Mohon tunggu...
Shinta Harini
Shinta Harini Mohon Tunggu... Penulis - From outside looking in

Pengajar dan penulis materi pengajaran Bahasa Inggris di LIA. A published author under a pseudonym.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Anugerah, Bukan Kutukan (Part 10)

17 Oktober 2021   10:00 Diperbarui: 17 Oktober 2021   10:03 154 17 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Anugerah, Bukan Kutukan (Sumber: Pixabay)

Bagian sebelumnya...

Molly tahu tinggal di kota ini memang tidak selalu aman, ia hanya tidak mengerti tingkah laku Ari yang dianggapnya terlalu berlebihan, hampir seperti orang paranoid. Tapi Molly tidak berniat untuk tidak mengikuti kata-kata Ari. Ia pasti punya alasan sendiri mengapa ia bertingkah laku seperti itu.

Molly masuk ke rumah dengan tas plastik di tangannya yang ia letakkan di atas meja. Kemudian ia ambil kunci pagar dari laci meja telepon dan keluar lagi untuk mengunci pintu. Ia pun memastikan bahwa pintu kayu raksasa itu juga sudah terkunci rapat. 

Seingatnya tidak ada orang yang keluar masuk lewat pintu belakang tetapi Molly pergi juga untuk memeriksanya. Jangan sampai terjadi apa-apa di rumah ini yang bisa bikin Ari menyalahkannya. Molly kembali ke ruang makan setelah itu. 

Rasa aman menyelimuti dirinya, tetapi juga perasaan seolah ia terkurung di dalam lemari yang besar. Molly membayangkan Ari yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam keadaan seperti ini. Tidakkah ia merasa sesak? Tidakkah ia ingin bebas?

Molly mengambil beberapa kotak Tupperware di lemari di dapur yang sudah ditunjukkan oleh Ari dan menempatkan masakan yang ia beli di kotak-kotak itu. Ayam cah jamur, brokoli udang, mie masak telur, serta nasi goreng ikan asin. 

Mungkin memang agak berlebihan buat mereka yang hanya berdua, tetapi Molly benar-benar ingin menunjukkan rasa terima kasihnya pada Ari. Sungguh sayang mereka tidak jadi makan bersama. Dan karena hanya sendirian, Molly mengambil saja secukupnya di satu piring kemudian memasukkan semua kotak-kotak itu ke dalam lemari es di dapur yang tingginya satu kepala di atas Molly. 

Ia menuang segelas jus apel -- yang menjadi favorit barunya, mengambil sebotol air dingin, dan membawa semuanya ke ruang duduk yang dilengkapi dengan televisi yang bahkan jauh lebih besar dari yang ada di kamarnya. Molly membenamkan diri di sofa di seberang televisi  itu, duduk sambil menyilangkan kaki, dan meraih remote control untuk menyalakan televisi.

Setelah beberapa saat memilih saluran akhirnya ia berhenti di salah satunya yang menyiarkan sebuah film seri. Ia mengenal seri ini walau pun hanya dari Internet. Tentang dua kakak beradik yang berburu hantu sejak ibu mereka mati terbakar di langit-langit rumah mereka ketika mereka masih kecil. 

Selama satu jam ke depan ia diam menikmati makan malamnya sambil menonton film itu. Tidak masalah meski itu film horror dan ia sendirian di rumah ini. Ia sudah biasa seperti itu walau biasanya tempat yang ia tinggali tidaklah sebesar ini. Ia harus mencoba melupakan Ari atau berandai-andai bila ia ada di sini. Sebelum ini Molly pun tidak pernah mengira akan ada teman tinggal serumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Novel Selengkapnya
Lihat Novel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan