Mohon tunggu...
Elefth
Elefth Mohon Tunggu... Seseorang yang ingin menjadi penulis

Menulis ternyata menyenangkan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kabar

28 Desember 2020   22:24 Diperbarui: 30 Desember 2020   11:39 150 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kabar
sumber:pngdowload.id & halodoc.com

 "Nanti malam aku pulang, Dik. Kangen dirimu …."

Kalimat terakhir Mas Bayu dari percakapan telepon usai subuh, bak sebuah amunisi yang mengisi selongsong kegembiraan. Bagaimana tidak, lima hari sudah sosok belahan jiwaku itu pergi dinas ke luar kota. Lima hari terasa begitu lama bagiku yang baru tiga bulan menikmati suasana pengantin baru. Tentu saja masih hangat-hangatnya ingin selalu bersama. Kendati demikian, tetap saja kuyakinkan dia kalau keadaan akan baik-baik saja. Toh, kesibukanku mengelola butik setidaknya bisa membantu mengusir deraan rasa sepi dan rindu. Selain itu, Mbak Darmi, asisten rumah tangga, mau menginap di rumah selama kepergian Mas Bayu. Jadi, tak ada alasan utama untuk mengurungkan perjalanan dinasnya itu.

***

Sore hari, aku mulai bersiap-siap menyambut kedatangan Mas Bayu. Kamar tidur sudah dirapikan Mbak Darmi. Bunga dan wewangian ditebar, menambah nuansa romantis.
Kepiting saus tiram kesukaan Mas Bayu pun sudah matang. Tinggal dihangatkan dan dihidangkan saja. Mbak Darmi kuijinkan pulang. Dia akan datang kembali kerja besok pagi.

Sebenarnya, ada kabar bahagia yang sudah kusiapkan untuk Mas Bayu. Aku semringah untuk itu, membayangkan kebahagiaan suamiku itu nanti ketika mengetahui kabar baik ini. Sebuah benda pesegi panjang kecil menampakkan garis dua sempurna, hasil dari tes urine kemarin pagi. Melihat itu, bibirku bergetar mengucap syukur. Haru bahagia pun hadir membuncah. Keyakinan pun bertambah tatkala mendapatkan hasil pemeriksaan USG dari klinik Dokter Aida, SpoG, yang menjelaskan mengapa aku merasakan mual-mual hebat pada hari-hari sebelumnya. Betapa senangnya hati mengetahui  bibit buah cinta kami sudah bersemayam di dalam rahim ini. Begitu cepatnya kami diberi amanah, sementara sebagian pasangan lain berjuang lama untuk mendapatkannya. Saat itu tanganku gemetar hendak menekan nomor handphone Mas Bayu. Namun, aku memilih menahan diri. Biarlah menjadi kejutan saja ketika Mas Bayu sudah berada di rumah.

***

Jam di dinding menunjukkan  pukul tujuh malam. Aku menelepon Mas Bayu, tetapi tidak ada jawaban. Mungkin saja kondisi menyetir mobil sendiri menyebabkannya agak susah menerima telepon. Aku tak begitu risau karena Mas Bayu sudah mengabarkan perkiraan kedatangannya sekitar jam sepuluh malam, beberapa jam sebelumnya melalui aplikasi hijau.

Waktu berjalan. Ketar-ketir di dalam hati mulai menyeruak. Kutelepon kembali Mas Bayu sekadar ingin tahu posisinya sekarang. Namun, kali ini tidak ada nada sambung yang terdengar. Bisa jadi baterai ponselnya habis, itu saja pikiranku. Tak mengapalah, menunggu tiga jam lagi. Kulakukan aktivitas guna menghilangkan rasa jemu; membaca buku; menonton televisi; dan mendesain pola-pola baju.

***

Suara bel pintu depan sontak membuatku kaget. Kusadari ternyata mata ini sempat terpejam beberapa saat. Pukul sembilan kurang lima belas menit. Wah, Mas Bayukah itu? Syukurlah lebih awal dari waktu yang diperkirakan. Bergegas aku berlari menuju pintu seraya merapikan baju dan mengurai rambut ikal dengan jari sebagai sisir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x