Mohon tunggu...
Shafa Varera
Shafa Varera Mohon Tunggu... Freelancer - Be better everytime

bercerita untuk berbagi dan bermanfaat. mom's of two child and a wife, blogger and listener

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Sungaiku Kapan Jernih

27 Juli 2021   05:17 Diperbarui: 27 Juli 2021   05:22 29 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sungaiku Kapan Jernih
Terlihat tumpukan sampah yang tersisa di sisi sungai akibat buang sampah di sungai yang tak bisa sepenuhnya bersih/dokpri

Sungai.

Mendengar kata itu, seharusnya yang terbayang di benakku adalah jernih, dingin, mengalir dan deras.

Namun, kenyataannya tak seperti yang kubayangkan. Apalagi sungai yang berada di tengah pemumikan warga. Sungai menjadi tempat yang dimanfaatkan untuk membuang sampah rumah tangga dan bahkan untuk buang air. 

Tinggal di perkampungan warga padat penduduk membuat sampah menjadi satu hal yang tak tertangani dengan baik. Mereka memilih cara yang mudah dilakukan untuk menghilangkan sampah rumah tangga mereka. Sungai menjadi sasaran empuk tempat membuang sampah. Mereka mengira kalau air sungai mengalir deras, maka sampah bisa dibawa menjauh dari desa mereka sehingga tidak menimbulkan masalah bau dan kotor.

Bahkan, buang air pun dilakukan di sungai karena belum memiliki MCK. Tak ada rasa jijik ketika harus jongkok berendam di air sungai yang penuh buangan sampah dan tak jarang juga kotoran manusia yang ikut terbawa arus. Bilas dilakukan di tepi sungai dengan air bersih yang hanya satu ember.

Tak ada bedengan saat itu, hanya mencari tempat yang agak sepi dan tertutup dinding saja tanpa bedengan. Bahkan ada yang buang air di selokan aliran sungai depan rumah yang rumahnya di pinggir jalan raya. Sekitar sebelum tahun 2000, saya masih tinggal di Pulau Jawa dan ke Lombok untuk bertemu Nenek dan Kakek dari Ibu yang memang asli Lombok. Saat itu kakek tinggal di Kecamatan Masbagik sedangkan Nenek tinggal di Kecamatan Aikmel yang jaraknya cukup jauh meski masih satu Kabupaten Lombok Timur.

Sungai dekat rumah kakek dan nenek sama nasibnya. Tak ada sungai bersih dan jernih seperti yang kubayangkan. 

Sayangnya, sampai saat saya pindah ke Lombok tahun 2011, sungai masih belum berubah fungsi. Hanya mereka yang sudah memiliki MCK tidak lagi buang air di Sungai, tapi di MCK yang ada di rumah maupun MCK umum.  Tidak banyak dari mereka yang memiliki cukup lahan untuk membuat MCK sendiri karena tempat tinggal yang mereka miliki pin terbatas. Namun, sekarang sudah ada MCK umum yang bisa digunakan bagi mereka yang tidak memiliki MCK di tempat tinggal mereka.

Mereka tidak pernah memikirkan dampak dari buang sampah di sungai tersebut yang tentu akan menimbulkan banyak dampak buruk terutama yang paling terasa adalah saat musim hujan, air sungai deras membawa banyak sampah menyebabkan aliran sungai terhambat oleh banyaknya sampah yang terbawa arus. Akibatnya, tentu sampah berserakan di pinggir aliran sungai karena aliran sungai di beberapa tempat tersumbat oleh sampah. Bahkan, jalan raya ikut tergenang banjir karena sampah menyumbat membuat aliran air tidak lancar.

Aliran sampah tersebut menimbulkan masalah bahkan sampai ke hilirnya yaitu laut. Namun, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai sangat minim karena minimnya pengetahuan mereka tentang dampaknya dan mereka juga tidak punya cukup penegtahuan bagaiman mengelola sampah dengan bijak agar tidak menimbulkan dampak berbahaya bagi lingkungan sekitar mereka. 

Sungai di derah Kekalik Gerisak ini sering penuh saat musim penghujan atau saat hujan di daerah lain membawa air yang cukup banyak ke sungai ini bersama sampah/dokpri
Sungai di derah Kekalik Gerisak ini sering penuh saat musim penghujan atau saat hujan di daerah lain membawa air yang cukup banyak ke sungai ini bersama sampah/dokpri
dokpri
dokpri

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x