Mohon tunggu...
Seliara
Seliara Mohon Tunggu... Setetes embun pagi

Hidup untuk memberi manfaat

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Hachiko dan Rasa Kehilangan yang Hanya Dimengerti oleh Pemilik Hewan Peliharaan

8 April 2021   00:10 Diperbarui: 8 April 2021   00:15 209 8 3 Mohon Tunggu...

Sayangilah apa yang ada di sisimu
karena kau tak pernah tahu kapan, entah kau atau dia
akan pergi untuk perjalanan abadi
Peluklah dan katakan sayang, selagi masih ada waktu

Hari ini, 8 April, di Jepang diperingati sebagai Hari Hachiko. Hachiko adalah nama seekor anjing jenis Akita inu  yang setiap hari selalu datang ke Stasiun Shibuya. Dia datang untuk menjemput tuannya yang pulang dari mengajar. 

Melihat sang tuan keluar dari pintu stasiun adalah hal yang menyenangkan bagi Hachiko, dia akan menciumi tuannya dan mereka akan pulang bersama. Tapi hari itu Hachiko tidak bertemu dengan tuan yang disayanginya. 

Besoknya dia datang lagi. Dia tetap tidak bertemu dengan wajah dan sosok yang dicarinya. Hachiko tidak menyerah. Dia tetap melakukan hal yang sama setiap harinya, datang ke Stasiun Shibuya, menunggu sang tuan datang dan berharap bisa pulang bersama. Tapi harapan Hachiko tak pernah menjadi kenyataan, hingga maut menjemputnya.

Kesetiaan Hachiko ini menjadi kisah yang terkenal di Jepang. Menurut sejarah, kisah Hachiko dimulai saat dia diadopsi oleh Profesor Ueno, seorang ilmuwan pertanian yang mengajar di Universitas Tokyo. Profesor Ueno sangat menyayangi Hachiko kecil. Mereka sering bermain dan menghabiskan waktu bersama. Saat beranjak dewasa, Hachiko sering mengantar Profesor Ueno berangkat mengajar. Hachiko mengantar sampai ke Stasiun Shibuya, dan akan menjemputnya pada sore hari, ketika sang profesor pulang.

Pada 21 Mei 1925, Hachiko tidak melihat Profesor Ueno di Stasiun Shibuya, saat kereta tiba sore itu. Ternyata saat berada di kampus, Profesor Ueno mengalami stroke dan meninggal dunia. Hachiko menunggu hingga keesokan harinya. Saat berada di rumah duka tidak ada cara untuk memberi tahu anjing malang itu apa yang terjadi dengan tuannya. Profesor itu meninggal karena stroke dan tidak akan pernah turun dari kereta.

Keesokan harinya, Hachiko tetap pergi ke Stasiun Shibuya dan menunggu Profesor Ueno keluar dari stasiun. Tapi sejak hari itu, Profesor Ueno tak pernah ditemuinya. Hachiko pulang dan datang lagi keesokan harinya, tapi sang profesor tetap tak pernah turun dari kereta. Tahun pertama adalah tahun yang berat bagi Hachiko. Dia dianggap anjing liar dan sering diusir dari stasiun. 

Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu Profesor Ueno di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. 

Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari (Kisah Anjing Tua yang Tercinta). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan tuannya. 

Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran kō (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.

Untuk mengenang kesetiaan Hachiko, akhirnya di Stasiun Shibuya dibuat patung Hachiko. Saat peresmian patung itu, Hachiko ikut hadir menyaksikannya.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN