Mohon tunggu...
Setiyo Bardono
Setiyo Bardono Mohon Tunggu... Staf Kurang Ahli

SETIYO BARDONO, penulis kelahiran Purworejo bermukim di Depok, Jawa Barat. Staf kurang ahli di Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MAPIPTEK). Antologi puisi tunggalnya berjudul Mengering Basah (Aruskata Pers, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Menjaga Anak dan Celana di Kereta

7 Februari 2016   22:37 Diperbarui: 7 Februari 2016   22:56 429 4 4 Mohon Tunggu...

"Menggendong anak kecil di KRL memang harus ekstra waspada, apalagi di waktu yang sama harus menjaga celana"

Sabtu (6/2/2016) sekitar pukul 09.30 pagi, saya bersama anak perempuan (panggil saja Sita/2,5 th) ada di Stasiun Depok Baru. Tujuannya kondangan ke luar kota, karena sudah lintas provinsi. Lokasi hajatan di dekat stasiun Sudimara/Jurang Mangu. Ada Undangan dari teman sesama roker KRLMania yang anaknya sedang merayakan bentuk baru. Sebut saja sunat.

Karena sudah ditunggu teman-teman lain di Manggarai, saya merangsek masuk ke dalam KRL yang merapat di Stasiun Depok Baru. Di hari Sabtu ternyata KRL lumayan penuh walaupun tidak mejretmania. Akhir pekan memang banyak dimanfaatkan keluarga untuk jalan-jalan. Karena membawa anak kecil, saya menuju kursi prioritas. Tapi nasib baik belum berpihak.

Kursi prioritas di depan saya telah diduduki oleh penumpang prioritas juga. Seorang lelaki memeluk tongkat, ibu hamil, dan ibu-ibu senior eh lanjut usia. Akhirnya saya menyandarkan punggung di dinding kereta sambil menggendong Sita.

"Maaf Pak, saya tidak bisa memberi tempat duduk karena saya sedang hamil," kata ibu hamil di depan saya.

"Nggak apa-apa bu. Kan penumpang prioritas itu ibu membawa anak bukan bapak mengendong anak," jawab saya tanpa mengakhiri ucapan dengan kata halah takut si ibu bingung.

"Ah Bapak bisa saja."

Eh kok ya akhir pekan acara tahan-menahan KRL masih berlaku, terutama ketika masuk ke Manggarai. Bahkan Tebet-Manggarai sampai tiga kali penahanan. Tapi karena penyidik tidak bisa melengkapi dua alat bukti, maka KRL dilepas dari masa penahanan menuju Manggarai. halah.

Ketika berada di peron jalur lima stasiun Manggarai inilah kesibukan saya bertambah. Ketika jongkok karena hendak menyuapi puding ke Sita, tiba-tiba ada suara. Preeeetttt! Awalnya saya kira itu suara klakson KRL. Tapi ternyata oh ternyata, suara itu berasal dari bagian belakang celana panjang saya. Ketika saya periksa, celana tertawa lebar. Sobek sekitar 15 centi. Waduh!

Sempat terbersit untuk kembali ke rumah, namun perjalanan sudah separuh arah. Terpikir pula untuk keluar stasiun mencari tukang permak jeans atau tukang jahit sepatu. Tapi takut banyak waktu terbuang. Untung saya memakai kaos yang cukup untuk menutupi sobekan celana.

Akhirnya The Show (back) must go on, walaupun celana sobek tetap pergi kondangan. Untung saja, saya dapat tempat duduk pas ke Stasiun Tanah Abang. Hanya saja ketika menapaki puluhan anak tangga, berkali-kali saya harus mengecek bagian belakang celana. Berharap tak ada orang melihat sobekan celana tertawa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN