Mohon tunggu...
Shela Nuraini
Shela Nuraini Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa D4 Pengobat Tradisional Universitas Airlangga

Halo!

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Budaya Hustle Culture pada Generasi Millenial Saat Ini

13 Juni 2022   11:28 Diperbarui: 13 Juni 2022   12:05 598
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

BUDAYA HUSTLE CULTURE PADA GENERASI MILLENIAL SAAT INI

Dengan teknologi apapun bisa dijadikan komoditas untuk dijual, memicu semua orang berkompetisi untuk mengembangkan gagasan, berbeda dengan generasi sebelumnya yang bekerja hanya untuk mencari uang semata. Banyaknya perubahan dan teknologi yang semakin canggih, seseorang menjadi lebih produktif dalam melakukan hal yang ingin dicapai. Produktivitas yang tinggi menyebabkan adanya Hustle Culture. 

Hustle Culture merupakan sebuah gaya hidup di mana seseorang merasa bahwa dirinya harus terus bekerja dan hanya meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat. 

Dengan begitu ia dapat menganggap dirinya sukses. Hustle Culture dicetuskan sudah sejak tahun 1971, dan kini dimana perkembangan zaman seperti peran media sosial, Hustle Culture ini menyebar begitu cepat terutama di kalangan milenial. Produktivitas yang berlebih dianggap mereka menjadi tolak ukur untuk menggapai kesuksesan. Semangat dan ambisi generasi muda dalam dunia profesional sangat tinggi

Hustle Culture memotivasi generasi muda untuk menjadi pekerjaan sebagai tujuan hidup. Dengan percepatan dinamika perekonomian sekarang, masa depan juga menjadi tidak pasti. Sehingga, generasi muda mau tidak mau harus berkompetisi lebih keras. Namun, bekerja keras tetap penting lagipula tidak bisa kita duduk diam dan berharap keadaan akan membaik dengan sendirinya. 

Ketika kita bisa mencapai hal lebih dan mengalahkan yang lainnya, banyak yang akan menghargai dan memuji. Sehingga, kepercayaan diri meningkat. Budayaa ini pun melatih kedisiplinan tingkat tinggi, karena meskipun melelahkan, kerja keras turut membangun ketangguhan mental. Banyak juga yang termotivasi untuk terus mencapai sesuatu yang belum pernah dicapai orang lain. 

Awalnya, kerja berlebih mungkin memacu produktivitas, tetapi menghiraukan batasan diri terlalu lama akan berdampak buruk. Berbagai studi membuktikan selain menimbulkan gangguan kecemasan dan depresi, jam kerja yang berlebih ternyata tidak berdampak signifikan pada meningkatnya level kebahagiaan generasi ini. 

Meskipun pada akhirnya taraf kehidupan membaik, ternyata malah banyak yang frustasi, mengaku tidak bahagia, dan berpandangan hidup negatif. 

Lama lama obsesi pada Hustle Culture telah mendorong krisis mental dan telah memicu burn out. Burn out disebabkan oleh stres kronis yang tidak terkelola dengan baik berupa kemampuan kerja yang berkurang dan bekerja seperti tanpa tujuan/bisa dlm bentuk mereka akan merasa lelah dan akan menarik diri dari pekerjaan.

Gangguan kecemasan dan depresi juga menjadi salah satu penyebab utama menurunnya tingkat produktivitas. Maka dari itu, sesekali kita harus berhenti melihat gambaran besarnya, karena meskipun dijanjikan imbalan besar, banyak yang akhirnya terperangkap dalam adrenalin semata.

Faktor yang dapat menyebabkan munculnya Hustle Culture yaitu 

  • adanya kemunculan industri baru
  • industri yang mengedepankan kreativitas dan inovasi
  • adanya konstruksi sosial

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun