Mohon tunggu...
S Herianto
S Herianto Mohon Tunggu... pegawai negeri -

Katanya orang-orang, saya penulis, fotografer, designer grafis, dan suka IT. Bisa jadi. Tulisan saya juga ada di www.cocokpedia.net

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pesan Si Pemandi Jenazah

8 April 2017   22:16 Diperbarui: 9 April 2017   06:00 23579
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aku benar-benar takut menghadapi mautku sendiri. Betapa malunya jika keadaan-keadaan yang tidak indah terjadi dengan tubuhku ketika aku meninggal dan dimandikan sanak saudara dan keluarga besarku, terutama anak-anakku.

“Hampir semua orang merasa takut keadaan tidak baik ketika ia meninggal. Jangan takut, sekali lagi jangan takut, Anakku. Beranilah mati! Beranilah mati, dengan catatan memperbesar kerinduan kita akan pertemuan dengan Tuhan yang Maha Pengampun dan Maha Kasih. Semakin besar rasa rindu itu, semakin semangat untuk hidup dan semakin berani menghadap maut, karena kematian adalah titik awal pertemuan kita denganNya. Sepertinya kita harus kerja sungguh-sungguh untuk mepersiapkan kematian kita.”

Aku terdiam. Kalimatnya terlalu berat. Kusimpan dalam-dalam pesannya.

“Apakah dicabutnya kehidupan kita itu sakit?”

“Sangat sakit, Anakku. Begitu menurut keterangan. Makanya, saya memandikan mayat sangat hati-hati dan bersikap lembut. Air tidak boleh terlalu panas atau terlalu dingin. Menggosoknya ketika memandikan juga tidak boleh terlalu kasar. Karena dicabutnya nyawa itu, sakit yang paling ringan seperti disobeknya seluruh kulit kambing sekali hentak dalam keadaan hidup.”

Gambaran yang sangat mengerikan. Aku tak bisa berkata-kata. Aku tambah terdiam. Aku tak bisa bertanya apa-apa lagi. Badanku terasa lemas. Otot-ototku terasa lunglai. Bibirku pun kehilangan gerak. Akalku mendadak buntu. Hatiku terasa sakit. Dalam hati aku bertanya, apakah aku orang yang paling berdosa di dunia ini? Akankah dosa-dosaku yang tak terhingga besar dan banyak ini akan Tuhan ampuni dengan kemahakasihNya? Kalau bukan Dia, kepada siapa lagi tempat memohon ampun dan perlindungan ketika menghadapi maut? Apakah aku termasuk orang yang Dia abaikan sehingga tak terbersit setitik pun cahaya di hatiku untuk melulu merindukanNya? Apakah kematianku kelak memiliki keadaan yang setidaknya wajar?

Pikiran-pikiran mengerikan mencengkram perasaanku. Keringat dingin mengembun di dahiku. Raga Patmi sepertinya meneruskan omongannya, tapi aku telah kehilangan fokus. Bukan tidak lagi menarik, tapi aku mulai memikirkan keadaanku sendiri.

“Anakku,” ia menepuk pundakku. Menarikku kembali berbincang.

“Semua orang memiliki dosanya masing-masing. Tidak ada orang yang bersih dari dosa, kecuali yang telah ditetapkan Tuhan. Paling tidak, pengakuan kita bahwa kita menyadari sebagai pendosa saja telah bisa mengantarkan kita kepada pengampunanNya. Jangan berburuk sangka kepada Tuhan. Seluas apa pun dosa kita memenuhi semesta, masih lebih luas pengampunan dan rahmatNya. Yakinlah!”

“Tapi, ....”

“Ssst!” ia menghentikanku melanjutkan kalimatku. “Rindukan Dia, maka Ia akan lebih rindu kepadaMu. Melangkahlah ke arahNya, walaupun dengan merangkak. Pasti Ia akan datang kepadaMu dalam kecepatan berlari menolongmu, mengentasmu, dan memberi petunjuk kepada meniti jalan ke arahNya!”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun