Kesehatan

Sistem Drainase di Indonesia

6 Desember 2017   20:57 Diperbarui: 6 Desember 2017   21:06 372 0 0

Drainase adalah pembuangan alami atau buatan air permukaan dari suatu daerah. Drainase penting untuk fungsi sukses sebuah lokasi proyek. Drainase membantu mengarahkan aliran air (dari hujan atau irigasi) untuk menghilangkannya dari permukaan tanah. Ada dua kegunaan untuk sistem drainase sebagai bagian dari sistem perkotaan atau kota yang ada dan berkembang. Sistem drainase ada di tempat untuk menghilangkan kelebihan air dalam suatu perkembangan. Ini bisa berupa air banjir dan air hujan dan berbagai jenis limpasan. Sistem drainase juga ada untuk membuang air limbah secara efektif, dan ini disebut sebagai sistem saluran pembuangan. 

Tidak memiliki sistem drainase yang tepat di tempat akan mengakibatkan banjir daerah dataran rendah, sehingga menyebabkan kerusakan properti dan risiko kesehatan. Sistem drainase yang efektif adalah sistem yang menghilangkan semua kelebihan air tanpa menimbulkan ketidaknyamanan dalam hal disain. Misalnya, di daerah yang memiliki banyak bangunan seperti tempat tinggal dan pertokoan, tidak bisa ada saluran air terbuka yang mengalir melalui daerah. 

Dari pendapat saya, sistem drainase di Indonesia masih rendah standar kelayakannya di lingkungan perkotaan. Di banyak tempat di Indonesia saat ini, ada kebutuhan besar akan sistem drainase berkelanjutan yang dikelola dengan baik untuk membantu mengelola limpasan air permukaan. Lingkungan tetap bermunculan tanpa perencanaan yang tepat, yang juga melibatkan perencanaan drainase dan pembuangan limbah. Warga secara teratur membuang sampah mereka ke selokan, dan ini menyumbat selokan dan mencegah aliran air, menyebabkan selokan meluap. Hal ini biasa melihat jalan-jalan banjir dengan sampah mengapung di mana-mana setelah curah hujan singkat. 

Situasi seperti ini menciptakan kondisi yang sangat tidak sehat bagi penghuni lingkungan sekitar dan berkontribusi terhadap degradasi lingkungan. Yayat Supriyatna, seorang perencana kota dari Universitas Trisakti di Jakarta, mengatakan bahwa selain curah hujan intensitas tinggi, pembangunan perkotaan di banyak kota di negara tersebut tidak disertai dengan tindakan pengelolaan air yang memadai . Selain itu, banjir melanda wilayah Jakarta Metropolitan, Indonesia pada tanggal 21 Februari 2017. 

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), banjir terjadi karena sistem drainase kota tidak dapat menampung air yang meluap . Pihak berwenang yang bertanggung jawab harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah banjir. Dalam beberapa kasus, banjir tidak dapat dikendalikan karena merupakan bencana alam. Oleh karena itu, beberapa proyek penyiapan mitigasi banjir harus dilakukan untuk mencegah kerugian. 

Misalnya, proyek SMART (storm water management and road tunnel) berfungsi sebagai drainase badai dan struktur jalan di Malaysia. Panjang terowongan air badai berjalan 9,7 km sedangkan panjang terowongan jalan tol adalah 4 km. Terowongan yang terpanjang di Malaysia dibangun untuk memecahkan masalah banjir bandang di Kuala Lumpur. Ini bertindak sebagai terowongan jalan bila tidak ada banjir. Dalam situasi di mana tingkat banjir sedang moderat, air hujan akan dialihkan ke ruang drainase bawah di terowongan sementara tingkat atas terowongan tetap terbuka untuk pengendara. Akhirnya, terowongan akan ditutup untuk lalu lintas selama banjir yang sangat berat dan digunakan sepenuhnya agar air banjir bisa lewat dengan menggunakan gerbang kedap air . 

Kesimpulannya, sistem drainase di Indonesia harus ditingkatkan untuk menghindari banjir yang akan menyebabkan kerusakan serius pada rumah, toko dan infrastruktur. Pemerintah harus meninjau dan mengevaluasi sistem drainase yang ada sehingga bisa ditingkatkan. Selain itu, mereka harus mengendalikan kegiatan yang berdampak atau berdampak pada sistem drainase seperti pemeliharaan saluran air dan irigasi yang buruk dan pengotoran sampah. Akhirnya, implementasi MSMA dalam merancang sistem drainase baru dalam pembangunan baru harus ditingkatkan.