Mohon tunggu...
Selvia Indrayani
Selvia Indrayani Mohon Tunggu... Guru, penulis, wirausaha, beauty consultant.

Selvia Indrayani merupakan salah seorang pengajar di salah satu sekolah di ibu kota. Kegemarannya memasak dan menulis ditekuni sejak masih muda. Berbagai hasil tulisannya dibukukan ke dalam antalogi cerpen dan antalogi puisi.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Festival Thong-Tong Lek yang Dirindukan Masyarakat Rembang Saat Ramadan

16 April 2021   16:41 Diperbarui: 16 April 2021   17:04 503 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Festival Thong-Tong Lek yang Dirindukan Masyarakat Rembang Saat Ramadan
Foto:https://rembangkab.go.id/

Bagi masyarakat Rembang, pastinya sudah tidak asing mendengar kata thong-thong lek. Thong-thong lek merupakan salah satu kesenian tradisional yang selalu menghiasi bulan Ramadan. Acara ini selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat Rembang.

Istilah thong-thong lek sendiri berasal dari kata kentongan dan melek. Kentongan merupakan sepotong bambu yang dilubangi dan biasa digunakan untuk membangunkan orang sahur agar melek (terbangun).

Festival thong-thong lek terdiri dari seperangkat kentongan dan berbagai alat musik ritmis. Ada pula yang kreatif menggunakan galon air mineral untuk alat musik. Alat musik ritmis tersebut dipadukan dengan berbagai alat musik elektronik untuk menghasilkan alunan musik indah. Tentunya hal ini disesuaikan pula dengan ketetapan dari panitia. Biasanya lagu-lagu yang dibawakan bertema religi, lagu daerah, atau lagu nasional.

Acara ini biasanya dilakukan pada menjelang Idul Fitri. Peserta lomba telah mendaftarkan kelompok thong-thong lek mereka kepada panitia jauh hari sebelumnya. Setiap kelompok akan berlatih hingga festival thong-thong lek tiba.

Pada hari perlombaan, peserta akan berkumpul di tempat yang telah ditentukan sebagai garis start. Biasanya lomba dimulai dari alun-alun kota Rembang. Setiap kelompok berjalan sesuai nomor urutan melewati jalan-jalan besar yang telah ditetapkan panitia hingga ke garis finish.

Mengutip dari laman https://rembangkab.go.id/, pada tahun 2017 terdapat 18 peserta yang mengikuti lomba. Sementara dari laman https://www.rembangcyber.net/, terdapat 26 grup yang mengikuti festival pada tahun 2019. Jumlah peserta festival ini dapat berubah setiap tahun tergantung dari animo masyarakat.

Setiap grup berusaha tampil prima di depan masyarakat dan juri. Mereka mengemas lagu, tata panggung, tata lampu, dan kostum sebaik mungkin. Terdapat satu atau dua mobil yang dijadikan panggung berjalan. Di mobil tersebut diberi tata lampu yang menarik, speaker, mesin diesel, dan berbagai alat musik yang digunakan. Peserta yang memainkan musik ada yang berada di atas mobil dan ada pula yang berjalan di belakang mobil.

Saat festival thong-thong lek berlangsung, masyarakat kota Rembang menyambut dengan sangat antusias. Mereka memadati pinggir jalan yang dilewati oleh arak-arakan thong-thong lek.  Jika rumah mereka dilewati arak-arakan, biasanya mereka menyiapkan kursi di depan rumahnya. Sebagian besar masyarakat menggelar tikar atau koran sebagai alas duduk di pinggir jalan. Walaupun tidak saling megenal, masyarakat dapat bercengkerama dengan akrab berkat adanya kesenian ini.

Festival ini mendatangkan berkah bagi beberapa orang, misalnya para pedagang keliling. Mereka bisa menjajakan dagangannya di sepanjang jalan sambil menikmati acara. Beberapa orang memilih menjadi tukang parkir dadakan karena banyak masyarakat yang menitipkan sepeda, motor, atau mobil  mereka agar bisa melihat kesenian khas Rembang ini.

Acara ini biasanya dilangsungkan setelah salat Tarawih. Jumlah peserta dan rute keliling memengaruhi waktu festival. Tak heran jika acara bisa selesai hingga tengah malam. Meskipun demikian, masyarakat kota Rembang tetap menanti dengan antusias.

Pada zaman dahulu, pemenang lomba thong-thong lek ini mendapatkan hadiah berupa kambing. Seiring dengan perkembangan zaman, hadiah uang tunai juga menyertai para pemenang lomba ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x