Mohon tunggu...
Seto Wicaksono
Seto Wicaksono Mohon Tunggu... Human Resources - Recruiter

Menulis, katarsis. | Bisa disapa melalui akun Twitter dan Instagram @setowicaksono.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Berdamai dengan Lingkungan Kerja yang Toxic Merupakan Proses Pendewasaan bagi Karyawan

22 Mei 2021   09:00 Diperbarui: 23 Mei 2021   05:01 971
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi karyawan berada di lingkungan kerja toksik: grinvalds/Thinkstock via Tribunnews.com

Saya cukup yakin, bahkan, sangat yakin. Bahwa, setiap (calon) karyawan atau pekerja di suatu perusahaan menyimpan harapannya masing-masing terkait kantor yang menjadi tempatnya meniti karir, menambah skill, juga mencari nafkah.

Benefit mumpuni, lingkungan kerja yang dirasa sangat nyaman, antara beban kerja dan gaji terbilang proporsional, sampai dengan hubungan antar rekan kerja yang sangat baik.

Saking begitu baiknya hubungan antar rekan kerja termasuk dengan para bos, tidak sedikit para karyawan yang pada akhirnya merasa, kantor itu ibarat rumah kedua dan rekan kerja terasa seperti keluarga.

Itu hanya sedikit harapan sekaligus gambaran kantor yang ideal bagi sebagian karyawan. Realitanya, seringkali tidak demikian. Sulit dimungkiri bahwa, komunikasi yang kurang baik menjadi salah satu pemicu awal suatu permasalahan di ruang lingkup perkantoran. Akibatnya, lingkungan kerja yang toxic tercipta begitu saja dan sulit dihindari.

Saling membicarakan satu sama lain di belakang, bergosip, sampai dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan perhatian lebih dari para bos, kerapkali terjadi. Akhirnya, persaingan secara tidak sehat pun seakan menjadi sesuatu yang lumrah.

Kesal dan pengin melabrak rekan kerja yang seperti itu? Sudah pasti. Ada keinginan untuk resign? Tentu saja. Namun, dalam jangka panjang, hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Malah, akan menambah masalah yang, bahkan nggak perlu-perlu amat.

Lantas, apa yang bisa para karyawan lalukan?

Berdasarkan pengalaman bekerja selama tujuh tahun, sekira empat tahun di antaranya di ruang lingkup HRD, hal yang paling mungkin dilakukan adalah: berdamai dengan lingkungan kerja yang toxic. Boleh jadi, hal ini sulit dilakukan dan butuh waktu. Namun, pasti bisa karena terbiasa.

Disadari atau tidak, dalam prosesnya, berdamai dengan lingkungan kerja yang toxic akan mendewasakan kita sebagai pekerja.

Lalu, apa saja yang sekiranya bisa dilakukan oleh para karyawan dalam proses berdamai dengan lingkungan kerja yang dirasa toxic?

Pertama, handle secara profesional, bukan personal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun