Mohon tunggu...
Selvia Nuralita Dewi
Selvia Nuralita Dewi Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

hobi membaca, ramah

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pemisahan tempat duduk antara pria dan wanita di angkot sebagai upaya pencegahan pelecehan seksual

11 Agustus 2022   08:36 Diperbarui: 11 Agustus 2022   09:25 49 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Kasus pelecehan seksual pada transportasi umum, khususnya angkutan kota (angkot) masih marak terjadi. Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran), Deddy Herlambang, menjelaskan bahwa belum ada aturan jelas dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) khusus angkutan perkotaan guna mencegah terjadinya pelecehan atau kekerasan seksual di dalam angkutan umum.

Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan, menyerang tubuh seseorang karena ketimpangan gender yang dapat berakibat pada penderitaan psikis dan fisik. Berdasarkan jenisnya, kekerasan seksual dapat digolongkan menjadi beberapa macam, contonya adalah kekerasan seksual secara verbal, non fisik, fisik dan melalui teknologi. informasi.

Dalam tiga bulan terakhir telah terjadi kasus dugaan pelecehan seksual. Pada Jumat (7/7/2022) yang di alami  oleh seorang karyawan wanita berinisial AF. Korban mengalami pelecehan seksual di dalam angkot M-44 jurusan Tebet-Kuningan. Korban sempat mevideokan sosok pelaku yang meraba dadanya, video rekaman itu pun viral di media sosial. Mirisnya, meski di dalam angkot terdapat sejumlah penumpang tetapi tidak ada satupun yang peduli atas tindakan kekerasan seksual yang dialami oleh korban berinisial AF.

Menanggapi kejadian memalukan itu, pengamat transportasi publik, Azas Tigor Nainggolan menilai belum ada efek jera bagi pelaku tindak pelecehan seksual. Sehingga meski sudah di tangani oleh pihak berwajib, pelaku masih berani melakukan aksinya. Tigor menambahkan, sudah saatnya pemerintah dan para operator angkutan umum membuat sistem keamanan. Hal itu agar layanan publik menjadi lebih aman, nyaman, dan bebas dari aksi pelecehan seksual terhadap masyarakat rentan.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, berencana untuk memisahkan gender penumpang angkutan umum guna menekan jumlah kasus pelecehan yang terjadi. Langkah ini merupakan komitmen serius Dishub DKI Jakarta dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di tempat umum serta memastikan terpenuhinya hak asasi manusia atas keselamatan bersama.

Sebelumnya, kebijakan pemisahan antara pria dan wanita di transportasi umum dilakukan di bis TransJakarta dan gerbong KRL khusus perempuan. Namun, menurut Ketua Komnas HAM Perempuan, Andy Yentriyani, pemisahan penumpang antara pria dan wanita justru bisa membuat pelaku kekerasan seksual dan aparat penegak hukum kerap menyalahkan dan meneror korban, sehingga banyak dari korban yang berujung meminta maaf dan menarik laporannya. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan