Mohon tunggu...
Butet Pagaraji
Butet Pagaraji Mohon Tunggu... Guru - Seorang Guru, Penggila Tuhan dan Pencinta Ilmu, Alam Semesta serta Sesama Manusia

aku ruang di labirin jiwa, menganga, menelan makna, menuang cerita, tanpa bangga, hanya cinta.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Memento Mori

17 Agustus 2021   22:20 Diperbarui: 25 Agustus 2021   13:38 471
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi pemakaman. (sumber: pixabay.com/PaulSauer)

Menurutku, kematian itu seumpama suatu bait dalam sebuah syair kehidupan yang memuat rangkaian bait-bait lainnya. Ia bait elegi yang hadirnya tak berfrekuensi dan tak bisa dicegah. 

Jika rangkaian bait dalam syair kehidupan itu seimbang, mustahil kita berlarut sebab syair kehidupan mengalir naik turun seiring roda kehidupan yang berputar. 

Kita tak perlu terlena, tapi juga tak perlu melupakan karena itu usaha menjaring angin. Jadi, saat elegi itu hadir, hayati saja syairnya. Sambil berserah.. berserah dan berserah, pada Sang Pencipta Semesta Kehidupan.

Segala sesuatu di dunia ini hanya sementara, semua yang hidup akan mati. Maka, ingat Anda pasti mati: "Memento Mori."

Mungkin di antara pembaca ada yang masih ingat, sosok sobat tua pengidap tumor ganas, yang irama cintanya satu frekuensi dengan nada-nada di isi kepala dan relung hati seorang bocah cilik yang merindukan sekolah?!

Setelah beberapa hari sebelumnya mengikuti sakramen perjamuan kudus, kondisi Opungboru semakin melemah. Hingga pada suatu hari, di pagi yang dingin, beliau menghembuskan napas terakhir.

Semua anak-anak Opung, paman-pamanku (tulang) dan bibiku (tante) dari dalam kota hingga yang di luar pulau, serta teman dan kerabat keluarga, datang dan berkumpul di rumah kami. Samar dalam ingatanku, bagaimana prosesi itu berlangsung. Tapi hari itu langit mendung dan siang harinya hujan turun.

Aura dukacita itu seperti kabut tipis yang memenuhi ruangan. Semua orang tengah menenangkan diri sendiri dan belajar berdamai bersama dukacita ini, dengan caranya masing-masing. Begitu juga aku.

Sebenarnya aku masih terlalu muda untuk memahami apa itu kematian. Tapi aku mengerti bahwa mati berarti seseorang tidak ada lagi dalam kehidupan ini untuk ditemui, disentuh, dan diajak berbicara bersama. 

Aku hanya merasa khawatir, kalau Opung masih kesakitan dan terluka tanpa kuketahui dan tanpa bisa kuhibur lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun