Mohon tunggu...
Chatarina Selinka
Chatarina Selinka Mohon Tunggu... hi people

selamat pagi siang dan malam

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Review Peluncuran Teh Ndeso Paguyuban Tani Lestari

23 Oktober 2019   22:25 Diperbarui: 23 Oktober 2019   22:36 0 0 0 Mohon Tunggu...

Review acara peluncuran teh ndeso

Hari Kamis tanggal 17 Oktober merupakan hari yang dipilih oleh paguyuban tani lestari untuk meluncurkan produk teh rakyat yang diproduksi oleh petani teh di Klaten Jawa Tengah. Peluncuran teh ndeso di laksanakan di ruang Auditorium kampus 4 Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Acara berlangsung kurang lebih 3 jam, yang bertemakan "Membangun Budaya dan Tradisi Baru Teh Indonesia" dihadiri oleh beberapa tokoh pendiri paguyuban tani lestari dan teh ndeso yaitu bapak Aris, bapak Waras serta bapak Panggah Susanto selaku anggota DPR RI.

Acara ini disambut oleh bapak Bambang Kusumo selaku dekan FISIP UAJY. Perjalanan teh ndeso ini cukup panjang sejak tahun 2006-2008 teh ndeso memulai bisnis teh ndeso ini, tahun 2011-2013 terlibat dalam sertifikat legal wood mengadopsi sertifikasi Lestari.

Peluncuran teh ndeso diisi beberapa pembicara yang membahas seputar teh. Disini saya mendapatkan pengetahuan sejarah teh, kondisi perkebunan teh anggota tani di paguyuban tani lestari, jenis-jenis teh yang dijual oleh teh ndeso. Ternyata teh mempunyai jenis yang beragam diantaranya ada teh hitam, teh hijau dan teh putih.

Dalam acara seminar ini peserta juga dilihatkan bagaimana cara menyeduh teh yang menciptakan sensasi tersendiri bagi para penikmatnya. Tidak berhenti disitu teh ndeso juga memberi tester beberapa jenis teh ndeso kepada peserta seminar untuk dicoba. Rasa teh yang dirpoduksi petani Jawa Tengah memang mempunyai cita rasa yang berbeda dan keistimewaan disetiap tegukan.

Dalam seminar ini selain promosi atas launchingnya teh ndeso para peserta juga dihimbau untuk bangga meminum teh dan melesterikan tradisi minum teh. Karena dibeberapa daerah maupun negara tetangga mempunyai tradisi minum teh yang sudah turun temurun misalkan Budaya Patehan yang ada di Keraton Yogyakarta, Teh Poci gula batu didaerah pesisir, Nyaneut di Sunda dan Nyahi di Betawi.

Dalam pembicaraan dijelaskan bagaimana keadaan sebenarnya perkebunan teh milik para petani yang keadaan tanamannya sudah bolong-bolong, tidak subur dan harus mengalami peremajaan. Keadaan Ini berbeda jauh dengan perkebunan yang dikelola oleh perusaan milik swasta maupun negeri.

Ditambah penghasilan petani dari memetik teh masih rendah. Diharapkan masyarakat khususnya para kaum milenial dalam menggunakan media sosial untuk menyebarkan budaya minum teh rakyat dan membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani teh rakyat