Mohon tunggu...
septiambar
septiambar Mohon Tunggu... Penulis, Penggiat Parenting dan Pekerja Sosial

Penulis, Penggiat Parenting dan Pekerja sosial

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Belajar di Rumah, Siapa yang Stres?

20 Maret 2020   15:39 Diperbarui: 20 Maret 2020   15:58 204 2 1 Mohon Tunggu...

Merebaknya wabah Corona memberi efek lain pada tatanan keluarga. Kebijakan pemerintah yang sepakat meliburkan anak sekolah untuk memindahkan tempat belajar ke rumah memberikan gejala sosial baru.

Banyak orang tua yang mengaku lebih stress harus mengajarkan anaknya semua materi sekolah di rumah. Tidak terkecuali saya, pengalaman mengajar tidak membuat saya lepas dari tekanan mengajar anak yang masih berusia SD di rumah, lengkap dengan adik-adiknya yang kebetulan juga masih bayi dan balita.

Capaian kurikulum yang di harapkan sekolah harus di penuhi anak. Jam pelajaran yang seharusnya di laksanakan sekolah, mau tidak mau juga harus di laksanakan di rumah dengan banyak keterbatasan.

Masing-masing sekolah tentu sudah mempunyai cara dan teknis sendiri. Hampir sebagian mengganti KBM dengan menggunakan sistem daring. Kegiatan belajar ini bagi sebagian orang tua di rasa menyulitkan, sebab anak selama ini belum di beri kepercayaan penuh untuk mengakses komputer dan gawai. Jadi ya, mau tidak mau orang tua pada jam pelajaran yang sudah di tentukan juga ikut sekolah.

Itu kasus khusus, bagi siswa SMP, SMA atau Mahasiswa mungkin saja sudah bisa belajar mandiri, karena mereka terbiasa mengikuti sistem pembelajaran berbasis online. Seperti mengumpulkan tugas sekolah, atau mahasiswa biasany juga sudah terbiasa mengikuti kuliah online dengan dosennya.

Bagi sebagian, hal tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi bagi orang tua yang belum terbiasa, memberi efek yang luar biasa. Selama ini orang tua selalu memberi kepercayaan penuh kepada sekolah untuk mendidik anak-anak mereka. Tugas mereka hanya sekedar mendampingi belajar saat di rumah. Menyiapkan segala bentuk keperluan sekolah yang bersifat material saja. Selebihnya tugas mengajar dan mendidik, hampir bisa dipastikan di pasrahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Jadi teringat, sebelum teror corona ini menjadi momok di masyarakat. Kita bertubi-tubi di suguhi kasus-kasus yang melibatkan siswa dan guru. Banyak video yang beredar di internet melalui sosial media bahwa adab anak sekolah sekarang sudah sangat memprihatinkan, beberapa kasus video yang beredar ada anak SD yang bergerombol merokok dan minum-minuman keras masih berseragam merah putih. 

Kasus lain, ada guru yang diam seribu bahasa saat ada siswanya yang berseragam putih abu-abu menari dan mengejeknya. Ada lagi guru yang sudah tua hanya duduk terdiam, sementara ada siswanya yang duduk di sampingnya sambil merokok dan seolah menghina.

Yang lebih parah, kasus orang tua siswa menyuruh guru untuk merangkak dan meminta maaf karena tidak terima anaknya ditegur. Ada lagi pimpinan pondok pesantren yang di marahi, bahkan di tempeleng karena tidak terima anaknya di tegur saat tidak mentaati peraturan yang berlaku, orang tua yang mendapat aduan dari anaknya langsung mendatangi pimpinan pesantren. Konon ceritanya, orang tua siswa tersebut merupakan pejabat daerah yang memiliki jabatan di daerah tersebut.

Jika kita mau mengungkapkan cerita tentang peliknya masalah guru, siswa dan orang tua, tidak akan cukup saya tuliskan. Sudah terlalu banyak kasus yang terjadi. Seolah-olah keberadaan guru tidak ada artinya. Tidak lagi di anggap pahlwan bagi sebagian kalangan. Guru sering dijadikan objek kesalahan saat ada konflik antara siswa dan guru. 

Bahkan perkembangan sekarang, banyak orang tua yang justru tidak ikut memberikan teladan kepada anaknya saat ada masalah. Orang tua sekarang lebih banyak baper, dan reaktif. Jika ada aduan anaknya di perlakukan kurang baik di sekolah, tidak malu orang tua tega mendatangi guru dan bahkan melakukan tindakan buruk dengan bersikap kasar dan berujung penganiayaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN