Mohon tunggu...
Semuel S. Lusi
Semuel S. Lusi Mohon Tunggu... Penulis

Belajar berbagi perspektif, belajar menjadi diri sendiri. belajar menjadi Indonesia. Belajar dari siapa pun, belajar dari apapun! Sangat cinta Indonesia. Nasionalis sejati. Senang travelling, sesekali mancing, dan cari uang. Hobi pakai batik, doyan gado-gado, lotek, coto Makasar, papeda, se'i, singkong rebus, pisang goreng, kopi kental dan berbagai kuliner khas Indonesia. IG @semuellusi, twitter@semuellusi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Seandainya Yesus Lahir Lagi, Hari Ini di Jakarta!?

24 Desember 2017   17:17 Diperbarui: 24 Desember 2017   22:51 810 12 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seandainya Yesus Lahir Lagi, Hari Ini di Jakarta!?
Pohon natal di Mal Taman Anggrek.(Kompas.com / Moh Nadlir)

Betlehem di zaman kelahiran Yesus adalah kota 'metropolitan." Disebut demikian karena sudah ada penginapan, menjadi pusat keramaian, di bawah pemerintahan kekaisaran Romawi yang amat berpengaruh. Tetapi, itu lebih dari 2000-tahun lalu.

Membayangkan, bila hari ini Yesus lahir di kota metropolitan Jakarta. Kamar-kamar hotel sudah pada penuh dan full booked. Kalau pun masih ada, harganya berlipat di musim high season. Mal-mal dan toko-toko semarak dengan lampu-lampu hias menjulang langit dengan aneka warna gemerlap, petasan warna-warni meletus di udara mengukir langit. Pesta raya, minuman tos, dan berbagai perayaan selebritis nan megah. Di mal-mal orang pada sibuk, berkerumun mencari barang-barang promosi dengan diskon berlipat. Kepedulian hanya terarah pada angka-angka diskon dan semangat menghadirkan kemewahan hasrat berlimpah memoles diri.

Kaum berdasi sibuk mencipta forum perayaan untuk memamerkan kedermawanannya, demi menjaring simpati dan dukungan menaiki kursi-kursi empuk dan menduduki tahkta istana. Rakyat jelata pun terlalu sibuk mencari sesuatu pengganjal perut yang jarang terisi, dengan menjaja koran, air mineral, atau hanya bermodal telapak terbuka dan wajah memelas menghimbau pengasihan dan sedikit bela rasa. Mana bisa peduli pada yang lain, diri sendiri saja sudah terpatok dibawah garis setengah hidup.

Lalu, bunda muda yang hamil tua dan tiba-tiba merasa segera melahirkan itu sedang duduk di atas becak, atau bemo dengan mesin tua meraung-raung menghadirkan kebisingan. Disetiri tunangannya yang yakin hakul yakin bukan anaknya di rahim sang pacar. Satlantas mungkin mengejar-ngejar, tidak saja lantaran bemo sudah terlarang di ibukota, melainkan nekad menerjang masuk ke area yang tidak seharusnya dilalui jenis 'angkutan' jadul itu.

Terpaksa merangsek masuk menghampiri rumah penduduk sekadar untuk menumpang melahirkan, tidak tersedia kamar lebih. Lainnya ada namun tidak untuk tamu tak diundang. Ata, ada tetapi amat sempit dan telah penuh disesaki barang-barang koleksian yang entah kegunaan. Bahkan, untuk berdiri pun tak lagi ada space untuk pelancong 'tak berwajah.' Tak sedikit pula yang mengusir pasangan na'as itu lantaran tak mau menampung masalah. Urusan pribadi sudah terlalu rumit, mana boleh membebaninya lagi.

Pun, semua garasi telah disesaki mobil dan koleksi motor berdempetan. Tidak hanya garasi, di depan rumah yang merupakan jalanan umum pun terparkir mobil lainnya yang tidak dapat ditampung di kandang robot di ruang pirvat rumahan para pemburu martabat.

Menerobos masuk ke gang-gang sempit nan kotor ia dikejar satpol PP lantaran mengganggu. Atau dikejar geng kampung yang merasa wilayah kekuasaannya diterabas orang asing tanpa permisi, atau mengesankan diri (dan mewakili orang sekampung) merasa amat terganggu, sebagai cara meninggikan daya tawar dalam visi peluang bisnis receh.

Beberapa orang ahli perbintangan kredibel dari Timur Tengah dan Eropa muncul di TV dan media massa internasional mengumumkan sedang mencari 'calon Presiden' yang akan lahir malam ini, di Jakarta.  Berbagai informasi, ramalan, hasil penerawangan, wawancara pakar supranatural,  juga bully-an berbaur menyesaki ruang publik media massa dan spasial.

Media massa dan media perorangan bersahut-sahutan, mencampuradukkan fakta, mengkreasi fitnah, menduplikasi sumber, merekayasa figur, tak luput menyebar ancaman dan intimidasi. Sejumlah kelompok gamis atau yang mendaku wakil tunggal kiriman surga merasa dilecehkan, lalu mengumpul massa me-razia ibu-ibu hamil dan menginterogasi khalayak.  Polisi dan aparat keamanan pun kelabakan menenangkan suasana. Siapa pelempar isu, fitnah, teror, yang hendak mengacak suasana kebatinan bangsa majemuk nan spiritual  ini, yang hendak menuju pilkada serentak 2018, dan pilpres 2019?

Sejumlah laporan masuk menyebutkan ciri-ciri bemo dan pengayuhnya.  Pantauan CCTV di berbagai titik jalanan, komples perumahan, perkampungan RT/RW, parkiran mal dan toko, rumah sakit dan sekolah, masjid, gereja dan vihara pun diintesifkan. Stasiun tv bersiaga dengan laporan 'pandangan mata.'  

Namun, kamera-kamera yang telah terpasang di berbagai sudut kota dan tikungan jalan tidak melihat apa-apa. Si ibu telah melahirkan di atas bemo, tanpa pertolongan siapa pun. Ia mengalami pendarahan dan mungkin mati lemas begitu melahirkan bayinya. Si suami memeluk bayi merah bermandikan darah itu, mengendap-endap mencari tempat sunyi untuk 'menitipkannya,' lantaran tak sanggup memelihara bayi yang jelas-jelas bukan anaknya. Di tempat sampah, ia menemukan 'tempat  nyaman' bagi niatnya, dan juga bagi sang bayi.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x