Mohon tunggu...
Setiyo Bardono
Setiyo Bardono Mohon Tunggu... Staf Kurang Ahli

SETIYO BARDONO, penulis kelahiran Purworejo bermukim di Depok, Jawa Barat. Staf kurang ahli di Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (MAPIPTEK). Antologi puisi tunggalnya berjudul Mengering Basah (Aruskata Pers, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Dari Purworejo untuk Indonesia

5 Desember 2014   18:11 Diperbarui: 17 Juni 2015   15:58 0 0 0 Mohon Tunggu...
Dari Purworejo untuk Indonesia
14177528031623662671

Judul               : Mutiara dari Bagelen

Penulis            : Verdha MS

Penerbit          : KKS Publika

Tahun Terbit  : Cetakan I, Maret 2014

Tebal               : 265 Halaman

ISBN                : 978-602-2309-12-9

Sebagai putra kelahiran Purworejo yang merantau di pinggiran ibukota, saya kadang harus memberi keterangan tambahan untuk menjelaskan letak salah satu kabupaten di Jawa Tengah ini.

"Purworejo itu setelah Gombong - Kebumen, sebelum Yogyakarta." Biasanya lawan bicara saya akan langsung paham. Namun banyak juga yang menyahut, "Oh Kutoarjo." Kutoarjo memang lebih familiar dari Purworejo. Mungkin karena keberadaan Stasiun Kutoarjo. Padahal,  Kutoarjo merupakan wilayah dari Kabupaten Purworejo.

Selain Stasiun Kutoarjo, ada beberapa ikon lain yang seakan menanggalkan nama Purworejo: Dawet Ireng asli Butuh, Kambing Peranakan Ettawa (PE) Kaligesing, hingga Pantai Ketawang di Grabag. Untung saja, bedug terbesar di dunia lebih dikenal dengan nama Bedug Purworejo bukan Bedug Pendowo.

Rasa kurang yakin dengan efek nama Purworejo sepertinya juga menghinggapi  Verdha MS. Tak heran jika penulis berusia 26 tahun ini lebih suka menyematkan judul Mutiara dari Bagelen (MDB). Padahal dalam buku besutannya ini termuat 1001 kisah dan biodata singkat tokoh-tokoh kelahiran Purworejo, yang ditulis Verdha sebagai Putra Bagelen.

Cuplikan kalimat di awal buku, seakan memberi sinyal pada pembaca bahwa pemilihan kata Bagelen lebih tepat. "Semua kisah paling besar selalu terjadi, berawal dari tanah Bagelen. Sejarah besar, peristiwa besar, dan perang besar selalu dimulai, terjadi di sini pula..." (Cokronegoro 1, Babad Kedhungkebo)

Pada masa Kesultanan Mataram hingga abad ke-19, Kabupaten Purworejo memang lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen. Bahkan, paska Perang Jawa, terbentuklah Karesidenan Bagelen dengan ibukota di Purworejo.

Kawasan Bagelen sangat disegani karena melahirkan sejumlah  tokoh. Misalnya Sunan Geseng dan Kyai Imam Pura yang berjasa dalam pengembangan agama islam di Jawa Tengah Selatan. Muncul pula nama Kyai Sadrach, penginjil Kristen plopor Gereja Kristen Jawa (GKJ).

Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesidenan Bagelen dihapus dan digabungkan pada karesidenan kedu. Bagelan berubah status menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Purworejo.

Semangat juang trah Bagelen inilah yang rupanya mengusik Verdha untuk mengumpulkan serpihan mutiara yang terserak. Hasilnya seratusan lebih biodata tokoh kelahiran Purworejo terangkum dalam MDB. Memang, sebagian besar tokoh-tokoh tersebut sudah tinggal lagi di Purworejo. Namun, kiprahnya di berbagai bidang telah mengharumkan nama Purworejo.

Mengenang tokoh sejarah kelahiran Purworejo, Guru Sekolah Dasar pasti akan menyebut nama: WR Supratman, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Urip Sumohardjo, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, dan lain-lain. Di Bidang seni budaya, ada Ki Dalang Timbul Hadiprayitno, Ki Dalang Sutarko Hadiwacono, Pelukis Widayat, Perupa Hanafi, hingga Basuki Resobowo. Di Bidang kesusastraan muncul nama Atas Danusubroto, Junaedi Setiyono, Soekoso DM, Budhi Setyawan, dan lain-lain.

Purworejo tak hanya melahirkan tokoh politik yang moncer seperti Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang gaul dan Ngerock. Kota Pensiunan ini juga memunculkan tokoh perintis seperti Driyarkara (Bapak filsafat Indonesia), Kassian Ceppas (Bapak Fotografi Indonesia),  JHC Kern (arkeolog), Stefanus Ivan Gunawan (penemu metode perhitungan metris), hingga Naba Aji Seputra (Bill Gates-nya Indonesia)

Membaca beragamnya tokoh di MDB, terbersit tanya, bagaimana Verdha memilih dan mengkategorikan sosok yang dianggap pantas sebagai tokoh bangsa. Namun, Jendral TNI (Purn) Endriartono Sutarto dalam pengantarnya mengajak untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Ia mengapresiasi langkah Verdha untuk menggugah kesadaran kita bahwa Purworejo merupakan daerah yang tak henti menyumbangkan putra-putri terbaiknya.

Bagi generasi muda, Purworejo sepertinya tak cukup menggairahkan untuk pencarian hidup hingga memilih jalan merantau ke berbagai wilayah. Namun keasrian Purworejo akan selalu  menjadi tempat yang dirindukan. Purworejo tak henti memanggil kembali mutiara-mutiaranya untuk tidak sekedar pulang.

------

*SETIYO BARDONO, penulis kelahiran Purworejo tinggal di Depok, Jawa Barat. Antologi puisi tunggalnya berjudul Mengering Basah (Aruskata Pers, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (Pasar Malam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).

KONTEN MENARIK LAINNYA
x