Mohon tunggu...
Selvia Indrayani
Selvia Indrayani Mohon Tunggu... Guru - Guru, penulis, wirausaha, beauty consultant.

Pengajar yang rindu belajar. Hanya gemar memasak suka-suka serta membukukan karya dalam berbagai antologi. Sesekali memberi edukasi perawatan diri terutama bagi wanita.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Belajar dari Kisah Salam Tempel

19 Mei 2021   15:34 Diperbarui: 19 Mei 2021   15:40 183
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi isi salam tempel - dok. Shutterstock via Kumparan

Masih teringat pembicaraan dengan seseorang beberapa hari lalu tentang rasa syukurnya karena anak-anaknya mendapatkan salam tempel saat lebaran. Jika dilihat dari rupiahnya mungkin orang akan memiliki pandangan berbeda. Mungkin ada yang berpendapat,"Ah, cuma segitu aja sudah bahagia."

Satu hal yang menjadi catatan saya dalam perbincangan tersebut adalah rasa bahagia. Berapa pun yang diperoleh anak-anaknya disyukuri. Tidak memandang dari siapa dan berapa nominalnya. Diceritakan pula bahwa yang memberi juga bukan orang yang kaya raya, namun ingin berbagi dan memberikan  kebahagiaan bagi anak-anaknya. 

Berapa sih besarnya salam tempel yang bisa membuat bahagia?

Memang nominal yang besar akan membuat berbahagia. Akan tetapi, jika pemberian tanpa rasa ketulusan mungkin akan terasa berbeda bagi si penerima. Inilah yang membuat saya terkesan dan  belajar untuk bersyukur dalam setiap hal. Kadangkala jika ada sesuatu tidak sesuai rencana, betapa mudahnya untuk menggerutu. Bersyukur saat keadaan baik-baik saja adalah hal biasa yang dilakukan manusia. Semua orang pasti dapat melakukannya. Bersyukur saat keadaan tidak baik-baik saja, itu yang luar biasa.

Pada saat kecil, saya mendapatkan salam tempel yang berupa koin. Nenek saya sengaja menyiapkan koin dalam beberapa kantong untuk para cucunya. Saya berbahagia tanpa tahu berapa jumlahnya. Sekarang, uang koin mungkin jarang digunakan untuk salam tempel. Saat lebaran, biasanya orang akan menukarkan uang baru dalam pecahan 2000, 5000, 10000, atau 20000. Anak yang masih kecil biasanya sangat bahagia saat mendapat uang dalam jumlah banyak tanpa tahu nominal.

Kenangan masa kecil kembali menyadarkan saya betapa pentingnya rasa bahagia. Ada hal-hal sederhana yang bisa membuat kita berbahagia, namun kadang terlupa. 

Ada tiga hal yang dapat saya pelajari dari kisah salam tempel saat lebaran:

1. Belajar Berbahagia Seperti Anak Kecil

Seorang anak kecil akan selalu berbahagia dengan apa yang diterima. Sedikit atau banyak pemberian, selalu mendatangkan bahagia. Sikap seperti ini mendatangkan rasa syukur atas segala hal yang terjadi dalam hidup kita.

Jika mau dihitung sejak membuka mata, betapa banyak berkat Tuhan yang telah kita terima. Masih dipercayakan napas kehidupan atau berkumpul bersama orang-orang terkasih, menyadarkan bahwa hidup ini perlu berharga dan perlu dipergunakan dengan baik.

2. Memberi Berdasarkan Ketulusan Hati dan Kemampuan

Menerima pemberian dari orang yang berkelimpahan dianggap sebagai suatu hal yang biasa atau wajar. Akan tetapi, jika sebuah pemberian berasal dari orang yang tidak berkelimpahan, atau bahkan kekurangan, itu sebuah hal luar biasa.

Dalam memberi, ada hal yang utama, yaitu ketulusan hati. Walaupun jumlah pemberian sedikit, jika diberikan dengan ketulusan, si penerima juga akan merasakan bahagia. Memberilah bukan karena paksaan, gengsi, atau sekadar ikut-ikutan. Ada kebahagiaan tersendiri saat bisa memberi berdasar kemampuan. Tak ada beban saat pemberian telah diberikan.

3. Belajar Bersyukur dari Hal-Hal Sederhana

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun