Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi.SE
Sigit Eka Pribadi.SE Mohon Tunggu... Menulis untuk berbagi

Tukang cari cari, ya cari muka, cari tempat, cari orang, cari momen, lari sana sini, jeprat jepret, tulis tulis tuk tik tuk tik ada foto, siadibame, jadi rilis berita, dispo acc, mainkan. Jadikan pekerjaan itu seni&hobi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Dihujat Iklan Sendiri, Faktanya Tetap Saja Rokok Laris Manis

6 April 2019   19:24 Diperbarui: 7 April 2019   09:27 0 3 0 Mohon Tunggu...
Dihujat Iklan Sendiri, Faktanya Tetap Saja Rokok Laris Manis
Slogan rokok, hellomotion

Sebuah perusahaan untuk mendongkrak penjualan produknya biasanya memacu strategi yang terbaik. Namun itu tidak berlaku untuk perusahaan yang memproduksi rokok. Produk ini tetap laris manis, walau dengan iklan yang menghujat dan memburukan rokok itu sendiri.

Buktinya Apa?

Rokok menjadi barang konsumtif yang paling menjanjikan dalam bisnis. Sebab pemasukan yang diberikan terbilang besar. Gak heran kalau beberapa perusahaan menjelma jadi perusahaan besar di Indonesia berkat industri ini.

Hebatnya lagi, cukai rokok menjadi komponen penerimaan negara paling besar di penerimaan bea cukai. Seperti yang diungkapKompas, cukai rokok menyumbang Rp 153 triliun dari keseluruhan penerimaan bea cukai 2018 yang mencapai Rp 205,5 triliun.

Besarnya penerimaan cukai tersebut gak lepas dari tingginya jumlah perokok aktif di Indonesia. Sampai April 2018 aja, jumlah perokok aktif di Indonesia terungkap mencapai 60 juta jiwa. (Moneysmart.id)


Seperti yang dicuplik dari sumber diatas terbukti jelas bagaimanapun seburuk-buruk iklan di hujatkan pada rokok, tetap saja produk rokok tetep menjadi ladang bisnis penghasil pundi-pundi emas, baik bagi perusahaan Bahkan Negara.

Slogan peringatan kersas seperti"Rokok membunuhmu" disertai layanan kontak telpon untuk konsultasi berhenti merokok seolah hanya menjadi sebuah peribahasa kata picisan yang dianggap angin lalu saja. Tidak ada efeknya sama sekali.

Apakah yang terjadi dengan fenomena produk rokok?

Disinyalir pemerintah kurang tegas karena rokok merupakan dua sisi mata uang yang dilematis untuk dihentikan, padahal WHO telah menyatakan secara tegas Indonesia adalah surganya rokok, seperti cuplikan sumber berikut,

WHO memperkirakan jumlah perokok di Indonesia tahun 2025 akan meningkat menjadi 90 juta orang, atau 45% dari jumlah populasi.

Studi yang dikumpulkan Wall Street Journal dan World Lung Foundation dan American Cancer Society mencatat, setiap tahun rata-rata penduduk Indonesia menghisap 1085 batang rokok. Artinya tingkat konsumsi rokok mencapai hampir dua bungkus per minggu.

Dalam hal ini pemerintah Indonesia tidak punya banyak ruang bermain. Betapapun juga, industri tembakau menyumbang sekitar 150 triliun Rupiah per tahun dalam bentuk pajak dan cukai. Ditambah lagi kenyataan bahwa enam juta lapangan kerja bergantung dari sektor yang sarat kontroversi ini.

RUU Tembakau dikritik lantaran menganulir beberapa pasal yang mengatur pembatasan konsumsi rokok. Hal ini juga masuk dalam laporan WHO yang menilai pemerintah Indonesia masih setengah hati dalam kiprah memerangi kebiasaan merokok.

Sebab itu WHO menawarkan solusi yang terkesan sederhana dan efektif, yakni menaikkan pajak rokok. Tapi sayangnya baru sedikit negara yang mengikuti himbauan badan PBB itu.

Dalam laporan tahunannya WHO mengklaim, bahwa cukai tembakau yang mahal mampu meredam konsumsi rokok. Selain itu kas negara juga akan semakin gemuk dan pemerintah memiliki duit cadangan untuk menjalankan program anti rokok atau untuk membantu petani dan buruh yang kehilangan mata pencaharian di industri rokok.
(Dw.com)

Slogan rokok, Media Indonesia.com
Slogan rokok, Media Indonesia.com

Jadi jelaslah bahwa selama ini sampai sejauh mana peran dan  keseriusan pemerintah mengentaskan rokok, slogan yang dicanangkan pemerintah terhadap produk rokok tidak berpengaruh sama sekali malahan rokok tetap laris manis tanjung kimpul dipasaran.

Sampai saat ini solusi yang terbaik sekalipun tidak pernah tertuang dalam aturan dan undang-undang, rokok akan tetap terbang bebas lepas bagai burung diangkasa. Miris dan ironi, namun dilema.

Anak-anaklah yang masa depannya menjadi terancam, seperti prediksi WHO diatas, kemudian penderita penyakit dan kematian akibat rokokpun akan tetap meningkat. Selama tidak ada ketegasan dan solusi maka biar dihujat sejelek apapapun rokok tetap menjadi yang terlaris.

Orang tualah yang jadi harus ekstra keras mencari solusi dan strategi agar anak-anak mereka terhindar dari bahaya kecanduan rokok. Rokok tetap dijual bebas di pasaran. Berharap kesadaran diri dari setiap perokok itu untuk tidak merokok tidaklah mungkin. Rokok akan tetap jadi momok selama tidak ada solusi untuk mengatasinya.


Jadi harus bagaimana yah?

***** *

Salam 51