Mohon tunggu...
Sidik Awaludin
Sidik Awaludin Mohon Tunggu... Public Relations Writing

[Penulis Freelance, Menyajikan tulisan asumsi pribadi Berdasarkan Isu-Isu hangat]. [Motto: Hidup Sekali, Berarti, lalu Mati.]

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Merindukan Demokrat yang Demokratis

8 Maret 2021   06:45 Diperbarui: 8 Maret 2021   07:49 75 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Merindukan Demokrat yang Demokratis
Source Image/Sindonews

Biasanya disaat negeri ini sedang ribut Partai Demokrat hanya menjadi penonton. Sekarang disaat Demokrat yang sedang ribut negeri ini yang yang menontonnya. Lucu ya? Inilah yang mendorong saya, untuk menulis dengan mengangkat tema mengenai ketidakpuasan para kader internal mereka dengan model pemimpinnya. 

Model Partai Demokrat ini awalnya Partai yang demokratis, kemudian lama-lama menjadi Partai Dinasti. Mulai dari kerabat, saudara, anak-anaknya. Senua memegang jabatan di internal partainya, mereka tidak sadar bahwa dia hidup dari uang yang disetorkan dari para kadernya. 

Mungkin kita masih ingat, sewaktu Demokrat menuding Presiden Jokowi ada dibalik wacana kudeta terhadap partainya. Saya langsung ketawa mendengar hal itu, mana mungkin seorang presiden sempat-sempatnya mengurusi partai yang sama-sama kita ketahui bukan dari latar belakang pengusungnya. 

Jokowi tidak punya kepentingan untuk itu, dia hanya fokus untuk menyelesaikan masa kerjanya. Cuma itulah yang ada di pikirannya, SBY dan AHY akhirnya sadar mereka salah menduga Jokowi. Mereka kemudian meralat pernyataannya, tetapi sayang semua itu sudah terlambat, banyak orang yang merasa tidak simpati ketika mereka menuding Jokowi ada dibalik aktor kudeta terhadap partainya. 

Lalu siapa yang mempunyai kepentingan besar dibalik kisruhnya internal Demokrat? Ya, para Partai besarlah, bisa jadi PDIP ataupun Gerindra. Mereka berdualah, yang mempunyai kepentingan dalam membangun koalisi untuk kontestasi di Pilpres 2024 nanti. Banyak cara untuk membangun Koalisi, ada yang menggunakan cara lobby maupun akuisisi. Nah, akuisisi inilah yang dirasa lebih simpel dan murah, karena tidak perlu membangun Partai baru dari awal lagi. 

Jika kita mau flashback kebelakang, kisruh yang pernah melanda internal Partai bukan hanya di Demokrat saja. Banyak, contohnya seperti Partai Berkarya dimiliki oleh Tommy Soeharto juga pernah terbelah di internalnya. Kemudian Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengusir pendirinya Amien Rais dan kroni-kroninya. Lalu yang terakhir ada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga sempat ribut sewaktu diadakanya Muktamar oleh para kadernya. 

Membangun sebuah koalisi ini sangat penting, karena untuk mencapai Presidential Threshold sebesar 20 persen, atau sebagai syarat ketentuan kelayakan untuk mengangkat Calon Presiden. 

Semakin besar koalisi yang dibangun, maka semakin kecil pula peluang lawan untuk mengangkat capresnya itu sendiri. bisa saja, ketika akhirnya mempunyai koalisi yang sama-sama besar, seperti Gerindra dan PDIP tidak bertarung tetapi mereka membangun koalisi. Dalam artian, siapapun Capresnya yang nantinya akan menang, mereka akan membagi-bagi kekuasaan, tidak ada yang kalah dalam satu koalisi ini, semua akan mendapat porsinya sendiri. 

Waduh, jadi melebar kemna-mana nih pembahasannya. Langsung pada kesimpulan saja ya, jadi jangan melihat sebuah kasus seperti Demokrat ini dengan pandangan yang baperan. Mengutip statement dari seorang tokoh ternama Don Corleone, "Its Just Business, Nothing Personal." Menurut saya Demokrat itu hanya sebgai korban saja, mereka seperti pelanduk ditengah gajah yang sedang menari. Perlu kita pahami bahwa di dunia politik itu sah-sah saja, karena tidak ada yang fair dalam urusan perang dan cinta.   

VIDEO PILIHAN