Mohon tunggu...
Yai Baelah
Yai Baelah Mohon Tunggu... Pengacara - (Advokat Sibawaihi)

Sang Pendosa berkata; "Saat terbaik dalam hidup ini bukanlah ketika kita berhasil hidup dengan baik, tapi saat terbaik adalah ketika kita berhasil mati dengan baik"

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Kemampuan Berpikir

16 Oktober 2020   22:32 Diperbarui: 16 Oktober 2020   22:33 276
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mengapa antara dua teman sering tidak akur dalam menilai sesuatu hal? 

Ya, itu karena ada  dua karakter berbeda dari cara berpikirnya kedua orang itu. 

Umumnya, hanya 2 karakter berpikir itu. Pertama, mereka yang berpikir sendiri dan yang kedua adalah mereka yang tidak berpikir. 

Maksudnya?

Begini penjelasannya. Bahwa orang yang berpikir sendiri yang saya maksudkan adalah mereka yang mengutamakan pikirannya sendiri di atas pikiran orang lain. Terhadap pikiran orang lain, maka ia tidak mau menerima begitu saja. Ia memandang perlu untuk mengujinya. Inilah yang namanya "kritis" itu.  Ia, bukan sekedar maunya berpikir sendiri, tapi memang dirinya memiliki kemampuan berpikir. Apa yang dimaksud dengan "kemampuan berpikir" itu?. 

Sebelum menjelaskan hal kemampuan berpikir itu, ada baiknya saya menyelesaikan bagian kedua tadi. Tentang type lain dari karakter berpikir seseorang, yakni model yang kedua adalah "tidak berpikir". 

Tidak berpikir di sini maksudnya ia hanya menggunakan pikiran orang lain. Hanya mengikuti pikiran orang lain. Mengenai benar atau salah, tak dijamin pasti kalau ia-nya tahu itu benar atau salah. Ia hanya sekedar mengandalkan pikiran orang lain atau cuma membela pikiran orang lain. Membela maksudnya adalah membenarkan pikiran orang lain. 

Apakah berarti ia bodoh? Tak mampu berpikir sendiri? Belum tentu. Boleh jadi ia-nya hanya tak terbiasa atau tak terlatih berpikir sendiri, terutama berpikir dalam hal yang bukan bidangnya. Jadi ia-nya malas mencari tahu. Malas berpikir. 

Atau, bisa saja dari sebab lain, yakni boleh jadi karena ia sudah terlalu percaya dengan orang lain yang lebih dulu memikirkan "sesuatu hal" tadi. Saking percayanya maka ia merasa tak perlu berpikir lagi. Hanya ikut-ikutan. Maka tepatlah bila kelompok ini disebut sebagai yang "tidak berpikir".

Sejatinya, semua orang mampu berpikir, bahkan berpikir atas hal-hal yang di luar keahliannya. Meski tak ahli, tetap saja harusnya ia mampu memikirkannya, dalam arti dapat membandingkan akan sesuatu hal dari suatu kejadian/peristiwa, terlepas dari persoalan apakah ia menemukan jawaban atau tidak. 

Ya, membanding.  Inilah yang dimaksud dengan kemampuan berpikir itu, kemampuan membanding. Membanding data tepatnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun