Mohon tunggu...
Shila RizkyaPutri
Shila RizkyaPutri Mohon Tunggu... .

.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Hello Star

24 Februari 2021   10:54 Diperbarui: 24 Februari 2021   10:59 42 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hello Star
Olah pribadi

Pagi itu cuaca sangat cerah, burung-burung bernyanyi di atas dahan pohon yang rindang. Suara ayam berkokok mengawali pagi yang indah. Di dalam salah satu rumah di komplek perumahan terdengar teriakan suara seorang gadis.
"Nek, Kek, Ayah, jangan lupa datang ke sekolahku yaa! Aku kan mau tampil hari ini. Jangan lupa yaa, ditunggu loh" ucap gadis itu sambil berlari keluar rumah dan memakai sepatunya.

Ia adalah Ivory Arvie Hezel atau biasa di panggil Ivy. Dia adalah penerus tunggal dari pebisnis makanan cepat saji terkenal se-Jakarta, Jovan Dimas Arvie. Ibunya meninggal dalam kecelakaan bus pada saat Ivy masih berumur dua tahun. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya yang tinggal di Jakarta karena ayahnya sangat sibuk dengan bisnis keluarga.
"Eh iya iya, Vy jangan lari-lari nanti jatuh. Ia nanti kita kesana, tapi kamu ngga sarapan di rumah dulu?" tanya sang nenek.
"Ngga nek, aku sarapan di sekolah aja. Ini udah telat banget aku harus briefing buat pentas nanti. Aku berangkat ya dahh" kata Ivy sembari berlalu dan lari menuju pangkalan ojek.

Memang rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah. Hanya berjarak 2 km dan dia biasa menggunakan ojek untuk berangkat sekolah.
Sesampainya di sekolah ia langsung lari menuju ruang auditorium. Ruang yang sangat luas dengan lantai berwarna coklat kayu dan cat putih, juga disertai ornamen unik yang harganya lumayan mahal untuk dipajang di sekolah. Kini ruangan itu dipenuhi dekorasi cantik untuk menunjang acara pentas tahunan yang sering diselenggarakan dan mengundang orang tua atau wali murid.
Jam sudah menunjukan pukul 06.15 WIB, dimana itu sudah telat 15 menit dari jadwal yang tertera. Saat sampai, Ivy langsung disambut oleh beberapa pertanyaan dari teman temannya.

"heh dari mana aja lo jam segini baru sampe? Pasti lo telat bangun terus ngga mandi kan pas berangkat kesini?" ujar Rayna, teman sekelas Ivy yang juga teman di extrakulikuler paduan suara.
"eh enak aja, ngga kesiangan dan juga mandi kali. Cuma tadi macet aja di jalan" ujar Ivy.
"kebiasaan banget Vy. Acara gede gini juga masih telat." Kata Kak Mike, pelatih sekaligus manager grup paduan suara itu.
"maaf kak tadi emang macet terus aku juga berangkat 15 menit sebelum jam 6 kok" Ivy beralasan. Sebenarnya tadi Ivy harus antri toilet di rumah berujung berangkat sekolah jam 6 kurang lima menit.

Lalu briefing dimulai sampai jam 6 lebih 45 menit. Dilanjut sarapan bagi yang belum sempat di rumah.
Pukul 09.00 WIB acara pentas dimulai. Yang menjadi pembuka acaranya adalah penampilan dari grup paduan suara "NADA". Anggota grup berjalan ke atas panggung yang megah dengan nuansa warmtone saat nama mereka di panggil. Ivy berada dibarisan paling belakang dan ia ditempatkan di tengah karena ia akan bernyanyi solo pada lagu pertama dan kedua.

Saat sudah berada diatas panggung ia mencari kehadiran keluarganya. Namun tak ada, ia sangat sedih tapi ia menyembunyikan kesedihan itu dibalik senyumannya. Acara pun dimulai. Itu berjalan sangat lancar dan saat mereka membawakan lagu terakhir, Ivy melihat keluarganya datang dan duduk dibarisan penonton belakang. Ivy sangat senang. Senyumannya mengembang membuat matanya juga ikut senyum.
Penampilan itu diakhiri dengan suara riuh tepuk tangan penonton. Ia juga sesekali mendengar namanya dipanggil oleh ayah dan kakeknya.
Mereka lalu turun dari panggung dengan anggun dan rasa bahagia serta bangga. Terutama Ivy. Baru kali ini ia melihat keluarganya di barisan para penonton. Biasanya ia hanya sendiri karena nenek dan kakenya sudah tua, juga ayahnya yang sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak punya waktu untuk sekedar melihat anaknya tampil di panggung.

Lagipula mereka memang sudah seharusnya datang mengingat ini adalah pentas terakhirnya di sekolah bersama teman grupnya. Karena ini adalah tahun ke tiga dia sekolah disini. Otomatis tahun depan ia akan lulus dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi yaitu Universitas.
Ucapan selamat dan pujian datang dari teman kelas maupun teman grup paduan suara. Ia berterimakasih lalu pergi menyusul keluarganya di barisan penonton.

"Ayah! Kakek! Nenek! Gimana tadi pentas aku? Bagus kan" ujar Ivy dengan senyuman cerah di wajahnya.
"bagus banget nak, ayah bangga deh sama kamu" ucap ayahnya memberi pujian.
"bagus Vy belajar darimana sih suaranya sampe melengking gitu?" goda nenek sambil tertawa.
Kakeknya hanya tersenyum dan mengacungkan kedua jempol tangannya. Dia tipikal orang yang irit berbicara dan lebih suka mengapresiasi lewat gerakan tubuhnya.

"oh iya Vy, kamu ada tampil lagi ngga? Ayah ada urusan di kantor jadi ngga bisa lama lama disini" kata ayah bertanya.
"emm ada sih tapi nanti kayanya buat penutup acara ini. Kalo ayah ada urusan gapapa deh" ujar Ivy yang sebenarnya kesal karena mereka baru datang sebentar dan tak sempat melihat acara penutupnya.
"Nenek sama Kakek juga ikut pulang ya soalnya sudah cape faktor usia juga. Jadi ngga bisa lama berdiri" ucap nenek sambil terkekeh "kamu baik baik ya disini, jangan nakal loh. Pulang jangan terlalu larut ya sayang" suara serta nada bicara nenek yang lembut membuat hatinya luluh dan tak kesal lagi.

"yaudah deh tapi hati-hati di jalan ya. Yah jangan ngebut bawa mobilnya. Nek kalo Ayah ngebut cubit aja perutnya" ujar Ivy sambil melambaikan tangannya.
Mereka sudah berlalu pergi meninggalkan dia disana. Ditempat yang ramai itu dia merasa kesepian. Lalu Ivy duduk di bangku penonton dan menikmati acara pentas itu sendirian. Bukan tak mau berbaur dengan teman tapi dia merasa hanya ingin sendiri saja saat ini.
Acara hari itu pun selesai dengan lancar tanpa adanya kendala yang berarti. Semuanya saling memberika nasehat kepada adik kelas penerus grup paduan suara NADA. Tahun ini, tahun terakhirnya dia bersama NADA. Ia ingin menangis tapi ditahan karena tidak ingin mengubah suasana menjadi sangat kacau.

Mereka pulang ke rumah masing-masing termasuk Ivy. Saat dia sedang berjalan di depan gerbang, ia dicegat oleh Saga, teman sekelasnya.
"Hei Vy, mau bareng ga kebetulan gue juga mau ke arah rumah lo" ujar lelaki bertubuh tinggi semampai dengan hoodie coklat, motor ninja dan helm sport-nya yang terlihat mahal.
"Eh Ga, tumben" Ivy merasa keheranan karena biasanya tak ada yang boleh menduduki jok belakang motor kesayangannya itu.
"ayo mau ikut ngga?"
"eh iya"

HALAMAN :
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x