Mohon tunggu...
Shendy Adam
Shendy Adam Mohon Tunggu... ASN Pemprov DKI Jakarta

seorang pelayan publik di ibu kota yang akan selalu Berpikir, Bersikap, Bersuara MERDEKA

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

"Kambing Hitam" Kemacetan Tanah Abang

8 November 2017   09:53 Diperbarui: 8 November 2017   21:34 3311 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Kambing Hitam" Kemacetan Tanah Abang
Pejalan Kaki di Tanah Abang| Sumber: https://www.kompas.tv

Pernyataan wakil gubernur Sandiaga Uno soal pejalan kaki di sekitar stasiun Tanah Abang segera saja menjadi polemik. Para haters mendapat bahan lagi untuk merisak (bullying).

Semua bermula dari pernyataan Sandi, Senin (6/11) kemarin kepada jurnalis. "Tadi setelah dilihat pakai drone, kesemrawutan itu adanya karena pejalan kaki yang keluar dari stasiun Tanah Abang," ujarnya. Jelas saja banyak yang meradang dengan statement Sandi. Wagub terkesan menyalahkan pedestrian -arti sebenarnya adalah pejalan kaki, bukan tempat berjalan kaki atawa trotoar--yang justru seharusnya diapresiasi karena mengurangi jumlah kendaraan pribadi.

Pernyataan ini sebetulnya agak bertolak belakang dengan yang Ia ucapkan sendiri, sebagaimana diunggah di akun media sosial Instagram, Jumat (29/10). Saat itu, Sandi justru menyatakan bahwa semangat dari trotoar adalah untuk memuliakan pejalan kaki. Menurutnya, berdasarkan data dari Waze dan Qlue kemacetan di kawasan tersebut lebih banyak disebabkan perbaikan jalan serta ketidaksabaran dari pengendara kendaraan bermotor.

Sumber : akun Instagram @sandiuno dan screenshoot liputan6.com, diolah
Sumber : akun Instagram @sandiuno dan screenshoot liputan6.com, diolah
Dalam waktu tiga hari, wakil gubernur melontarkan pernyataan yang kontradiktif. Padahal, dalam dua kesempatan itu ia selalu mendasarkan argumennya berdasarkan data yang berasal dari teknologi mutakhir, yaitu Waze dan Qlue (di hari Jumat) dan drone (Senin).

Pada beberapa kesempatan, Sandi memang menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta akan lebih mengandalkan analisis data dalam pengambilan kebijakan (data driven policy). Jakart Smart City diharapkan jadi ujung tombak dalam penyediaan data. Ini sebuah terobosan bagus, namun harus diperhatikan betul keakuratan data dan kekuatan analisisnya.

Soal membludaknya pejalan kaki di area Stasiun Tanah Abang memang betul adanya, meski saya tidak pernah melihat dengan drone. Namun, kondisi tersebut hanya temporer, khususnya di pagi hari. Coba saja melintas saat peak hour, antara jam 07 sampai jam 09 pagi, dan lihat sendiri betapa banyaknya penglaju yang baru sampai di Jakarta. Analisis bisa lebih akurat, kalau saja JSC atau siapapun bisa menyediakan data berupa heatmap mobilitas orang di sekitar Tanah Abang dari waktu ke waktu dalam 24 jam.

Situasi saat ini sebetulnya sudah jauh lebih baik, terutama sejak PT. KAI menerapkan kebijakan satu pintu keluar dan revitalisasi trotoar oleh Dinas Bina Marga.

Di jam tersebut, kemacetan semakin menjadi karena ulah sopir mikrolet, bajaj maupun biker ojek online (ojol) dan ojek konvensional yang menunggu penumpangnya di sembarang tempat.

Seharusnya sih gambar ini terlihat sangat jelas kalau pakai drone. Sebaran titik hijau (baca: helm pengendara ojol) merata di sekitar area Stasiun Tanah Abang, Jalan Jatibaru, bahkan ada juga di atas jembatan layang Jatibaru. Wagub sendiri merasakan dibentak oleh tukang ojek yang tidak tertib di daerah tersebut.

Solusi yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk masalah ini adalah menyediakan bus pengumpan (feeder) dari stasiun ke beberapa titik strategis. Apabila kapasitas daya angkut feeder bus memadai dan alternatif rute cukup variatif, sepertinya Roker dan Anker tak ragu beralih dari moda yang ada saat ini.

Kita sudahi dulu soal pejalan kaki di sekitar stasiun, yang tadi sudah saya katakan sifatnya hanya sementara di jam-jam tertentu saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x