Mohon tunggu...
Shamar Khora
Shamar Khora Mohon Tunggu...

Referensi Pendamping, Inspiratif, Berimbang

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Wujudkan Ide LAPAN Rancang N-2140

29 Mei 2015   14:53 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:28 1406 0 0 Mohon Tunggu...
Wujudkan Ide LAPAN Rancang N-2140
14328850261817615849

Kepala Program Pesawat Terbang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Agus Aribowo telah melansir sebuah ide cemerlang, LAPAN bermaksud merancang pesawat propeller komersial terbesar N-2140, yang disampaikan sebelum akhir tahun lalu (November 2014).

Rancangan pesawat N-2140 dibuat berbadan lebar dan kelak akan menjadi pesawat komersial propeller terbesar di dunia. Sebelumnya, dunia telah menyaksikan kehadiran dua pesawat militer baru terbesar di dunia, yaitu AN-70 hasil kerja sama Rusia dan Ukraina serta Airbus A-400M racikan Airbus Military Spanyol beserta konsorsium industri pemasok komponen pesawat terbang Eropa dan dunia. Namun, perkembangan masa depan AN-70 sekarang ternyata penuh ketidakpastian sejak Rusia dan Ukraina saling berhadapan terkait isu-isu separatisme.

Agus Aribowo mengakui bahwa ide LAPAN untuk merancang N-2140 sebagian berasal dari kehadiran A-400M Atlas. Pesawat baling-baling bermesin empat tersebut merupakan produk terbaru milik mitra terdekat PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Wujud pesawat A-400M berbodi kekar memang terlihat mengesankan dengan keempat mesinnya memiliki delapan bilah baling-baling berbentuk melengkung.

1432884924883555801
1432884924883555801

AN-70 dan A-400M diketahui berkompetisi ketat di jajaran pesawat angkut berat multirole taktis-strategis militer. Sebaliknya, N-2140 tidak perlu dirisaukan akan muncul sebagai pesaing bagi keduanya. Jika Indonesia kelak berhasil mewujudkannya, maka calon maskot baru produksi PTDI ini sebatas bermain di pangsa pasar pesawat penumpang sipil. N-2140 akan berkapasitas 144 penumpang.

Kajian ATR dalam Regional Turboprop Market Outlook 2014-2033 mengungkapkan prediksi bahwa industri penerbangan dunia membutuhkan 3.400 pesawat turboprop generasi baru sepanjang periode ini. Sekadar sebuah perbandingan, pada kategori pesawat turbofans(bermesin jet), Bombardier pernah memprediksikan kebutuhan 19.333 pesawat jet baru berkapasitas 100-149 penumpang sepanjang 20 tahun ke depan.

Varian pesawat Bombardier CSeries memang didesain untuk mengisi pangsa pasar jet kelas medium. Yang menarik di sini, Bombardier terlihat sangat optimistis karena berani menetapkan target yang sangat tinggi bermaksud merebut hingga separuh pangsa pasar medium jet. Pangsa pasar kelas ini bernilai sekitar US $250 miliar, sedangkan harga per unit pesawat Bombardier CS300 sebesar US $71 juta (bandingkanlah, Presiden Putin saja terkesan cukup puas sejak nilai ekspor industri pertahanan Rusia, jikalau tidak salah, telah melampaui US $15,5 miliar tahun 2014 (?)).

Pihak LAPAN menyebutkan bahwa biaya pengembangan pesawat N-2140 dapat dimasukkan ke dalam agenda jangka panjang 15 tahun. Kebutuhan dana pengembangannya mencapai di atas Rp1 triliun (sejak desain awal hingga selesai proses sertifikasi N-2140). Angka ini tidaklah seberapa jikalau dibandingkan dengan prediksi deposit dana Rp4.000 triliun milik warga negara Indonesia, yang sudah lama dibiarkan mendekam di Singapura selama bertahun-tahun!

Tetapi mengingat dinamika perkembangan dunia yang begitu cepat berubah, Indonesia sebaiknya melangkah dengan lebih yakin dan lebih berani “membeli waktu” sebelum para kompetitor PTDI segera saling berkonsolidasi. Wujudkan sesegera mungkin kerja serius merancang N-2140 sebelum lagi-lagi Indonesia tertinggal kereta(atau lebih tepatnya “jangan sampai tertinggal pesawat”).

Puluhan tahun telah lama berjalan hingga sekarang, bahwa nyaris seluruh ruas jalan-jalan di Indonesia semakin sesak dijejali beragam jenis kendaraan bermotor produksi negara-negara lain, terutama yang mengusung merk milik prinsipal negeri Sakura. Belakangan publik mengetahui bahwa raksasa otomotif Jepang Honda dan Mitsubishi tergiur juga untuk sekalian menikmati gurihnya pangsa pasar pesawat terbang internasional.

Namun, jikalau bagian terbesar bangsa ini sepakat untuk tidak membiarkan 20 tahun ke depan setiap jengkal langit Nusantara semakin dipenuhi oleh pesawat-pesawat baru produksi negara-negara lain, maka Indonesia harus bertindak yakin untuk lebih serius mengembangkan industri pesawat terbang dalam negeri. Tentu saja, sembari mendorong keberadaan dan pertumbuhan pelbagai industri pemasok komponen pesawat terbang.

Tanpa perlu sampai mengganggu agenda kerja pengembangan pesawat N-219, N-245, dan R-80 (didesain oleh PT Regio Aviasi Indonesia), Pemerintah Indonesia seyogianya dapat lebih bersegera mendukung LAPAN mewujudkan—lagi-lagi—kerja serius merancang pesawat N-2140.

Jika sebelumnya Indonesia telah memiliki beberapa konsep pesawat produksi dalam negeri pada kelas di bawah 100 penumpang, maka sudah tiba saatnya LAPAN mulai merancang pesawat penumpang propeller berkapasitas di atas 100 penumpang. Bukankah konsep awal pesawat jet N-2130 (berkapasitas 130 penumpang) berada di dalam kelas ini, sebelum nasibnya berakhir tragis bersama saudara tuanya N-250 setelah tersengat fatwa sakti IMF?

Di dunia, konsepsi N-2140 sekarang memang masih melenggang sendirian (belum terlihat sosok pesaing), meskipun pada kategori medium jet terdapat pemain-pemain lama kawakan, semisal Bombardier (CSeries), Boeing (737-400 NG), Airbus (A-320), dan sang pendatang baru Sukhoi (Superjet 100). Tetapi, konsep rancangan N-2140 tampak jelas sangat spesifik karena bermain pada kategori pesawat bermesin propeller (baling-baling).

Pesawat N-2140 kelak mengandalkan jenis mesin propeller baru [optional] EuroProp, yang merupakan pengembangan lanjutan dari mesin turboprop modern. Mesin EuroProp mampu menyemburkan daya pendorong yang sangat besar, nyaris sekuat mesin-mesin jet modern. Keunggulannya, pemakaian bahan bakar pada mesin EuroProp lebih efisien sekitar 20-25% daripada pemakaian bahan bakar pada mesin-mesin jet terbaru.

LAPAN sebaiknya mendulang pembelajaran berharga dari beberapa industri pesawat terbang dunia tatkala mereka merancang pesawat baru mereka. Semisal, dari pihak Rusia dan Ukraina LAPAN dapat mengambil alih kriteria untuk pesawat N-2140, antara lain mampu lepas landas dari landasan darurat (unmade runway) yang cukup pendek (sekitar 600-800 meter) dan memiliki jangkauan terbang maksimal 7.000-8.000 km. AN-70 diketahui mampu memenuhi seluruh kriteria tersebut, selain mampu menempuh jarak 3.000 km sembari mengusung penuh muatan kargo maksimal.

Namun, rancangan N-2140 sebagai pesawat penumpang sipil mungkin saja tidak perlu sampai seekstrem desain AN-70 dan A-400M, yang notabene merupakan dua pesawat angkut taktis-strategis militer. Sebaliknya, LAPAN dapat menambahkan bahwa desain N-2140 tetap lebih efisien, lebih murah, dan performa pesawat mampu melebihi pesawat legendaris C-130 Hercules, sembari memadukannya dengan kenyamanan pesawat medium jet dan medium propeller modern.

Pesawat AN-70 diketahui memakai empat buah mesin propeller D-27, dengan performa kerja mesin sangat mirip dengan mesin EuroProp TP400 pada pesawat A-400M. Mesin D-27 mampu mendorong AN-70 sampai mencapai batas kecepatan maksimal 780 km/jam. Pesaing terdekat mesin D-27 tidak lain adalah mesin EuroProp memiliki performa kerja mampu melejitkan pesawat hingga mencapai kecepatan transonic.

Berkat kemajuan teknologi mesin propeller modern, maka pesawat bermesin propeller terbaru pun sekarang sudah mampu mencapai kecepatan maksimal dan kecepatan jelajah nyaris mendekati kecepatan pesawat bermesin jet modern. Sehingga, kecepatan N-2140 akan mendekati kecepatan Boeing (737-400 NG) dan Airbus A-320. Jikalau kecepatan jet Boeing 0,78 mach (kecepatan suara), maka pesawat bermesin EuroProp memiliki kecepatan 0,7 mach. Perbedaan yang cukup tipis bukan!

Bagaimanapun, LAPAN sekurang-kurangnya memiliki dua alternatif untuk memilih mesin pendorong pesawat N-2140, yaitu di antara mesin D-27 atau mesin EuroProp. Konon, pengujian performa kerja pesawat AN-70 diklaim lebih baik daripada pesaing terdekatnya, yaitu A-400M?

***

VIDEO PILIHAN