Mohon tunggu...
Kapitha Indonesia
Kapitha Indonesia Mohon Tunggu... Baik

Orang Baik dan suka menulis, mudah bergaul dengan siapa saja.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Antara Perang Melawan Pandemi Covid-19 atau dengan Mereka Para Penghianat Bangsa

25 Juni 2021   05:30 Diperbarui: 25 Juni 2021   05:56 37 2 0 Mohon Tunggu...

Varian baru covid19 suda memasuki Indonesia. Menyerang tidak pada orang dewasa tetapi juga pada anak-anak. varian baru dianggap lebih berbahaya daripada sebelumnya. Jumlah korban yang dirawat hingga meniggal dunia meningkat, terutama di pulau jawa.
Sebagai bangsa yang kuat,  kita tidak menyerah pada pandemi apapun. Walupun  kelihatan kita kewalahan.

Perlawanan terhadap pandemi covid19 jadi inggat historis bangsa, bahwa perlawanan semesta atau perang semesta yang melibatkan semua elemen bangsa bisa mengalahkan musuh. Karna itu saya yakin bahwa dengan perlawanan semesta kita bisa mengalahkan ancaman apapun yang datang.

Tetapi kenapa perlawanan semesta itu tidak kelihatan disaat kita sedang hadapi pandemi.  Apa mungkin karena pemahaman kita terhadap pandemi covid19 berbeda, karna itu banyak yang percaya dan tidak percaya bahwa pandemi itu mematikan. Tidak hanya itu masih  banyak yang melanggar protokol kesehatan, adanya kejahatan penggunaan alat antigen bekas,  belum lagi kejahatan mafia vaksin. Lalu kapan pandemi akan berakhir ?

Pademi berakhir jika mungkin kita harus sepaham, bahwa apakah pandemi  yang kita hadapai terjadi secara alamia atau bagian dari perang biologis. Selain itu, yang melagar protokol kesehatan harus diberikan sanksi, dan hukuman berat bagi mereka para penghianat bangsa yang menggunakan  alat kesehatan tidak sesuai dengan  ketentuan, termasuk mereka para mafia vaksin.

Selebihnya kita suda harus mandiri. Suda harus bisa membuat vaksin sendiri seperti vaksin merah putih atau vaksin nusantara. Jangan selalu berharap vaksin asing, vaksin impor yang belum tentu berkualitas, apalagi adanya pemberitaan dari kompas tv bahwa BPOM hentikan penggunaan obat covid19 dari tiogkok karna lebih besar resiko daripada manfaatnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x