Mohon tunggu...
Shinta Harini
Shinta Harini Mohon Tunggu... Penulis - From outside looking in

Pengajar dan penulis materi pengajaran Bahasa Inggris di LIA. A published author under a pseudonym.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Anugerah, Bukan Kutukan (Part 11)

24 Oktober 2021   14:23 Diperbarui: 24 Oktober 2021   14:29 122 15 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Anugerah, Bukan Kutukan (Sumber: Pixabay)

Bagian sebelumnya...

"Detektif Marko, apa kabar?" Turun dari mobil Ari menjabat tangan seorang detektif polisi muda yang sudah ada di lokasi kejahatan. Sudah beberapa kali Ari membantu Marko menyelesaikan beberapa kasus dan tampaknya mereka akan kembali bekerja sama.

"Hei Ari, kabar tidak begitu baik kalau sudah melihat nanti." Marko menyeringai. "Ayo, kutunjukkan padamu." Bahkan belum mencapai tempat ditemukannya jasad yang dibicarakan oleh Marko di telepon sepanjang perjalanan, Ari sudah langsung merasa aneh.

"Apa yang kau baca?" bisik Marko.

Ari menggeleng. Ia mendengar pertanyaan temannya, bisa menangkap rasa penasaran di suara itu, tapi Ari tidak dapat menjawab. Ia seolah terselubung di dalam kabut yang makin lama makin rapat menyelimuti dirinya, lehernya, dan membungkam mulutnya. Kabut kebencian, amarah, dan keinginan untuk segera menghabisi orang yang menyebabkan semua itu.

"Ia marah," bisik Ari akhirnya.

"Kau bisa lihat orang itu?"

Marko sudah  mengenal cara kerjanya. Ia bertanya bukan menuntut jawaban tetapi lebih untuk menuntunnya melihat apa yang perlu ia lihat. Ari terkadang suka kelewatan atau terganggu dengan bayangan-bayangan lain yang ikut hadir di suatu tempat yang tidak ada hubungannya dengan kasus yang sedang mereka kerjakan. Ari menggeleng untuk pertanyaan Marko tadi.

Mereka akhirnya memasuki rumah itu, melewati dua buah kamar dengan pintu tertutup tapi Ari tahu yang mereka tuju tidak ada di sana. Seorang polisi berpakaian preman membukakan pintu kamar yang ketiga dan rasanya seperti suatu gelombang menghantam Ari ketika ia memasuki kamar itu. Napas Ari terhentak. Ia merasa Marko memandanginya tapi perhatian Ari sudah teralih ke sosok wanita muda yang tergeletak tak bernyawa di tempat tidur.

"Astaga," desis Ari melihat keadaan wanitu itu. Tampak jelas bahwa ia tidak berpakaian di balik selapis kain putih yang dipakai polisi untuk menyelimutinya. Mata wanita itu terbelalak lebar dengan kedua bola matanya berwarna merah darah. Mulutnya terbuka seolah ia mencoba berteriak ketika si pembunuh mengakhiri hidupnya. Kedua kakinya dalam keadaan terbuka dan Ari memejamkan matanya seolah dengan demikian ia dapat menghentikan serentetan kejadian yang terjadi pada wanita itu yang sedang menyerang pikiran Ari kali ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Novel Selengkapnya
Lihat Novel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan