Mohon tunggu...
Seto Wicaksono
Seto Wicaksono Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Perekrut amatir yang suka sekali ngedumel lewat tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Potret Penumpang dan Perubahan "Wajah" KRL dalam Satu Windu

2 April 2019   08:00 Diperbarui: 2 April 2019   08:09 0 4 2 Mohon Tunggu...
Potret Penumpang dan Perubahan "Wajah" KRL dalam Satu Windu
Potret penumpang KRL di Stasiun Pondok Cina pada tahun 2011 (dokumentasi pribadi).

Kereta Rel Listrik yang biasa disingkat KRL, kini memiliki banyak perubahan dibanding satu windu lalu. Jumlahnya pun semakin banyak, dilansir dari situs resmi KRL, hingga Juni 2018 total armada mencapai 900 dan akan terus bertambah. Selaras dengan itu, jadwal pemberangkatan dari tiap stasiun pun menjadi kaya akan opsi tergantung kebutuhan dari para pengguna. 

Tak bisa dipungkiri, untuk para pekerja khususnya, transportasi massal ini menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari nafkah di kawasan JABODETABEK. Selain bisa memangkas lamanya waktu perjalanan, sudah menjadi rahasia umum harga sekali keberangkatan terbilang murah.

Sebagai pengguna setia KRL dari tahun 2009, tepatnya ketika saya berkuliah di salah satu Universitas Swasta di kawasan Depok, banyak sekali perubahan yang sudah terlihat. 

Mulai dari pemugaran tiap stasiun yang dahulunya terlihat kumuh, bahkan terlihat seperti pasar tradisional yang becek serta pedagang yang sangat tidak beraturan dalam membuka lapaknya, kini banyak stasiun yang terbilang mewah dan nyaman. Sebagian besar dari kita pastinya ingat bagaimana dulu KRL dibagi menjadi tiga golongan, ekonomi, ac bisnis, dan pakuan. 

Di dalam kereta kelas ekonomi, sudah menjadi rahasia umum ada pedagang di dalamnya, tidak sedikit dari mereka yang sambil berjualan selama perjalanan. 

Pemandangan yang unik sebetulnya, namun di sisi lain membuat kita repot dan risih. Copet? Sudah tentu ada. Beberapa kali saya melihat langsung bagaimana penumpang panik kehilangan barang berharganya. 

Para pengguna pun bisa sampai duduk di atap kereta. Ya, atap kereta. Butuh nyali yang besar untuk bisa berada di sana. Bagaimana tidak? Secara langsung mereka menggadaikan nyawa mereka, entah demi apa. 

Saya sendiri pernah mendengar suara teriakan orang yang sedang berada di Stasiun Citayam karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana penumpang yang berada di atap kereta tersambar arus listrik. Seketika saya terdiam.

Tidak untuk ditiru, potret penumpang KRL pada tahun 2011 (dokumentasi pribadi).
Tidak untuk ditiru, potret penumpang KRL pada tahun 2011 (dokumentasi pribadi).
Laiknya spiderman, tanpa rasa takut. Apakah karena terbiasa? Apa pun alasannya, hal ini tidak dibenarkan (dokumentasi pribadi, 2011).
Laiknya spiderman, tanpa rasa takut. Apakah karena terbiasa? Apa pun alasannya, hal ini tidak dibenarkan (dokumentasi pribadi, 2011).
Untuk KRL ac bisnis dan pakuan, dapat dikatakan memang sudah nyaman dari awal, soal penumpang yang padat? Sudah biasa, apalagi ketika hari dan jam kerja. Masih ingat dalam memori, kereta pakuan hanya berhenti di beberapa stasiun, harga tiket pun berbeda dari kelas ekonomi dan ac bisnis. Terkesan eksklusif dan hanya untuk sebagian golongan saja, ya, paling tidak untuk mereka yang tergesa-gesa, KRL pakuan akan sangat berguna.

Itu semua potret yang berhasil sedikit saya rangkum dari tahun 2011. Beruntung saya masih menyimpan gambar ini, sesuatu yang tidak mungkin dirasakan kembali oleh anak-cucu kita di masa depan, sudah jelas, karena saat ini KRL sudah semakin canggih dan bertransformasi menjadi moda transportasi massal yang banyak digunakan dan digemari semua kalangan.

Sewindu lalu, tiket hanya tersedia dalam bentuk kertas. Tidak go green sekali rasanya, ditambah tumpukan kertas bekas sobekan tiket selalu menumpuk sepanjang hari di stasiun. Tidak elok rasanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x