Mohon tunggu...
Muhammad shidiqsaputra
Muhammad shidiqsaputra Mohon Tunggu... Penulis

Seorang saintis yang mencoba menulis

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Siapa Akan Melanjutkan "Anak Pertanian?"

21 Mei 2019   09:41 Diperbarui: 21 Mei 2019   09:59 0 2 0 Mohon Tunggu...

Jumlah tenaga pertanian pada awal tahun 2018 menurut BPS (badan pusat statistika) berkisar 35.875.389  orang. Jumlah yang sangat banyak mengingat Indonesia selain negara maritim juga merupakan negara agrarian dengan banyak penduduknya yang masih sangat bergantung dengan hasil pertanian. Bagaimana dengan perkembangan SDM (sumber daya manusia) pertanian dari tahun ke tahun? Berdasarkan BPS jumlah tenaga pertanian pada bulan agustus tahun 2016 dan 2017 adalah 35.088.823 dan 33.359.561. 

Dari kedua data terasebut kita bisa lihat bahwa ada trend penurunan jumlah tenaga pertanian yang cukup banyak ditiap pertengahan tahun. Menjadi sebuah permasalahan jika trend ini terus berlanjut sehingga ini menimbulkan sebuah pertanyaan "siapa akan?". 

Dengan topik utama regenerasi petani yang artinya siapa yang akan melanjutkan para petani. maka muncul dua kandidat terkuat yang terpilih yaitu anak petani dan anak pertanian. Banyak perpektif yang dapat dilihat dari keduanya. Mari kita lihat keduanya.

  1. Anak petani

Memang tidak dapat disangkal lagi, penerus petani terbanyak adalah para anak petani sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi seorang petani menjadikan anakya sebagai penerusnya. Diantara faktor yang paling berpengaruh adalah ekonomi dan pendidikan. 

Kedua faktor ini berperan penting dalam menciptakan persepsi seorang petani mengharapkan bahwa anaknya akan menjadi seorang petani pula. Dari faktor ekonomi seorang petani yang memiliki ekonomi rendah kebanyakan tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang perkuliahan. 

Begitu pula dengan anak petani tersebut kebanyakan dari mereka lebih baik bekerja dipertanian membantu orang tua daripada harus melanjutkan pendidikan yang memakan banyak biaya.Kita bisa tahu bahwa mereka yang bekerja sebagai petani memang kebanyakan dari masyarakat ekonomi menengah kebawah. 

Lalu dari pendidikan orang tua yang rendah mengakibatkan kurang pedulinya orang tua terhadap pendidikan anak atau lebih tepatnya mereka kurang tau urgensi pendidikan untuk karir masa depan anak mereka sendiri.

 Dari sini saja kita sudah dapat melihat bahwa anak para petani ini yang terjerat dalam dua faktor ini kemungkinan besar akan meneruskan orang tuanya. Bisa dilihat bahwa sekilas kedua faktor tersebut menempatkan petani dalam kondisi yang cukup buruk.

Lalu apakah kondisi ini harus dirubah? Ya memang kedua faktor tersebut menjadikan pertanian dalam kondisi buruk namun ada hal yang perlu di garis bawahi. Sekian banyak yang akan meneruskan para petani ini adalah anak-anak petani tersebut sehingga jika tanpa ada regenerasi dari anak petani tersebut maka jumlah sdm bidang pertanian akan berkurang sangat drastis dan ini berimbas pada hasil pertanian juga. 

Disinilah peran kementrian pertanian lewat program "peningkatan kualitas petani dan kelembagaannya" untuk mengembangkan potensi petani muda agar dapat memberdayakan kelompok dan diri mereka sendiri agar tidak hanya kuantitas saja yang dihasilkan melainkan kualitas terbaik juga didapatkan. Sehingga faktor kualitas akibat minimnya pendidikan seorang petani akan dapat teratasi dan menciptakan sdm yang cukup berkualitas.

      2. Anak pertanian

Banyak perguruan tinggi negeri maupun swasta yang memiliki jurusan pertanian di Indonesia yang tiap tahunnya telah banyak meluluskan sarjana pertanian. Menurut data PDDikti pada tahun 2017 lulusan sarjana di Indonesia sebanyak 1.046.141 jiwa. 

Ini meliputi seluruh jurusan di perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Jika  saja kita asumsikan lulusan sarjana pertanian adalah 5% dari total keseluruhan nya maka jumlahnya hanya 52.307 jiwa. 

Sedangkan kebutuhan sumber daya pertanian tiap tahunnya lebih dari 30 juta jiwa. Jika dilihat trend penurunan jumlah SDM pertanian ini memang sangat wajar melihat jumlah lulusan sarjana pertanian yang ada di Indonesia . Ditambah banyak lulusan sarjana pertanian yang kebanyakan malah bekerja di dunia perbankan membuat semakin kurang nya SDM pertanian.

Lalu apakah sebenarnya peran dari para lulusan sarjana pertanian ini? Jumlah sarjana pertanian memang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah kebutuhan SDM pertanian di Indonesia. Tapi peran mereka adalah sebagai seorang akademisi dan inisiator hal-hal baru dalam bidang pertanian yang memang peluang terbesar dalam hal inovasi dimiliki mereka yang pernah menempuh jalur pendidikan. 

Selain itu sebagai seorang akademisi sarjana pertanian juga dapat berperan dalam pembuat kebijakan jika mereka mampu untuk masuk lembaga pemerintahan dalam bidang pertanian, seperti kementrian pertanian. 

Didalam kementrian pertanian guna meningkatkan kualiatas petani yang masih kurang, maka munculah program "penumbuhan dan pengembangan kelompok tani dan gabungan kelompok tani melalui kelas kemampuan kelompok" dan ada juga "pengawalan dan pendampingan penyuluhan di sentra produksi melalui kursus tani, hari lapang petani,rembug tani dan lainya" yang semua program ini dibutuhkan para akademisi untuk mengisinya.

Memang paradigma siapa yang akan menjadi penerus para petani terus bergulir tiap tahunnya. Tidak dapat dipungkiri kemajuan zaman menjadi faktor utama dalam berkurangnya minat para pemuda. Menjadi PR besar bagi kita bangsa Indonesia terutama bagi kementrian pertanian untuk mencari cara agar menarik minat para pemuda milenial. 

Meski begitu patut kita apresiasi setiap pencapaian yang telah diusahakan oleh kementrian pertanian. Kembali lagi siapa yang akan menjadi penerus para petani? Semua itu ditentukan oleh kita para penerus bangsa.