Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... Menulis untuk berbagi

Jadikan pekerjaan itu seni&hobi.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Rakyat adalah Kunci Utama Hidup dan Matinya Suatu Rezim

29 September 2019   00:23 Diperbarui: 29 September 2019   00:59 0 13 5 Mohon Tunggu...
Rakyat adalah Kunci Utama Hidup dan Matinya Suatu Rezim
Ilustrasi Rezim dalam suatu Negara | Dokumen Sindonews.com

Dalam suatu pemerintahan Negara, Kekuasaan dan Kewenangan menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap citra dari berhasil atau gagalnya suatu rezim dalam berkuasa.

Kekuasaan dan kewenangan selalu berkaitan erat dengan para elit politik ataupun elit pemerintahan dalam suatu Negara.

Kekuasaan dan kewenangan juga menjadi motivasi para elit politik dan elit pemerintahan, untuk menanamkan pengaruh dan kekuatannya didalam suatu pemerintahan Negara

Menggiurkannya godaan untuk memiliki Kekuasaan dan kewenangan yang diinginkan oleh para elit politik dan elit pemerintahan dalam suatu pemerintahan negara juga menjadi biang keladi, bagaimana para elit politik dan elit pemerintahan yang terlibat di dalamnya melangsungkan pemerintahan yang dijalankan oleh suatu rezim.

Sehingga terkadang dalam suatu negara seringkali terbentuk rezim-rezim pemerintahan seperti bentuk rezim yang otoriter, diktator, absolut, oligarki ataupun bentuk sistem pemerintahan lainnya.

Cita-cita awal dalam suatu rezim yang mengembar-gemborkan kepentingan negara dan masyarakat, dalam perjalannya akan dapat berubah seketika, tatkala sudah merasakan nyamannya menggenggam tampuk kekuasaan.

Sehingga suatu rezim dalam berkuasa seringkali membuat kewenangan-kewenangan yang hanya menguntungkan rezimnya dalam rangka melanggengkan kekuasaannya.

Berbagai cara untuk melanggengkan dan menguntungkan kekuasaan dilakukan oleh para pelaku elit politik dan elit pemerintahan karena berkaitan juga dengan kewenangannya untuk memproduksi Undang-undang, peraturan pemerintah, kebijakan ataupun aturan-aturan lainnya.

Hal ini seringkali dilakukan agar para elit politik dan elit pemerintahan yang terlibat didalamnya dapat duduk dengan nyaman berkuasa didalam suatu pemerintahan Negara.

Tak pelak, suatu Negara terkadang memberikan tekanan-tekanan yang represif ataupun intimidatif kepada siapapun yang mengkritisi ataupun yang dianggap dapat mengusik ketenangannya dalam berkuasa.

Dan secara keseluruhan tekanan-tekanan tersebut juga diberlakukan kepada rakyat yang juga terkadang harus terpaksa tunduk dan bertekuk lutut agar tetap mendukung suatu rezim dalam pemerintahan negara.

Inilah sebabnya juga, mengapa kekuasaan dan kewenangan suatu rezim dalam berkuasa, dapat memberikan gambaran dan penilaian bagaimana suatu rezim itu berkuasa dalam melangsungkan pemerintahannya didalam suatu negara.

Tentunya, yang dapat memberikan gambaran dan penilaian terhadap suatu rezim tersebut adalah rakyat, karena rakyatlah yang merasakan dan menjalani serta menjadi obyek utama dalam pemerintahan suatu rezim.

Disinilah pada akhirnya, rakyat dapat menyimpulkan bagaimana suatu negara mengusung visi misinya dalam menjalankan pemerintahan dan kekuasaannya.

Apakah benar-benar berpihak kepada rakyat dan mementingkan kepentingan Negara, ataukah hanya mengedepankan kepentingan politik praktis yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi, golongan atau partai semata.

Sehingga berlatar dari inilah suatu rezim pada saatnya akan terlihat keasliannya dan kesejatiannya dalam menjalankan pemerintahannya dan kekuasaannya.

Seperti halnya di Indonesia, gambaran kekuasaan dan kewenangan suatu rezim seperti penuturan diatas, ternyata juga terjadi dan terwujud hingga sekarang ini.

Beberapa sebutan rezim-rezim yang pernah berkuasa dan berkuasa hingga sekarang, seperti Rezim Suharto, Rezim SBY hingga Rezim Jokowi mewarnai citra kekuasaan yang pernah dirasakan oleh rakyat Indonesia.

Sejarah membuktikan, bagaimana suatu rezim yang berkuasa di Indonesia seperti rezim Suharto, terpaksa harus tumbang ditangan rakyat dan membuat pemimpin yang berkuasa saat itu yaitu Presiden Suharto harus lengser.

Berkaca dari beberapa rezim di Indonesia, maka sebutan pemerintahan rezim Jokowi yang sedang berkuasa saat ini, turut pula mewarnai citra pemerintahan rezim yang berkuasa di Indonesia.

Setiap rezim akan memiliki karakter kekuasaannya masing-masing, begitu juga dengan rezim Jokowi yang sedang berkuasa saat ini. Tentunya juga memiliki karateristik kekuasaannya.

Oleh sebab itu, kekuasaan dan kewenangan suatu rezim akan dinyatakan berhasil dan berpihak pada rakyat, akan sangat tergantung dengan apa yang dirasakan oleh rakyat sebagai obyek dari kekuasaan dan kewenangan rezim yang berkuasa.

Suatu rezim yang berkuasa akan mendapat perlawanan dari rakyatnya, apabila sudah dirasakan tidak ada lagi keadilan dan segala hal yang membuat rakyat sudah tidak lagi merasa nyaman dan tenang tentang sistem pemerintahan yang dijalankan oleh rezim yang berkuasa.

Sehingga terjadilah mosi tidak percaya rakyat kepada pemerintah. Maka tatkala rezim tersebut sudah tidak lagi mendapat simpati dari rakyat, karena dirasa kekuasaannya sudah jauh keberpihakannya kepada rakyat dan membuat negara dalam keterpurukan.

Maka pada akhirnya, bergeraklah rakyat dalam gerakan massa seperti People Power ataupun demonstrasi untuk mengkritisi pemerintah ataupun yang lebih parah lagi, menggulingkan suatu rezim dalam pemerintahan.

Dalam beberapa waktu kedepan Presiden RI Ir. H. Joko Widodo dan Rezimnya, digadang-gadang akan menuju periode keduanya dalam menjalankan pemerintahannya dan kekuasaannya.

Satu periode sebelumnya sudah menjadi catatan rapor bagi rakyat, bahwa pada kekuasaannya di periode sebelumnya tersebut, separuh lebih rakyat Indonesia, masih menginginkan dan mempercayai Jokowi untuk menjalankan pemerintahan untuk periode berikutnya.

Rezim Jokowi memenangkan kontestasi Pemilu, Euforia kemenangan rezim Jokowi dirayakan sedemikian rupa dan membuat rezim Jokowi semakin percaya diri, karena masih dipercaya oleh separuh lebih rakyat Indonesia.

Namun Euforia dan rasa terlalu percaya diri tersebut ternyata sedikit banyak, sepertinya membuat rezim Jokowi agak lalai memperhitungkan bahwa masih ada separuh kekuatan rakyat Indonesia lainnya, yang antipatif terhadap rezim Jokowi.

Rezim Jokowi saat ini justru malah dianggap melakukan blunder-blunder yang cukup kontroversial menjelang periode kedua kekuasaannya. Berbagai kebijakan dan produk Undang-undang yang telah dan akan dijalankan menjadi polemik dan mendapatkan pertentangan pada sebagian besar rakyat.

Ditambah lagi kondisi Negara sedang prihatin, dengan berbagai persoalan-persoalan lainnya yang meliputi Ipoleksosbud Hankam.

Dalam situasi dan kondisi Indonesia saat ini, Jika, rezim Jokowi agak lengah menyikapinya, maka tentunya ini dapat menjadi sinyal keras bagi pemerintahan dan kekuasaannya kedepan.

Sehingga kalau rezim Jokowi tidak ingin merasakan pahitnya digulingkan seperti rezim Suharto, maka rezim Jokowi harus sangat perhitungan dan  berhati-hati dalam menjalankan kekuasaannya.

Gejolak berbagai persoalan Ipoleksosbud Hankam yang sedang terjadi hingga sekarang ini, mesti disikapi oleh rezim Jokowi dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian.

Ditambah lagi dengan kekuatan pihak Oposisi yang akan terus mencari peluang dan selalu menunggu timing yang tepat dalam melancarkan strateginya dalam merebut tampuk kekuasaan dari rezim Jokowi.

Oleh karena itu, jika rezim Jokowi ingin langgeng dan eksis dalam menjalankan kekuasaan dan pemerintahannya, maka simpati dan kepercayaan rakyat harus selalu dijaga.

Rezim Jokowi harus selalu merebut hati rakyat dengan penuh harmonis, menjaga hati rakyat agar tidak tersakiti dan terzholimi.

Dan yang paling sangat diwaspadai lagi sebenarnya adalah adanya peran pihak diluar oposisi dan rakyat, yang memainkan skenarionya.

Biasanya pihak ketiga ini, atau populer dengan sebutan penumpang gelap, akan bertindak sedapat mungkin, mengambil kesempatan dan peluang sekecil apapun. Untuk dapat memanfaatkan situasi dan kondisi krisis yang terjadi pada suatu negara.

Jadi, rezim Jokowi bila tidak ingin putus ditengah jalan, tumbang ataupun digulingkan, maka rakyatlah kuncinya. Sehingga cita-cita awal yang dijanjikan dan digaungkan, seyogyanya harus dikembalikan dan direalisasikan secara nyata kepada rakyat.

Bercermin pada rezim SBY, yang mampu bertahan, meskipun juga disaat rezim ini berkuasa riak-riak pertentangan juga terjadi didalam menjalankan pemerintahan dan kekuasaannya.

Namun dalam hal ini, rezim SBY masih mampu merebut kembali hati rakyat dan kembali berpihak kepada rakyat. Hingga pada akhir pemerintahan rezimnya mampu bertahan hingga akhir periode pemerintahannya.

Maka, bila rezim Jokowi ingin kekuasaannya langgeng hingga akhir periode pemerintahan kedepan, sejatinya harus merangkul dan kembali berpihak kepada rakyat.

Para elit politik dan elit pemerintahan yang terlibat didalamnya, harus benar-benar penuh pertimbangan dan kajian dalam membuat produk Undang-undang dan kebijakan-kebijakan serta mewujudkan janji-janjinya kepada rakyat dan kembali kepada cita-cita awal sesuai visi misinya dalam mengemban amanah rakyat memajukan NKRI menuju arah yang lebih baik lagi.

Tentunya tantangan-tantangan kekuasaan dan godaan-godaan kekuasaan akan selalu menyertai, dan perjalanan suatu rezim akan sangat ditentukan tantang bagaimana suatu rezim dapat diterima oleh rakyatnya.

Kemudian tergantung juga pada sistem dan pola kekuasaan yang dijalankan oleh suatu rezim tersebut. Dan secara umum bila suatu rezim ingin langgeng berkuasa hingga mencapai akhir periodenya.

Maka yang menjadi kunci utama hidup matinya suatu rezim adalah mengebelakangkan kepentingan politik praktis yang diusung dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat dan negara serta genggamlah hati rakyat. 

Niscaya suatu rezim akan meninggalkan rekam jejak yang indah dan akan selalu dikenang oleh rakyat dan tak akan lekang oleh waktu.

Semoga bermanfaat.

Sigit Eka Pribadi.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x