Mohon tunggu...
Humaniora

Begini Kisah Pejuang Budaya Macapat

28 April 2017   06:16 Diperbarui: 4 Mei 2017   07:12 481 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Begini Kisah Pejuang Budaya Macapat
Dokumentasi Pribadi


Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Pradja Swasana. Inilah nama pemberian oleh Keraton Yogyakarta inilah yang menjadikan Swasana dikenal dengan sebutan Rama Pradja. Rama Pradja sudah mengenal kebudayaan Yogyakarta sejak ia dilahirkan pada 4 Juni 1950. Namun, pada tahun 1970 Rama Pradja baru mulai mengabdi kepada Keraton Yogyakarta dan mengenal kebudayaan Yogyakarta lebih dalam. Saat itu, Rama Pradja menjadi abdi dalem prajurit Keraton. Namun, pada tahun 1986, Rama Pradja diangkat oleh keraton menjadi abdi dalem keprajan khususnya dalam bidang kesenian. Selagi mengabdi kepada keraton, Rama Pradja juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di pemerintah kabupaten Bantul hingga pensiun pada bulan Juli 2006.

Kebudayaan Jawa seakan telah mengalir dalam darah Rama Pradja dan istrinya, Endang Tri Suprapti. Hal ini dapat dilihat dari pemberian nama ketiga orang putrinya yaitu Siwi Suharjanti, Siwi Januarto, dan Siwi Inayatul Nurhayati. Pemberian nama depan Siwi diambil dari dasanama kawi yang berarti anak. Selain dianugerahi tiga orang putri, Rama Pradja juga dianugerahi empat orang cucu. Namun, ketiga putri Rama Pradja tidak ada yang meneruskan jiwa seni seperti yang dimilikinya. Jiwa seni yang dimiliki oleh Rama Pradja hanya menurun kepada cucu tertua yang merupakan penari di keraton dan bersekolah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bagian seni tari.

Sebagai pensiunan PNS, Rama Pradja sering mengisi waktu luangnya bergelut dengan kesenian macapat. Rama Pradja belajar kesenian macapat secara otodidak sejak masih kecil. Hal ini dikarenakan kecintaanya kepada tembang-tembang jawa yang sudah mulai luntur dimakan oleh jaman. Oleh karena kecintaanya pada macapat, pada tahun 1990, Rama Pradja mengikuti kursus macapat di Pamulangan Sekar KHP. Kridha Mardawa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Jalan Rotowijayan No. 3. Setelah selesai mengikuti kursus pada tahun 1995, Rama Pradja diminta dan dipercaya oleh keraton untuk menjadi pengajar macapat di Pamulangan Sekar.

Rama Pradja membagikan ilmu macapat tidak hanya di Pamulangan Sekar, melainkan di berbagai tempat di Yogyakarta. Namun, Rama Pradja lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai pengajar macapat di Pamulangan Sekar. Setiap hari Selasa dan Kamis, Rama Pradja mengajarkan macapat di Pamulangan Sekar dari pukul empat sore hingga pukul enam sore. Belajar macapat di Pamulangan Sekar ini tidak dipungut biaya sedikit pun, sehingga setiap orang bebas belajar macapat sampai kapan pun. Hal inilah yang membuat Rama Pradja memiliki harapan besar kepada setiap orang khususnya kawula muda untuk turut bergabung melestarikan budaya melalui macapat.

Pada tahun 1995, Rama Pradja mulai menjadi penembang macapat di dalam keraton. Rama Pradja masuk ke dalam kelompok macapat keraton yang setiap hari Jumat dari pukul 10 pagi hingga 12 siang menembang macapat di bangsal keraton. “Tembang macapat di keraton memiliki keistimewaan tersendiri yang belum tentu orang lain bisa mengerti. Keistimewaannya adalah menggunakan aksara Jawa hanacaraka dalam penulisan syair tembang macapatnya. Jadi tidak menggunakan huruf latin”, kata Rama Pradja.

Penggunaan aksara jawa dalam membaca macapat, menjadikan Rama Pradja juga memiliki keahlian dalam bidang penulisan dan membaca aksara jawa. Hal ini menjadikan Rama Pradja tidak hanya dipercaya untuk mengajarkan macapat saja, melainkan juga mengajarkan aksara jawa kepada masyarakat umum maupun kepada abdi dalem keraton. Setiap hari Jumat mulai pukul empat sore hingga pukul enam sore, Rama Pradja membuka kelas khusus di Pamulangan Sekar untuk setiap orang yang ingin belajar aksara jawa. Selain itu setiap hari Sabtu, Rama Pradja mengajarkan aksara jawa khusus untuk para abdi dalem keraton di perpustakaan keraton.

Selain menjadi pengajar macapat dan aksara jawa, tugas sebagai abdi dalem yang dijalankan oleh Rama Pradja adalah sebagai penembang macapat di pendopo hotel Ambarukmo. Setiap hari Minggu kliwon, malam Senin legi sejak tahun 1990, Rama Pradja selalu menyanyikan tembang-tembang macapat di hotel Ambarukmo untuk memperingati hari kelahiran Sultan Hamengku Buwana VII. Hal ini dilakukan oleh Rama Pradja sebagai salah satu kewajiban sebagai abdi dalem untuk melestarikan budaya yang sudah ada sebelumnya.

Banyak orang mengira bahwa menjadi abdi dalem sama dengan menjadi asisten yang mengabdi pada kepentingan Sultan sebagai Gubernur DIY. "Abdi dalem itu bukan abdi bagi Sultan, namun bagi Keraton dan kelestarian budayanya", tegas Rama Pradja. Inilah penegasannya mengenai pengabdian dirinya.

Rama Pradja menyakini suatu hal baik mengenai pengabdian dirinya. “Saya punya keyaninan budaya macapat tidak akan punah, karena pasti aka nada penerusnya. Kalau kawula muda sekarang belum tertarik, itu pasti karena mereka belum ada waktu karena mereka memiliki kesibukan dalam dunia pendidikan dan pekerjaannya. Namun, saat umur mereka sudah mencapai saat yang tepat pasti mereka akan tertarik dengan macapat. Suatu kewajiban moral bagi saya untuk mengajarkan tembang-tembang macapat ala keraton untuk melestarikan kebudayaan yang sudah ada. Tanpa diberikan imbalan materi pun saya lakukan dengan sepenuh hati”, imbuh Rama Pradja saat menutup percakapan.

VIDEO PILIHAN