Cerpen Pilihan

Perayaan Kanvas

17 Mei 2018   11:04 Diperbarui: 17 Mei 2018   11:17 311 0 1
Perayaan Kanvas
ilustrasi (dokpri)

Bising sore tak mengusik dirinya menyapu kanvas. Dia larut dalam gerakan tangan mencipta objek lukisan. Hamparan sawah menguning dibelah seruas jalan berkelok berlatarbelakang dua gunung biru berhias gumpal awan. Begitu realis. Dia tersenyum menatap karyanya. Segumpal kebahagiaan di sanubari pecah, mengisi aliran darah, dan hadirkan cerah.

Tak pernah dia sebahagia ini. Kebahagiaan tak terkira yang menaklukkan kebahagiaan saat mencapai puncak karir sebagai pimpinan tertinggi perusahaan. Dia berteriak. Menumpahkan kebahagiaan yang tak sanggup ditampung diri. Teriakannya semakin keras. Melenyapkan bising sore.

Dia menari-nari mengelilingi lukisan. Menikmati keindahan karya. Menikmati cahaya jingga yang merambat mengecup lantai balkoni apartemennya di lantai 21. Dia terus menari, berteriak, lalu melompat masuk ke dalam lukisan. Jatuh berguling di jalan berkelok hasil sapuan kuasnya.

Perlahan dia bangkit menepi. Memandangi hamparan sawah menguning. Sekumpulan petani tampak sedang memanen. Dia gagas mendatangi. Bergabung. Ikut memanen. Merayakan marsiadap ari. Menikmati keakraban tanpa prasangka. Menjadi bagian dari kesederhanaan yang menyimpan kearifan.

Bersama para petani dia menuntaskan pesta persaudaraan. Petani pemilik sawah menawarkan singgah ke rumahnya. Dia menyambut dengan senang hati. Mereka berbincang sepanjang perjalanan menuju ujung kampung lokasi rumah si petani.

Beberapa langkah menjelang tiba, telinganya menangkap suara gemericik air. Tanpa ditanya, petani bercerita tentang sungai jernih di belakang rumah. Dia tak sabar tiba di sana. Berenang. Membasuh lelah. Langkah dia percepat. Meninggalkan petani yang tertawa lepas.

Dia melewati samping rumah papan berbentuk panggung beratap rumbia. Terus ke belakang melewati kebun sayuran dan sebarisan pohon pinang. Gemericik air semakin jelas. Melahirkan melodi indah. Kakinya diam tegak. Aliran sungai tersaji di depan mata. Segumpal kebahagiaan di sanubari pecah, mengisi aliran darah, dan seterusnya, dan seterusnya... (*)