Mohon tunggu...
Seto Wicaksono
Seto Wicaksono Mohon Tunggu... Recruiter

Bisa disapa melalui Twitter dan Instagram di @setowicaksono | Sebagian tulisannya ada di mojok.co/terminal/author/setowicaksono

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Eksistensi Kue Putu Bambu yang Kian Meredup

6 Juni 2020   08:30 Diperbarui: 9 Juni 2020   19:17 118 16 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Eksistensi Kue Putu Bambu yang Kian Meredup
Ilustrasi pejual kue putu. (Foto: Kompas.com/Labib Zamani)

Salah satu kekayaan yang dimiliki Indonesia adalah keanekaragaman dalam kuliner. Baik yang modern, maupun kuliner tradisional, yang sudah menjadi santapan khalayak sejak dahulu.

Kuliner tradisional yang beberapa di antaranya sering disebut sebagai jajanan pasar, sangat mudah ditemui di pasar tradisional. Meski tidak bisa dimungkiri, saat ini mulai jajaanan pasar mulai langka.

Usut punya usut, ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut bisa sampai terjadi.

Pertama, mulai sepi peminat. Sehingga penjualan pun tersendat. Para produsen bisa sampai berpikir beberapa kali untuk memproduksi secara massal. Pada akhirnya, lebih memilih berjualan secara pre-order. Tergantung pesanan.

Kedua, kalah saing dengan camilan modern. Hal ini sudah jelas terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pemasaran camilan modern lebih mutakhir karena didukung oleh platform jualan yang tak kalah moder dengan mengandalkan internet. Berjualan secara online.

Selain itu, proses pemasaran berlangsung secara berantai, mengandalkan cerita dari satu mulut ke mulut yang lain.

Ketiga, jajanan pasar dianggap jadul, kurang kekinian, dan rasa dianggap begitu-begitu saja. Padahal jika dibandingkan dengan camilan kekinian, soal rasa ya akan sama, begitu-begitu saja. Apalagi camilan zaman kiwari kebanyakan hanya mengandalkan serbuk monosodium glutaman dengan banyak varian rasanya.

Salah satu jajanan pasar yang kini mulai sulit ditemui adalah kue putu bambu. Jika belum ada yang mengenali rupanya, akan saya beri sedikit gambaran.

Bentuknya terbilang kecil dan lonjong, menyerupai tabung, dengan panjang sekira 3-4 cm. Dicetak menggunakan potongan bambu berdiameter sekira 2-3 cm. Ada juga penjual yang cetakannya menggunakan pipa plastik (tentu ini tidak disarankan karena berpotensi membahayakan kesehatan).

Biasanya berwarna hijau atau putih. Berbahan dasar tepung beras. Di tengahnya, ada gula merah yang mencair ketika digigit. Biasa disajikan dengan parutan kelapa. Teksturnya terbilang lembut dan mudah hancur.

Pada proses penjualannya, biasanya abang kue putu bambu juga sekalian menjual klepon, kue serupa putu bambu. Hanya saja teksturnya sedikit lebih kenyal ketika dikunyah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x