Tekno

DSLR Menjadi Trending, Kenapa?

11 Oktober 2017   21:23 Diperbarui: 11 Oktober 2017   22:07 506 1 0
DSLR Menjadi Trending, Kenapa?
Hasil gambar untuk gambar anak megang kamera dslr

                                                                                   

Anak mana sih yang gak tahu kamera DSLR? Zaman sekarang teknologi semakin maju, jika ada anak yang kudet pasti di ejek sama temannya *gak boleh loh ya, hehe. Anak-anak muda zaman sekarang belum keren kalau jalan-jalan gak bawa kamera DSLR, semua pada selfie pakai DSLR. Padahal DSLR bukan untuk selfie doang, yuk kita baca komponen-komponen DSLR. Cekidott . . . .

                                             

    

DSLR
Merupakan singkatan dari digital single lens reflect artinya kamera dengan lensa tunggal. Lensa tunggal adalah lensa pembidik sama dengan lensa perekam. DSLR mengadopsi sistem yang dimiliki oleh SLR, yaitu sistem cermin otomatis dan pentaprisma. Sistem tersebut berguna untuk meneruskan cahaya dari lensa menuju ke jendela bidik. Keunggulan dari sistem ini ialah apa yang terlihat itulah yang terekam. Sehingga kamera DSLR mampu menghasilkan gambar yang sesuai dengan realita.

Setiap kamera DSLR mempunyai tiga komponen utama di dalamnya. Ketiga komponen ini yaitu body kamera, lensa, dan sensor digital.

1. Body kamera
merupakan bagian utama dari sebuah kamera, dimana keseluruhan proses pengambilan gambar terjadi. Proses pengambilan gambar yang dimaksud adalah proses masuknya cahaya melalui lensa, kemudian diterima atau diolah hingga menjadi sebuah foto atau gambar dalam format digital.

2. Lensa kamera
Lensa sering diibaratkan 'mata' pada kamera. Bagian ini berfungsi untuk menangkap, memfokuskan dan mengantarkan cahaya ke dalam body kamera, untuk kemudian diolah menjadi sebuah gambar. Dalam fungsinya, lensa biasanya akan dibantu oleh tiga cincin. Pertama, cincin diafragma (aperture) yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk. Kedua, cincin fokus yang berfungsi untuk memfokuskan objek. Ketiga, cincin zooming yang berfungsi untuk memperbesar tampilan objek, dimana pembesaran ini tergantung pada jarak serta ukuran lensa.

3. Sensor digital
Merupakan pengganti plat film seperti pada kamera analog. Komponen inilah yang pada dasarnya membedakan antara teknologi analog dan teknologi digital pada kamera. Cahaya yang datang melalui lensa akan diterima oleh sensor digital, selanjutnya cahaya ini akan di proses oleh prosesor/komputer di dalam body kamera.

Mode fokus
Fokus merupakan titik berkumpulnya cahaya yang berada tepat di titik sensor kamera. Sebuah foto dikatakan tidak fokus apabila titik tadi jatuh didepan atau di belakang sensor kamera. Dengan kata lain jatuhnya tidak tepat mengenai sensor, hasilnya berupa foto yang buram, kabur, dan tidak tajam.
Terdapat beberapa mode fokus pada kamera DSLR. Mode fokus ini dapat diatur baik secara otomatis ataupun manual. Berikut ini adalah jenis-jenis mode fokus yang terdapat pada kamera DSLR:

1. Auto fokus
Autofokus pada kamera dapat digunakan apabila kita merasa kesulitan dalam menentukan fokus objek. Mode ini dapat menentukan fokus secara otomatis tanpa memutar cincin fokus pada lensa. Auto fokus cukup mudah digunakan.

2. Fokus manual
Metode fokus manual dilakukan dengan cara memutar cincin fokus pada lensa. Metode ini lebih disukai oleh para fotografer profesional, karena dapat membidik objek lebih presisi, fokus manual juga lebih banyak digunakan untuk memotret benda-benda kecil dengan jarak yang ukup dekat, bila dibandingkan dengan metode auto fokus. Dalam menentukan fokus, metode auto fokus bekerja dengan cara membedakan kontras warna pada objek, untuk kondisi objek yang demikian autofokus mempunyai kelemahan. Jarak yang terlalu dekat menyebabkan objek memiliki kontras warna yang rendah. Akibatnya objek sulit membedakan sensor. Jika demikian kamera akan mengalami kegagalan dalam mendeteksi objek.

                                                       

              

Diafragma & Shutter speed
Eksposure adalah seberapa banyak dan seberapa lama jumlah cahaya yang harus mengenai media perekam. Hal ini berarti, sebuah eksposure yang tepat dapat diperoleh dari hasil kombinasi yang sesuai antara bukaan diafragma, shutter speed, dan ISO. Ketiga hal inilah yang disebut dengan elemen-elemen dalam eksposure. Untuk menghasilkan foto terbaik, maka seorang fotografer harus memperoleh eksposure yang tepat. Pada dasarnya sebuah eksposure tersusun dari tiga buah elemen dasar. Elemen-elemen dasar tersebut yaitu, aperture (diafragma), shutter speed (rana), dan ISO. Diafragma dan shutter speed merupakan elemen yang memiliki hubungan paling kuat. Satu sama lain saling mengisi dan mempengaruhi untuk mendapatkan eksposure yang terbaik.
Diafragma berfungsi mengatur jumlah intensitas cahaya yang masuk. Semakin lebar bukaan diafragma, maka akan semakin banyak cahaya yang masuk, semakin sempit bukaan diafragma, maka akan sedikit pula intensitas cahayanya. Ukuran diafragma dinyatakan dalam f-stops, yang dilambangkan dengan f/ dan diakhiri dengan angka. Semakin kecil angka yang ditunjukkan, berarti semakin lebar bukaannya. Sebaliknya, semakin besar angka yang ditunjukkan, berarti semakin kecil bukaannya. Elemen yang kedua yaitu shutter speed, shutter speed adalah lamanya waktu rana (shutter) dalam membuka hingga menutup kembali. Semakin lama shutter terbuka, semakin banyak cahaya yang masuk. Sementara semakin singkat shutter terbuka, maka akan sedikit pula intensitas cahayanya. Jadi selain mengatur bukaan diafragma, mengatur bukaan shutter speed juga merupakan salah satu untuk mengendalikan jumlah cahaya.

ISO
ISO dapat didefinisikan sebagai tingkat sensitivitas sensor kamera terhadap cahaya yang mengenainya. Tingkat sensitivitas ini dinyatakan dengan sejumlah angka. Semakin besar nilai ISO yang ditunjukkan, maka makin tinggi tingkat sensitivitas sensor yang dimiliki. Oleh karena itu, ISO tinggi biasanya hanya digunakan pada kondisi gelap atau kurang cahaya. 

Sementara pada kondisi ruang yang banyak cahaya, kita cukup menggunakan ISO rendah. Menaikkan ISO beresiko tinggi terhadap penurunan kualitas gambar. Semakin tinggi nilai ISO, maka akan semakin banyak pula noise yang dihasilkan. Noise berupa bintik-bintik kecil seperti butiran pasir yang terdapat pada foto. Dengan menaikkan ISO pada pengaturan eksposure harus menjadi opsi terakhir jika diantara diafragma dan shutter speed sudah tidak dapat dimaksimalkan kembali.

Sampai disini dulu ya kawan, kapan-kapan kita sambung lagi. Semoga bermanfaat.. Aamiin ^-^