Senopati Ami
Senopati Ami karyawan swasta

merah darah warnanya, tanda satria jiwanya dalam membela bangsa.

Selanjutnya

Tutup

Jalan Jalan

Pulau Kelapa : Jangan Tidung Lagi

29 Juli 2010   01:39 Diperbarui: 26 Juni 2015   14:31 3037 0 4

Belum sempat kupenuhi janjiku untuk kembali ke pulau Tidung, aku sudah kembali berlayar ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa namanya. Echa, senior perempuan di SMU-ku menjadi pemrakarsa acara ini. Bersama Ijul, Rikay, dan Devy, kami yang merupakan anggota Perkumpulan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung di SMU kami, sepakat melakukan perjalanan bersenang-senang, bersama dengan salah seorang teman Echa yang bernama Bobby.

Acara senang-senang kali ini menjadi pelampiasan Rikay dan Echa yang sudah bosan dengan pulau Tidung tempat mereka sering menjadi guide. Meski bukan professional Event Organizer, Rikay dan Echa sering dimintai teman-temannya untuk mengantar mereka ke Pulau Tidung untuk berwisata Bahari. Euphoria pulau Tidung beberapa waktu belakangan membuat mereka merasa perlu mencari alternatif tempat wisata yang mudah dijangkau, murah dan masih sepi untuk mereka menikmati waktu mereka sendirian.

Dengan menumpang kapal dari Muara Angke ke Pulau Kelapa, kami menikmati perjalanan berdurasi 3,5 jam menuju pulau yang terletak di sebelah utara Pulau Pramuka itu. Cuaca hujan dan berangin beberapa hari belakangan menjadikan laut yang kami lalui bergelombang dan berombak. Kapal yang sudah sarat penumpang melaju dalam keadaan miring ke kiri dan ke kanan. Tidak seperti perjalanan ke pulau Tidung yang mengarahkan kami ke arah barat laut, dalam perjalanan ke Pulau Kelapa, kapal kami lebih banyak mengarah ke utara. Aku, Rikay dan Ijul yang duduk di kap depan kapal yang tak beratap menikmati pandangan luas tanpa penghalang dan angin kencang menerpa wajah, sedikit banyak hal ini memberikan kenikmatan di perjalanan panjang yang membosankan ini.

Sambil tidur-tiduran dengan diiringi musik dari MP3 Player kesayanganku, perjalanan 3 jam terasa lebih cepat berlalu. Tampak pulau yang kami tuju di cakrawala dan perlahan kapal yang kami tumpangi mulai mengurangi kecepatan untuk merapat ke dermaga yang sudah penuh oleh penduduk setempat yang datang menyambut penumpang kapal yang kebanyakan merupakan kerabatnya.

Dengan menumpang 3 buah becak dari dermaga, kami mulai bergerak ke arah barat daya pulau ini ke rumah yang akan kami tinggali untuk semalam. Tepat di depan dermaga berdiri sebuah bangunan Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) dan Raudathul Anfal (setingkat TK) yang terintegrasi dengan Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP). Bergerak ke arah barat sebuah rumah sakit bersalin 24 jam juga kami lalui.

Berbeda dari pulau Tidung yang telah dipenuhi oleh wisatawan, Pulau Kelapa masih dipenuhi oleh penduduk setempat, sementara wisatawan masih jarang terlihat. Terdengar dari kejauhan ada ramai-ramai tabuhan rebana dan kendang menandai semaraknya Rajaban (Isra Mi’raj) di pulau ini. Kami beranjak lebih jauh lagi kami melewati sebuah hajatan pernikahan tengah dipersiapkan oleh warga. Jam 10.30 sudah terpampang di Ponselku. Sajian prasmanan di bawah tenda hajatan memperkeras golakan dalam perutku yang belum diisi sejak kemarin malam.

“Udah cepet masukin barang-barang, terus ganti baju.. nanti kita langsung berangkat snorkeling abis makan siang.” Echa me-mandor-i kami seteibanya kami di penginapan sederhana di tepi pantai. Dengan meminjam fin, masker dan snorkel dari Rikay, aku pun siap untuk langsung terjun ke dalam laut. Sarapan yang dirapel dengan makan siang tandas dari piringku dalam hitungan detik. Perut terisi, perbekalan air dan cemilan sudah lengkap, peralatan komplit membuatku percaya diri dalam ‘operasi’ kali ini.

Rikay, Ijul, dan Echa sudah banyak pengalaman dan ‘minum air laut’ sehingga aku, Bobby dan Devy yang masih rookie harus banyak berguru kepada para sesepuh kami ini. Peralatan snorkeling telah lengkap dan dengan menumpang perahu nelayan, kami bergerak menuju pulau Kotok Kecil di sebelah tenggara pulau Kelapa.

Pulau Kotok Kecil yang cukup populer di jagad maya menjadi tujuan utama Echa dalam operasi kami sekarang. Perahu yang bergerak kencang menabrak-nabrak gelombang membuat ku agak pusing. Tak lama pulau Kotok Kecil pun sudah di depan mata. Masuk kedalam laut akupun mulai mencoba menikmati pemandangan bawah air. Angin kencang mendorong gelombang laut ke arah barat.ku kayuh fin ku menjauhi perahu dan kulihat terumbu cantik dan ikan-ikan mungil. Pemandangan indah yang tak terlalu jelas terlihat karena tertutup ‘kabut’ pasir putih. Snorkel ku kemasukan air laut, rasa asin–pahit memenuhi mulutkan sehingga membuatku tak dapat bernafas. Ku angkat kepalaku dan ku coba keluarkan air laut dari snorkel-ku. Baru kusadari, rupanya aku masih berada di dekat perahu yang kami tumpangi. Ku coba lagi mengayuh dan bergerak menjauhi perahu, dan kuangkat lagi kepalaku untuk melihat berapa jauh aku sudah bergerak, rupanya masih belum jauh. Kucoba berulang kali dan keadaan tetap sama. Rupanya gelombang laut yang sedang besar menjadi tembok yang tidak bisa ku tembus. Payahnya lagi, gelombang yang sama mengaduk-aduk pasir laut dan menciptakan tabir ‘kabut’ pasir yang menghalangi pemandangan indah bawah laut.

Cukup lama aku berusaha, dan akhirnya aku menyerah dan memutuskan beristirahat di perahu. Bobby dan Devy pun melakukan hal yang sama. Echa, Rikay dan Ijul tetap berenang berputar-putar mencari spot yang indah untuk diabadikan. Rupanya jam terbang memberikan banyak pengaruh dalam operasi kali ini.

Perjalanan pun kami lanjutkan, sasaran berikutnya adalah pulau Kaliage Besar, milik taipan Media Nasional. Dapat kurasakan angin dan gelombang semakin kencang. Di darmaga yang terbuat dari kayu kami beristirahat sejenak dan menikmati hangatnya matahari membakar kulit sambil berfoto-foto narsis. Bungalow mewah berdiri di pulau pribadi ini dengan dua buah motor boat tertambat di darmaganya.

Perjalanan ini kami akhiri dengan rasa lelah karena melawan arus gelombang. Shalat Ashar kami lakukan di penginapan. Menjelang sunset kami berkeliling pulau mencari obyek yang bagus untuk difoto sekaligus survey untuk alternatif penginapan lain jikalau di lain waktu kami kembali kemari.

Bergerak ke arah timur, kami menuju Pulau Harapan yang terhubung darat dengan Pulau Kelapa. Terdapat beberapa losmen tersedia di Pulau Harapan Rikay terlihat bersemangat dalam mencari penginapan di Pulau Harapan. Selain rapi, Pulau Harapan juga tampak dibangun untuk tujuan wisata. Beberapa gardu untuk singgah berdiri kokoh di sepanjang pesisir pantai. Lampu warna-warni turut memeriahkan pulau ini di kala petang.

“gw dah muak dengan euphoria pulau Tidung. Kayaknya orang-orang dengan menjadikan wisata ke Tidung cuma sebagai pembuktian eksistensi diri dan aktualisasi diri semata, ga ada segi edukasi atau konservasi dalam wisata ke pulau Tidung.” Rikay mulai bercerita di sela-sela pencarian kami mencari penginapan di pulau Harapan. Tampaknya Rikay sudah muak dengan sikap wisatawan yang dengan egois berwisata ke pulau Tidung tanpa memperhatikan keberlanjutan potensi wisata di sana. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh penduduk Tidung yang hanya memanfaatkan keuntungan ekonomis sesaat tanpa mempertimbangkan kepentingan ekologis dalam jangka panjang.

“Contoh gampangnya deh. Kalau nelayan atau kapal buang jangkar, mereka sering buang jangkar sembarangan, jadinya terumbu karangnya hancur. Padahal terumbu karang itu tempat ikan tinggal.” Ungkap Rikay mengurai kekecewaannya. Kebiasaan buruk nelayan yang asal-asalan sering merusak terumbu karang tempat ikan hidup dan mencari makan. Terumbu karang yang sama juga menjadi obyek wisata bagi para wisatawan baik yang ber-snorkeling maupun diving. Sayangnya keuntungan yang diperoleh para nelayan seringkali tidak sejalan dengan kepedulian mereka untuk menjaga terumbu karang dari kerusakan. Penggunaan bom atau racun dalam menangkap ikan, pelemparan sauh / jangkar sembarangan serta diambilnya terumbu karang sebagai souvenir berkontibusi dalam pengerusakan terumbu karang di sekitar Pulau Tidung secara signifikan. Namun karena rusaknya terumbu karang tidak memberikan dampak yang dapat langsung terlihat, para nelayan mengira bahwa perbuatan mereka yang serampangan itu tidak mempengaruhi ekosistem bawah laut yang selama ini menghidupi mereka.

Kerusakan akibat sikap nelayan yang masa bodoh seperti itu menjadi lebih sering terjadi ketika wisatawan berdatangan dengan derasnya. Kerusakan terumbu karang akibat pelemparan sauh / jangkar, tertabrak perahu motor dan sampan, bertambahnya jumlah buangan sampah dan tindakan destruktif wisatawan yang ‘memetik’ terumbu untuk souvenir atau menginjak terumbu karang yang masih hidup, dapat mempercepat kematian biota laut di daerah itu.

“Udah tinggal nunggu mati aja deh tuh pulau.” Lanjut Rikay lagi. Cepatnya upaya pengusakan oleh manusia (baik nelayan maupun wisatawan) tidak dapat dikejar oleh biota laut untuk memperbaiki dirinya serta lingkungan disekitarnya. Sekali sebuah terumbu karang hancur, maka akan membutuhkan waktu ribuan tahun untuk memperbaikinya. Hal ini disebabkan karena dalam satu tahun terumbu karang hanya dapat tumbuh beberapa centimeter saja. Perkembangan yang lambat itu tak dapat mengejar pengerusakan oleh manusia yang selalu terjadi setiap akhir pekan.

“Gw rada kecewa dengan EO (Event Organizer) yang cuma bisa mengambil keuntungan dari datangnya wisatawan ke pulau Tidung tanpa peduli dengan ekosistem di sana.” Rikay tunjukkan kekecewaannya atas sikap para oportunis wisata yang tidak bertanggungjawab. Meski tidak membawa perbaikan secara instant, unsur pendidikan mengenai konservasi yang ditanamkan oleh para Event Organizer wisata bahari kepada wisatawannya dan penduduk setempat dapat mencegah tingkat pengerusakan sebelum menjadi lebih parah lagi.

Sunset sudah kembali ke peraduannya. Malam gelap dihiasi lampu hias warna- warni mempercantik wajah pulau Harapan yang menyimpan sejuta harapan alamnya agar pulau ini menjadi ramai oleh wisatawan, tapi tidak menjadi semakin rusak oleh kedatangan mereka.