Septian Ananggadipa
Septian Ananggadipa Pegawai biasa - Pejalan kaki dunia

So let man observed from what he created

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Apakah Bank Syariah Kebal Krisis?

8 Maret 2018   19:12 Diperbarui: 8 Maret 2018   20:42 398 1 0
Apakah Bank Syariah Kebal Krisis?
Sumber foto: infobanknews.com

Bank dengan prinsip syariah pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 1991 melalui Bank Muamalat, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim, yang kemudian mendapat dukungan dari Pemerintah Indonesia. Tujuh tahun kemudian, Indonesia diterpa krisis moneter yang membuat banyak bank-bank besar kolaps, memaksa Pemerintah mengeluarkan bantuan ratusan triliun rupiah dalam bentuk obligasi rekapitulasi untuk mencegah krisis lebih dalam.

Bank Muamalat, sebagai contoh bank syariah murni pertama di Indonesia, juga turut terguncang namun mampu selamat dari krisis moneter. Beberapa tahun setelah krisis, bank-bank syariah lain mulai bermunculan, mulai dari anak usaha BUMN hingga swasta. Banyak orang yang menilai bank syariah kebal terhadap krisis dan memiliki pondasi keuangan yang lebih kuat. Pendapat tersebut tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar.

Naik Turun Bank Syariah

Keberhasilan Bank Muamalat melalui krisis moneter bukan tanpa sebab, pada tahun 1998 guncangan juga menerpa bisnis bank syariah ini, tercermin dari rasio pembiayaan macet atau Net Performing Finance (NPF) yang menembus 65%. Di akhir tahun, perusahaan juga mencatatatkan kerugian Rp75 miliar. Bank Muamalat dapat survive setelah Islamic Development Bank (IDB) sebagai investor menyuntikkan dana segar.

Setelah survive dari krisis moneter dan disusul munculnya bank-bank syariah baru, kinerja bisnis dan laba bank syariah secara umum dapat tumbuh cukup baik.

Namun baru-baru ini di berbagai media kita sering mendengar kabar tentang Bank Muamalat yang sedang berupaya mencari investor baru. Bank berwarna dominan ungu ini sedang membutuhkan tambahan modal di tengah kinerja bisnis yang tidak begitu bagus, pada tahun 2014 rasio pembiayaan macet (NPF) menyentuh 6,55% dan memburuk menjadi 7,11% satu tahun berikutnya. Pada September 2017, NPF mampu diturunkan menjadi 4,54% namun tingginya pembiayaan macet di tahun-tahun sebelumnya menggerus modal bank.

Saat ini rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) atau CAR Bank Muamalat turun menjadi 11,58%, dibawah batas aman yang ditetapkan OJK sebesar 12%. Kondisi tersebut memaksa bank syariah tertua di Indonesia ini harus segera menambah modal.

Tantangan Kondisi Ekonomi

Bank syariah memiliki potensi yang sangat besar terutama di negara yang mayoritas beragama Islam. Secara profil risiko, bank syariah memang lebih tahan terhadap krisis keuangan jika dibandingkan dengan bank konvensional, karena lebih fokus pada sektor riil dan tidak terlibat di sektor keuangan yang spekulatif.

Namun, dari sisi bisnis, bank syariah tidak serta merta kebal dari krisis.

Hal itu karena pembiayaan bank syariah yang diberikan kepada usaha di sektor riil maupun sektor konsumsi, tidak lepas dari risiko pembiayaan macet. Jika kondisi ekonomi sedang lesu atau manajemen SDM bank dalam mengelola pembiayaan tidak baik, maka potensi risiko pembiayaan macet akan membayangi.

Saat ini di Indonesia terdapat kurang lebih 13 bank syariah, sebagian besar merupakan anak usaha dari bank konvensional yang telah lebih dahulu eksis. Tantangan yang cukup berat dihadapi bank syariah adalah kekuatan pendanaan (funding) yang terbatas jika dibandingkan bank konvensional dan biaya dana (cost of fund) yang diperoleh cenderung lebih mahal, sehingga pembiayaan (financing) yang diberikan juga memiliki tarif margin yang terkadang lebih tinggi dibanding bank konvensional.

Dalam konteks struktur permodalan, Bank Muamalat sebagai bank syariah murni tentu memiliki tantangan lebih besar. Dengan tidak adanya dukungan modal langsung dari induk usaha, ruang untuk ekspansi menjadi lebih terbatas, dan ketika kondisi bisnis sedang memburuk seperti saat ini, perusahaan harus pontang panting mencari suntikan modal.

Potensi Bank Syariah

Indonesia sebagai negara mayoritas beragama Islam tentu memiliki potensi pengembangan bank syariah yang sangat besar. Ditambah lagi dengan makin berkembangnya potensi bisnis terkait seperti pariwisata halal, asuransi syariah, fashion muslim dan masih banyak lagi. Presiden Jokowi pun pernah mengutarakan keinginannya agar Indonesia dapat menjadi pusat keuangan syariah terbesar di dunia.

Namun, keinginan tersebut masih jauh dari kenyataan. Berdasarkan data OJK, pangsa pasar bank syariah baru sekitar 5%, jauh tertinggal dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai lebih dari 20%.

Pemerintah tentu tidak hanya diam melihat potensi tersebut, roadmap penggabungan bank syariah BUMN pun telah digodok. Meskipun diwarnai pro kontra, secara bisnis penggabungan bank syariah miliki negara tentu akan menghasilkan bank syariah yang memiliki struktur permodalan lebih besar dan kuat, sehingga dapat mendorong ekspansi bisnis lebih cepat.

Tidak bisa dilupakan juga, Bank Muamalat yang merupakan bank syariah tertua di Indonesia juga harus dijaga di tengah kondisi usahanya saat ini yang sedang kurang sehat. Berbagai opsi pun mengemuka, diantaranya suntikan modal dari pengusaha muslim, dana segar dari investor, atau bisa jadi di "tolong" oleh gabungan bank syariah BUMN.  

Melihat potensi semakin berkembangnya keuangan syariah, sudah saatnya bank syariah berbenah dengan serius. Tidak hanya mengandalkan keunggulan demografis masyarakat Islam di Indonesia, tapi juga mengembangkan bisnis keuangan secara komprehensif.


Septian Ananggadipa

Jakarta, Maret 2018