Ekonomi Artikel Utama

Cerita Soal Aksi "Saling Tembak" Sopir Taksi Online di Medan

9 Oktober 2017   00:55 Diperbarui: 9 Oktober 2017   04:33 2623 6 3
Cerita Soal Aksi "Saling Tembak" Sopir Taksi Online di Medan
ilustrasi taksi online (sumber: Kompas.Com)

Tak hanya menyangkut keselamatan di jalan (silakan baca: Maaf, Saya Takut. Bisa Di-cancel Saja?), hal lain yang menghangatkan pembicaraan para sopir taksi online di kedai kopi langganan saya adalah order fiktif. Bentuk pesanan palsu yang dilakukan demi mencapai jumlah trip yang mnjadi syaratkan untuk mendapatkan insentif (bonus dari pengelola aplikasi di luar ongkos).

Caranya sederhana. Rekan sopir (kadang juga keluarga dan kerabat) melakukan order dengan target masuk ke akun sopir rekannya. Biasanya order dibuat dengan jarak pendek. Order masuk ke akun tujuan, sopir jalan, jumlah trip naik. Celakanya, tak jarang order salah sasaran. Masuk ke akun sopir lain.

"Mau nembak kawan tadi, Bang. Abang jalankan aja. Nanti kita kasih bintang lima. Ada peluru Abang?," ucap pelaku order saat dihubungi sopir yang mendapatkan order.

Sopir pun menjalankan hingga trip selesai dan satu penilaian berbintang lima bertambah. Namun, sialnya, ada pula pelaku order yang mengingkari janji. Seperti yang dialami salah seorang sopir, sekaligus pelanggan kedai kopi langganan saya. Si pelaku order membuat pengaduan bahwa si sopir melakukan perjalanan tanpa menjemputnya. Ada pula yang memberikan penilaian bintang satu.

Menurut cerita para sopir di kedai kopi langganan yang masih menjunjung kejujuran dalam bekerja, order fiktif yang salah sasaran langsung dibatalkan. Akibatnya, performa turun. Untuk menaikkan kembali performa, sopir dipaksa mengemudi lebih lama. Demi insentif. Ongkos penumpang hanya cukup menutupi BBM dan biaya operasional harian.

Jumlah sopir taksi online yang kian meningkat setiap hari, menambah muram pekerjaan para penjaja jasa pengemudi online. Diantara para pengemudi baru ini, ada yang memanfaatkan mobil sebagai sumber penghasilan sampingan dan banyak pula yang membeli mobil secara kredit untuk di-taksionline-kan.

Banyaknya jumlah taksi online yang berebut pemesanan di kesemrawutan jalan membuat sopir kesulitan mencapai jumlah trip yang disyaratkan. Sedangkan bayang-bayang tagihan kredit mobil dan setoran ke rumah menari-nari di pikiran. Siasat pun timbul: order fiktif. Saat praktik ini berjalan mulus, maka jumlah trip dipenuhi dan insentif masuk ke rekening.

Pengelola aplikasi taksi online mungkin tak mengalami kerugian meski harus mentransfer sejumlah uang insentif padahal sopir tak melakukan perjalanan. Bagi mereka yang penting mungkin hanya angka-angka perjalanan dan nilai transaksi sebagai portofolio untuk diajukan ke calon investor. Namun, bagaimana nasib sopir korban salah tembak? Ikut-ikutan bermain dengan order fiktif? Kiranya ini bukan jawaban yang akan dilontarkan oleh pengelola taksi online sebagai company zaman now.

Validasi data penumpang dan penggunaan fitur pembayaran non tunai,juga diperlukan untuk mencegah order fiktif. Sanksi suspend terhadap akun penumpang tervalidasi yang melakukan order fiktif akan membuat si pemilik akun berpikir ulang. Sanksi lainnya adalah pembayaran ongkos kepada sopir korban order fiktif yang diambil dari saldo pelaku. Jika akun pelaku di-suspend, sisa saldonya ditransfer pengelola ke rekening bank yang dipakai saat pemasangan aplikasi.

Perhatian pengelola aplikasi taksi online terhadap jaminan keselamatan dan kenyamanan sopir -- yang dilabeli mitra -- dalam bekerja akan memotivasi sopir memberi pelayanan standar kepada penumpang dan tertib di jalan. Lebih dari itu, sopir taksi online tak akan mengeluhkan berbagai peraturan seperti uji kir sebagai syarat mengaspal.

"Offline. Banyak kali peluru nyasar," ucap seorang sopir yang baru tiba. Performanya di angka 25%. Dari delapan order, 6 fiktif. Untuk mendapatkan insentif Rp 100.000, dia harus menyelesaikan 7 perjalanan. Itu pun kalau order fiktif tak singgah. "Udah dilaporkan, ga ada pengaruhnya. Performa tetap turun," ucapnya lagi dengan kegeraman. Di luar, senja turun perlahan. (*)