Mohon tunggu...
Septian Ananggadipa
Septian Ananggadipa Mohon Tunggu... Auditor - So let man observed from what he created

Pejalan kaki (septianangga7@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Drama "Startup" ala Indonesia

26 Desember 2020   19:10 Diperbarui: 27 Desember 2020   03:03 885
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi startup. (sumber: shutterstock via kompas.com)

Penghujung tahun ini, tagar #TeamJiPyeong dan #TeamDoSan berseliweran di linimasa berbagai media sosial. Bagi yang belum ngeh, analogi team-team an itu berasal dari hype drama Korea yang berjudul Start Up.

Bicara tentang start up, perusahaan rintisan yang berbasis teknologi ini sebenarnya sudah cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia.
Negara kita bahkan memiliki 1 jagoan Decacorn, start up yang memiliki valuasi lebih dari US$ 10 miliar atau sekitar Rp150 triliun, yaitu Go Jek.

Decacorn ini bisa dibilang "makhluk" yang cukup langka lho di dunia per start up an. Berdasarkan riset Hurun Research Institute di tahun 2019, di dunia ini hanya ada 23 start-up yang berstatus Decacorn, salah satunya Go Jek yang berasal dari Indonesia.

Pandemi Berujung Drama

Nah, drama ternyata tidak hanya terjadi di layar kaca Korea, tapi juga di dunia nyata. Pandemi Covid-19 yang hadir tiba-tiba membuat kalang kabut seluruh dunia usaha, tidak terkecuali banyak perusahaan start up.

Hal yang pertama paling terasa tentu penurunan aktivitas ekonomi secara drastis. Sebagai contoh yang dirasakan Go Jek sebagai perusahaan yang berbasis sharing economy, dampak dari pembatasan aktivitas, penurunan omzet, hingga protokol kesehatan yang ketat otomatis membuat aksi pertumbuhan Go Jek melambat.

Start Up yang identik dengan strategi "bakar uang" pun kini semakin mengetatkan ikat pinggang, bahkan berhembus isu bahwa Grab dan Go Jek akan merger karena investor-investornya tidak kuat terus-terusan bakar uang, apalagi di masa pandemi yang dari sisi indikator ekonomi serba tidak pasti.

Perusahaan start up tidak hanya tertekan dari sisi aktivitas. Laporan Google, Temasek, Bain & Company yang dirangkum dalam e-Conomy 2020 menunjukkan bahwa jumlah pendanaan investor ke start up di Asia Tenggara di tahun 2020 ini menurun sekitar 35%.

Dalam laporan yang sama, sektor online travel mengalami penurunan penjualan yang paling signifikan, hingga hampir 60%, sedangkan transport & food menurun 11%.

Makin seretnya pendanaan dan penurunan penjualan mau tidak mau memaksa start up untuk bergerak lebih efisien, bahkan di antaranya mungkin terpaksa efisiensi.

Salah satu start up unicorn negeri kita, Traveloka, merasakan hantaman paling keras akibat pandemi Covid-19. Nikkei Asia Review melaporkan, pada Q3 tahun 2020  lalu, Traveloka bahkan harus mengurangi jumlah karyawan, termasuk memangkas gaji dan bonus pegawai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun