Mohon tunggu...
Seto Wicaksono
Seto Wicaksono Mohon Tunggu... Human Resources - Recruiter

Menulis, katarsis. | Bisa disapa melalui akun Twitter dan Instagram @setowicaksono.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Apakah YouTube Masih Layak Dilabeli Lebih dari TV, Ketika Siapa Pun Bisa Menjadi YouTuber?

9 April 2021   07:10 Diperbarui: 9 April 2021   07:12 1796
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tangkapan layar melalui aplikasi YouTube.

Lantas, jika semua orang bisa menjadi YouTuber, apakah YouTube masih layak diberi label "lebih dari tv"?

Bagi saya, fenomena ini selalu menarik untuk dibahas. Salah satu alasan sebagian orang beralih dari menonton tv menjadi ke YouTube adalah, untuk menghindari selipan iklan di setiap acara yang ditayangkan. Belum lagi harus menunggu sekira 5-10 menit sampai acara dimulai kembali.

Lama-kelamaan, rasanya bosan sekaligus jenuh aja gitu. Setelah beralih ke YouTube, nyatanya sama aja. Iklan/adsense bisa diselipkan di mana saja. Pada akhirnya, iklan memang sulit dipisahkan dari suatu acara juga konten yang diunggah di YouTube.

Kendati demikian, hal tersebut tidak bisa dikambinghitamkan. Sebab, suka atau tidak, keuntungan dari iklan menjadi sumber pendapatan utama di kedua media tersebut. Bagaimana pun cara dan improvisasi yang dilakukan.

Selanjutnya, secara perlahan, para artis tv yang beralih ke YouTube.

Nggak ada masalah jika artis memiliki akun YouTube. Hawong itu haknya mereka, kok. Kenapa juga kita harus melarang dan ngedumel sendiri saat mengetahui mereka---para artis---aktif membuat konten di YouTube?

Malah, sebagian orang menganggap bahwa, para artis yang ikut menggarap konten untuk diunggah di YouTube, merupakan angin segar. Agar ada pembeda, katanya.

Meski sulit dimungkiri bahwa, tidak semua kontennya fresh. Beberapa di antaranya kurang lebih sama seperti yang pernah ditayangkan di tv. Konten prank, pura-pura menjadi gembel, menjual kesedihan, dan sebangsanya. Di sisi yang lain, konten ini terbilang laris di pasaran---selalu ada penikmatnya.

Jadi, pada saat nonton YouTube dengan konten serupa, terasa seperti sedang nonton tv aja gitu. Hanya pindah platform saja.

Pada akhirnya, program yang biasa kita lihat di tv tetap berkesinambungan dengan konten di YouTube. Malah, sudah banyak orang yang mengawali karir atau beken di YouTube, ujung-ujungnya juga nongol dan/atau diundang di beberapa acara tv.

Bagi saya, hal tersebut sah-sah saja bagi siapa pun yang ingin meniti karir. Selama tidak merugikan orang lain. Juga menyalahi aturan, semua berhak menggapai harapannya masing-masing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun