Mohon tunggu...
Paelani Setia
Paelani Setia Mohon Tunggu... Guru - Sosiologi UIN SGD

Peminat Kajian Sosial, Politik, dan Pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Dear Mahasiswa, Seriuslah Mengerjakan Skripsi karena Itu Mahakarya Anda

15 Agustus 2020   02:34 Diperbarui: 16 Agustus 2020   22:18 1124 16 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Dear Mahasiswa, Seriuslah Mengerjakan Skripsi karena Itu Mahakarya Anda
Ilustrasi mahasiswa mengerjakan skripsi (Sumber: www.pixabay,com)

Skripsi merupakan tugas akhir yang mayoritas diterapkan di setiap kampus Indonesia karena kebanyakan kampus berbasis riset dalam penugasan akhir. Oleh karena itu, segala hal yang berkaitan dengan skripsi seringkali menjadi momen yang tidak terlupakan, termasuk kesulitan-kesulitan dalam proses pengerjaannya.

Semua orang tentu sepakat apabila mengerjakan skripsi bukanlah hal yang mudah, ini ditandai dengan proses riset yang mengharuskan terjun ke lokasi penelitian, mengumpulkan narasumber, mengolah, menganalisis, hingga berbentuk skripsi. Bukti lainnya, skripsi juga kerap kali mewarnai bahasan-bahasan dunia kemahasiswaan.

Bahkan, di media sosial keluhan soal skripsi, tips soal skripsi, motivasi soal skripsi, dan sejenisnya begitu berseliweran. Intinya, bahasan soal skripsi menjadi bahasan wajib mahasiswa karena skripsi sangat lumrah bagi mahasiswa.

Sayangnya, perubahan sosial pada teknologi informasi dan digital menyebabkan signifikasi dampak pada proses pembuatan skripsi. Sama dengan hal lain dalam dunia pendidikan yang juga terdampak oleh perkembangan TIK ini, pembuatan skripsi juga kerap kali dianggap tidak sesusah dulu, atau tidak sesakral dulu. Sekarang skripsi bahkan dianggap hanya sebagai formalitas semata, dan sama seperti tugas yang lainnya.

Hal tentu disebabkan banyak faktor termasuk kebermanfaatan skripsi itu sendiri. Saya pun sampai sekarang belum merasa bahwa skripsi saya betul-betul bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dalam tataran praksis, termasuk dalam tataran teoritis, tampaknya masih jauh dari penemuan teori baru. Tapi demikian, saya tetap bangga karena skripsi saya bisa membuka khazanah dan cakrawala baru seputar isu besar yang saya bahas disana. Setidaknya bagi saya, dosen, dan orang lain yang membacanya.

Kembali pada proses pengerjaan skripsi, memang kemudahan informasi menyebabkan proses pengumpulan informasi sangat mudah sekali. Termasuk dampaknya adalah membesarnya budaya copy paste (mencontek). 

Dalam artian, copy paste di sini adalah kebiasaan non-parafrase atau kebiasaan memindahkan gagasan orang lain tanpa adanya proses peyuntingan naskah dan gagasan. Akibatnya, skripsi pun banyak menggunakan cara-cara seperti ini, hanya memindahkan karya saja, yang penting selesai. Sebagus apapun filterisasi mesin seperti turnitin atau sistem plagiasi apapun, tetap saja terkadang hal tersebut bisa saja dilewati.

Alhasil, skripsi yang dianggap penting ketika kuliah dan menjadi mahakarya terbesar dalam sejarah hidup, justru terkesan lagi tidak seperti demikian. Tidak terbayang apabila ke depan masalah ini tetap berlanjut, masalah pendidikan kita pasti akan semakin rumit, mulai dari budaya baca yang minim, kritisisme, fasilitas, guru, bahkan ditambah lagi dengan ketidakseriusan dalam pengerjaan skripsi dalam pendidikan tinggi.

Oleh karena itu, penting untuk kembali mengkaji dan memikirkan peran penting dari sebuah skripsi sebagai sumbangsih pemikiran bagi bangsa. Bukan hanya tumpukan kertas yang tiada arti, atau hanya tugas akhir yang membosankan, tetapi juga bentuk kepedulian dan aspirasi kita bagi bangsa Indonesia.

Lebih Berharga dari IPK
Mahasiswa sebagai derajat tertinggi pelajar tentu menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Alasannya tentu seseorang bisa mencapai titik akhir dalam proses pendidikan secara formal. 

Kebanggaan lain adalah di akhir masa studi mahasiswa tidak hanya memperoleh ijazah, atau IPK, tetapi juga memperoleh kehormatan karena menyumbangkan pemikirannya dalam menjawab suatu permasalahan melalui skripsi.

Oleh sebab itu, tidak salah apabila skripsi merupakan simbol perjuangan akhir kuliah yang prosesnya harus dilaksanakan sebaik mungkin. Logis apabila seseorang sedang berjuang, maka kerja kerasnya akan sangat menentukan perjuangan tersebut.

Skripsi (Sumber gambar: Canva.com)
Skripsi (Sumber gambar: Canva.com)
Skripsi adalah simbol perjuangan kuliah mahasiswa, namun sayangnya hal ini justru tidak diperlihatkan, kerap kali yang selalu diperlihatkan justru adalah IPK. 

IPK bahkan sudah tidak terlalu diperlukan lagi saat ini, banyak pihak mengakui hal tersebut, tetapi budaya kita justru masih memandang IPK yang berharga. Siapapun tentu yang baru lulus kuliah akan ditanya berapa IPK Anda? Bukan apa kesimpulan skripsi Anda?

Amat disayangkan memang, tetapi begitulah faktanya, jadi merubah paradigma ini harusnya sudah mulai digaungkan dan menjadi fokus utama isu yang harus dibahas dan diselesaikan kedepan. Tanda seseorang pernah kuliah harusnya bukan hanya dilihat dari gelar atau nilai tetapi apa pemikiran yang disumbangkan melalui skripsi.

Bukti bahwa skripsi lebih berharga dari IPK adalah sumbangsih masa depan. IPK berharga sebagai wujud pencapaian secara ukuran untuk pribadi, tetapi skripsi lebih dari itu, akan berdampak bagi semua orang, masyarakat luas. 

Skripsi bahkan bisa merubah suatu peradaban melalui temuan-temuan dan argumentasi peradaban, kalau IPK mungkin hanya merubah status seseorang saja kala ia akan diterima bekerja atau prestise.

Jadi, sampai kapan kita tidak menyeriusi mengerjakan skripsi? Apakah kita akan mengotori catatan sejarah kita sendiri? Tentu tidak bikan?

Sebuah Catatan Sejarah
Dan satu hal yang amat penting juga adalah menjadikan skripsi sebagai catatan sejarah. Melalui skripsi seorang mahasiswa akan mengukir tinta emas bagaimana dia pernah menjadi seorang pemikir, seorang ilmuwan, seorang peneliti yang pernah memberikan persepsi/ menyumbangkan gagasan bagi kemaslahatan dan perubahan sejarah masa depan.

Bangga sekali apabila skripsi yang pernah ditulis bermanfaat bagi kemaslahan masyarakat, bukankah hal tersebut sebuah catatan sejarah yang hebat?

Lebih jauh, catatan sejarah ini juga semakin membanggakan bukan hanya bagi mahasiswa secara individu tetapi juga bagi institusi, keluarga, dan juga negara. Semua akan bangga dengan apa yang kita tulis dan semua sepakat menyebut itu catatan sejarah kita.

Meski ujungnya hanya mengendap di perpustakaan kampus, berdebu, dan bahkan dibuang. Tetapi catatan sejarah tidak akan pernah hilang, bahkan mengendap di kepala seorang yang membacanya saja, itu sudah menjadi catatan sejarah yang hebat. Meski demikian, adanya perpustakaan digital juga membantah statement tersebut. Saat ini catatan sejarah semakin mudah disimpan dalam bentuk digital.

Namun, bayangkan apabila keseriusan dalam mengerjakan skripsi tidak ada, hanya bermodal copy paste, atau bahkan bukan hasil sendiri? Lantas, apa yang kita lakukan selama empat tahun belajar di kampus, menghabiskan banyak waktu, dan uang?

Rugi sekali tampaknya, selain kita menghabiskan energi dan waktu yang sia-sia, kita juga berbohong terhadap diri sendiri, dan berbohong kepada semua orang. 

Pertaruhan sebagai pelajar dengan level paling tinggi yang tidak semua warga Indonesia rasakan rendah sekali. Harusnya sebagai mahasiswa berani mempertaruhkan harga diri demi usaha yang betul-betul maksimal wajib dilakukan, termasuk dalam mengerjakan skripsi.

Dengan demikian, skripsi sebagai catatan sejarah sangat disayangkan jika harus dicoreng dengan etika yang buruk, yang tidak mencitrakan diri sebagai kalangan terdidik. Apalagi jika dikerjakan asal-asalan, tidak serius.

Dosen-dosen meski mereka membimbing dan memberikan pengarahan dengan baik, tetapi mereka tetap memberikan tanggung jawab penuh pada apa yang kita kerjakan, apa yang kita tulis. 

Jadi jika sekedar lolos dari ujian dosen mungkin saja bisa atau mudah dilakukan, tetapi jika lolos dari ujian etika dan tanggung jawab itu pasti berat. Seseorang bahkan bisa hancur harga dirinya oleh apa yang ia tulis dan apa yang selama ini dipertanggungjawabkan.

Dan jika catatan sejarah ini diukir dengan baik, pasti kebanggaan akan amat tinggi. Menjadikannya sebagai sebuah mahakarya terbesar dalam hidup yang menandai proses pendidikan bagi kemaslahatan. Namun, jika sebaliknya, maka merugilah kita.

Jadi, mau menoreh tinta emas catatan sejarah ataupun mau menoreh tinta hitam catatan sejarah itu ada di tangan Anda.

Hal yang pasti, harapannya tentu ada apresiasi lebih baik bagi para mahasiswa dalam perjuangannya mengerjakan skripsi. Ini juga menjadi masalah lain, kampus bahkan tidak punya apresiasi khusus bagi mahasiswanya dalam proses pengerjaan skripsi ini. 

Padahal melombakan skripsi terbaik, membantu menerbitkannya menjadi sebuah buku agar bisa dibaca masif banyak orang, hingga apresiasi lain patut dicoba kampus untuk merangsang keseriusan mahasiswanya dalam menulis skripsi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan