sleekr.co

Bukan Hanya PHK, Menerima Karyawan di Tengah Pandemi Juga Sulit.

Seperti yang dituliskan oleh kompasianer Meirri Alfianto dalam kondisi pandemi ini, bahwa memang benar adanya, bagi pelaku usaha merupakan pilihan yang sulit untuk mem-PHK para karyawan.

Maka, sesuai judul pada artikel ini, maka penulis juga ingin menyampaikan, bahwa di tengah pandemi ini pun, para pelaku usaha masih akan sangat sulit dalam hal menerima pekerja ataupun karyawan baru.

Ya, memang inilah fakta dan realitanya, tapi ya mau bagaimana lagi, karena biar bagaimanapun juga, para pelaku usaha juga butuh bertahan dan produktif dalam menjalankan usaha, apalagi para pelaku usaha yang masih berskala menengah dan kebawah.

Sehingga pos-pos pekerjaan yang sekiranya bisa dirampingkan, diefisienkan dan mengirit beban biaya ataupun mengirit pengeluaran operasional kantor atau perusahaan, memang harus dilakukan.

Oleh karenanya dengan sangat terpaksa, maka dalam hal ini, para pelaku usaha harus melakukan perampingan karyawan ataupun merumahkan sementara waktu karyawan hingga mem-PHK karyawan secara permanen.

Demikian pula halnya dalam melakukan penerimaan atau perekrutan karyawan baru, para pelaku usaha masih sangat selektif dan hati-hati dalam memberi ruang bagi para pelamar kerja.

Apalagi kalau dipertimbangkan secara logika, bagaimana mau menerima atau merekrut karyawan baru, mau bayar gajinya pakai apa, sedangkan para karyawan yang ada saja pada di PHK.

Artinya juga para pelaku usaha masih melihat dan mengamati dulu bagaimana kedepannya perkembangan selanjutnya dihadapkan dengan kondisi pandemi yang unpredictable ini atau istilahnya masih wait and see dulu.

Ya, ini adalah hal yang cukup realiatis bagi para pelaku usaha, seperti halnya penulis, sebagai founder perusahaan yang bergerak di bidang penyiaran yaitu radio siaran, maka penulis dan para pemegang saham perusahaan lainnya beserta para manajemen harus memutar otak bagaimana bisa bertahan di tengah pandemi ini.

Apalagi kalau bicara soal bisnis radio, kalau tidak inovatif dan kreatif, mungkin saja bisnis radio milik penulis akan bernasib sama dengan berbagai radio lainnya yang akhirnya bertumbangan dan tamat riwayatnya seiring majunya zaman, apalagi ketika badai pandemi korona datang menghantam, benar-benar hampir menumbangkan bisnis radio penulis.

Sehingga dengan sangat begitu terpaksa agar bisa bertahan, satu persatu karyawan radio harus di PHK, atau ditawarkan resign dulu dirumahkan dulu sementara waktu sambil melihat perkembangan pandemi ini, kalau semakin bisa dikendalikan dan perkembangan bisnis kembali normal, maka akan dipanggil kembali untuk bekerja.

Sangat tidak tega sebenarnya, tapi ya mau bagaimana lagi, daripada perusahaan harus tumbang dan turut berdampak pada karyawan lainnya yang ikut tergilas seiring tumbangnya perusahaan, ya memang mem-PHK atau merumahkan sementara waktu karyawan lah solusi yang paling efektif di tengah pandemi ini.

Di sinilah kiranya bagi karyawan yang masih dipertahankan oleh perusahaan harusnya bersyukur dan mestinya bisa bekerja lebih optimal lagi dan penulis rasa hal ini kurang lebihnya hampir sama berlaku pada pelaku usaha lainnya.

Lalu apakah sudah tertutup sama sekali kesempatan bekerja bagi pelamar kerja di tengah pandemi ini?

Ya, seperti yang sudah penulis katakan tadi, bukan menutup ruang bagi para pelamar kerja, tapi dihadapkan kondisi pandemi ini, maka para pelaku usaha akan sangat selektif dan hati-hati menerima pekerja.

Jadi dengan dihadapkan kondisi pandemi ini, maka pelaku usaha akan merekrut karyawan yang aktual dan relevan, serta potensial dengan kondisi pandemi ini, artinya di sini pelaku usaha "hanya" penulis tegaskan sekali lagi "hanya" akan merekrut karyawan ataupun pekerja yang urgensinya sesuai dengan kondisi adaptasi kebiasan baru di tengah pandemi.

Di sinilah para pelamar kerja harus bisa jeli dan cermat menganalisa mana kiranya tempat yang benar-benar membutuhkan dirinya, sehingga jangan asal melamar di tempat yang tidak aktual dan relevan dengan kapasitas diri, karena akan sangat percuma, hasilnya bakal ditolak mentah-mentah.

Di samping itu juga, yang amat penting jadi catatan adalah, para pelamar kerja juga harus bisa mengaktualisasikan dan merelevansikan diri dengan adaptasi kebiasaan baru ini.

Sehingga selain kemampuan ataupun keahlian yang dimiliki pada diri, maka sangat perlu menambah bekal diri dengan kempuan lainnya yang aktual dan relevan dengan kondisi adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi ini.

Jadi kesimpulannya disini, para pelamar kerja harus jeli dan cermat mengamati, menganalisa dan melihat, lalu setelahnya mampy mengisi diri dan merelevansikan diri agar aktual dan relevan dengan kondisi adaptasi kebiasaan baru ditengah pandemi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN