Mohon tunggu...
Shabrina Adilah
Shabrina Adilah Mohon Tunggu... Dosen - shbrinadlr

apa yang melewatkan tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Mari Mengenal Perkembangan Identitas Gender Pada Anak

17 Oktober 2021   22:05 Diperbarui: 17 Oktober 2021   22:27 54 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Anak adalah karunia terbesar yang di anugerahkan Allah kepada orangtua, tentunya orangtua mempunyai peran penting dalam hak asuh dan perkembangan anak. Hak asuh disini seperti bertanggung jawab merawat anak, bertanggung jawab dalam menafkahi anak, menjadi teman dalam kesehariannya, mengajarkan anak mana yang baik dan mana yang buruk contohnya mengenalkan anak tentang nilai-nilai agama, sosial, moral dan yang paling utama adalah mengenalkan anak tentang gender. 

Peran yang dominan pada suatu keluarga mempengaruhi pada proses sosialisasi orang tua pada anak, khususnya terkait dengan nilai sosio kultural yang dikonstruksikan pada anak. Tidak jarang dalam proses sosialisasi ini pengaruh pandangan jenis kelamin terjadi pada proses pembentukan perilaku maupun konstruksi pengetahuan dan tradisi. Dari sudut pandang berbasis gender, tak jarang sosialisasi tentang peran anak dalam keluarga berbasis pada jenis kelamin anak, sehingga peran yang melekat pada tugas seorang anak tidak dapat lepas dari jenis kelamin.

Artikel kali ini akan membahas tentang gender, tahukah anda apa itu Gender? Gender berasal dari bahasa latin yaitu "Genus" yang berarti jenis atau tipe. Pengertian jenis kelamin berbeda dengan gender, kebanyakan orang mengira gender adalah jenis kelamin tetapi gender sendiri memuat perbedaan fungsi dan peran sosial antara laki-laki dan perempuan yang terbentuk dari lingkungan tempat kita berada. 

Istilah Gender menurut Santrock (2002:208) mengacu pada dimensi sosial yang melekat pada jenis kelamin seseorang. Identitas Gender adalah rasa sebagai laki-laki atau perempuan yang diperoleh anak pada usia 3 tahun. Sedangkan Peran gender adalah seperangkat harapan yang menggambarkan bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bertindak sesuai jenis kelaminnya. 

Namun seiring perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat, peran gender tak dapat lagi secara khusus dilekatkan pada jenis kelamin seseorang. Identitas gender maupun peran gender lebih difungsikan akibat pengaruh sosial, baik dalam sosialisasi hasil interaksi sosial maupun proses rekognisi dan sejumlah pengetahuan yang dimiliki seseorang. 

Salah satu bentuk kontruksi peran gender dan sosialisasi nilai sosio kultural yang berbasis gender dilakukan oleh orangtua melalui proses pemilihan permainan atau alat bermain. 

Pada keluarga dengan peran gender tertentu yang lebih dominan akan memilki kecenderungan untuk memilihkan permainan atau alat bermain yang berbasis stereotip gender tertentu. Ada keluarga yang sejak awal perkembangan anak telah memilihkan alat bermain yang membantu anak memahami konstruksi jenis kelamin, nilai sosio kultural dalam keluarga serta peran yang diharapkan. 

Permainan boneka dan alat masak-masakan dikenalkan pada anak perempuan karena diharapkan anak perempuan dapat memahami tugas sebagai perempuan dewasa kelak yang dikonstrak untuk menjadi seorang ibu dan terampil memasak. Permainan perang-perangan, bermain sepak bola, bermain mobil - mobilan merupakan alat bantu untuk mengonstrak anak laki-laki  untuk tumbuh sebagai anak yang tangguh, pemberani dan tangkas dalam hal apapun. 

Keluarga memiliki pengaruh paling besar yang dapat menciptakan presepsi atau pemberdayaan. Dari keluarga anak-anak bisa belajar tentang keseimbangan antara laki-laki dan perempuan atau mereka bisa belajar gender dalam hal otoritas dan kekuasaan. Maka dari itu, orang tua harus sangat berhati-hati dalam memperlakukan anak dalam keluarganya, karena apa yang anak pelajari dalam rumah akan berpengaruh ke teman atau lingkungan bermainnya. 

Sering kali anak - anak melihat ayahnya sebagai super hero yang bisa bertanggung jawab atas kesejahteraan anak dan istrinya. Sementara ibunya sebagai bidadari penolong yang bertanggung jawab dalam kesejahteraan emosional dan spritual. Dengan cara ini anak-anak mulai berpikir bahwa mereka juga mempunyai tanggung jawab atas tugas nya masing - masing, seperti pembagiaan antara tugas anak perempuan dan anak laki - laki. Dari sini kita bisa mengajarkan anak dalam bertanggung jawab atas apa yang sudah ditugaskan kepada mereka misalnya anak perempuan mempunyai tugas untuk membereskan kamar, sedangkan anak laki - laki mempunyai tugas untuk membantu ayahnya mencuci mobil. 

Selanjutnya saya akan membahas tentang Identitas Gender. Identitas Gender adalah pengertian dan kesadaran seseorang mengenai gendernya sendiri. Identitas gender dapat selaras dengan seksnya yang ditunjuk saat lahir atau justru sepenuhnya berbeda. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan